Terbit: 20 February 2023 | Diperbarui: 8 April 2023
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Kesibukan sehari-hari sering kali membuat seseorang sengaja menunda untuk berbuka. Jika dilakukan terlalu sering, ternyata kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan. Apa saja bahayanya bagi tubuh? Simak penjelasan lengkapnya dalam ulasan berikut ini.

Jangan Disepelekan, Inilah Bahaya Menunda Buka Puasa bagi Tubuh

Dampak Buruk Menunda Berbuka Puasa pada Kesehatan

Selain tidak dianjurkan secara agama, menunda waktu berbuka juga memiliki dampak buruk bagi tubuh. Oleh sebab itu, Anda perlu berbuka puasa dahulu sedikit segera setelah azan magrib berkumandang dan kemudian konsumsi makanan utama setelah salat.

Berikut ini adalah beberapa dampak yang akan terjadi pada tubuh akibat menunda buka puasa, di antaranya:

1. Hipoglikemia 

Hipoglikemia merupakan kondisi di mana kadar gula (glukosa) dalam darah terlalu rendah. Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang tidak makan selama 8 jam atau lebih. 

Ketika mengalami hipoglikemia, otot dan sel otak tidak memiliki cukup energi untuk bekerja dengan maksimal. Pada keadaan normal, tubuh biasanya memiliki jumlah gula 70 hingga 110 mg/dL. Ketika jumlah gula lebih rendah daripada batas ini, maka tubuh akan mengalami gangguan fungsi.

Beberapa ciri-ciri tubuh mengalami hipoglikemia antara lain: penglihatan kabur, pusing, detak jantung meningkat, sakit kepala, mual, dan lemas.

Baca Juga8 Cara Agar Tetap Semangat Bekerja Saat Puasa Ramadan

2. Dehidrasi yang Bertambah Parah

Dehidrasi merupakan hal yang wajar terjadi saat puasa akibat berkurangnya asupan air yang masuk ke dalam tubuh. Namun, ketika tidak segera buka puasa dengan minum air putih, maka risiko terkena dehidrasi yang lebih parah bisa meningkat. 

Dehidrasi dapat menyebabkan masalah pada fisik dan kemampuan kognitif. Kondisi ini dapat menyebabkan Anda kesulitan melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, koordinasi motorik, serta membuat keputusan.

3. Gastritis

Menunda buka puasa juga bisa berdampak pada kesehatan sistem pencernaan, salah satunya adalah gastritis. 

Gastritis merupakan inflamasi pada dinding lambung akibat cairan lambung merusak dinding yang melindungi lambung. Ketika mengalami hal ini, Anda dapat merasakan sakit pada ulu hati, mual, muntah, dan begah.

Menunda buka puasa dapat memperparah gejala gastritis. Lambung akan mengeluarkan cairan lambung pada waktu makan yang seharusnya. Ketika tidak ada makanan yang masuk, maka cairan lambung ini akan mengiritasi dinding lambung.

4. Memperlambat Metabolisme

Mungkin Anda berpikir bahwa menunda buka puasa dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, faktanya menunda makan dapat membuat tubuh mengalami penurunan metabolisme. 

Penurunan metabolisme berarti tubuh menggunakan lebih sedikit kalori untuk menghasilkan energi. Kondisi ini justru akan membuat berat badan lebih cepat bertambah. Selain itu, metabolisme yang menurun dapat membuat Anda merasa lelah, lemah, tidak bertenaga, dan sakit kepala.

Nah, itulah beberapa dampak buruk yang mungkin muncul ketika Anda menunda buka puasa. Untuk memastikan Anda bisa bisa berbuka di waktu yang tepat, selalu siapkan air putih dan makanan kecil ketika dalam perjalanan.

 

  1. Anonim. 2021. What Is IBS? https://www.nhs.uk/conditions/irritable-bowel-syndrome-ibs/. (Diakses pada 15 Februari 2023).
  2. Anonim. 2023. Non-Diabetic Hypoglycemia. https://www.drugs.com/cg/non-diabetic-hypoglycemia.html. (Diakses pada 15 Februari 2023).
  3. Akanbi, Mayowa. 2022. How Skipping Meals Does Not Directly Cause Gastritis. https://www.semichealth.com/diseases/16/how-skipping-meals-does-not-cause-gastritis. (Diakses pada 15 Februari 2023).
  4. Knowles, Kenneth. 2020. How Does Dehydration Affect the Body? https://www.dispatchhealth.com/blog/how-does-dehydration-affect-the-body/. (Diakses pada 15 Februari 2023).
  5. Kuppersmith, Nancy dan Cynthia Kennedy. 2005. Perils of Skipping Meals. https://louisville.edu/medicine/departments/familymedicine/files/L081611.pdf. (Diakses pada 15 Februari 2023).
  6. Maughan, R.J. dan Shirreffs, S.M. 2012. Hydration and performance during Ramadan. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22594964/. (Diakses pada 15 Februari 2023).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi