Terbit: 6 Januari 2022
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Metode pemberian vaksin yang saat ini masih umum digunakan untuk mengatasi virus Corona adalah melalui suntikan/injeksi intramuskuler. Namun, sejumlah peneliti di beberapa negara sedang mengembangkan vaksin COVID-19 melalui hidung. Apakah metode ini lebih efektif mencegah penyebaran virus? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Apakah Vaksin COVID-19 Semprotan Hidung Lebih Ampuh? Cek Faktanya

Mengenal Seluk-Beluk Vaksin COVID-19 Semprot Hidung

Menurut Vincent Munster, dari Virus Ecology Section of the National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) Rocky Mountain Laboratories, meski vaksin suntik dapat menginduksi antibodi yang bersirkulasi dalam darah, cara ini tidak meningkatkan antibodi mukosa yang ada di lapisan hidung.

Lantas, bagaimana dengan vaksin COVID-19 semprotan hidung? Apakah cara ini mampu menginduksi respons imun di mukosa hidung sehingga menghentikan penyebaran virus Corona?

Studi yang dilakukan Munster dan ilmuwan lain di beberapa negara mengenai vaksin COVID-19 melalui hidung tampaknya menjanjikan. Namun, studi ini baru dilakukan pada hewan. Sementara itu, uji klinis fase I pada individu yang sehat sedang berlangsung.

Penelitian yang dilakukan Munster dan para peneliti lainnya menemukan bahwa individu yang menerima vaksin COVID-19 melalui suntikan dapat terlindungi dari penyakit serius akibat SARS-CoV-2, akan tetapi masih dapat terinfeksi dan menyebarkan virus.

Sementara itu, potensi keuntungan vaksin COVID-19 nasal dibandingkan vaksin yang disuntikkan adalah kemampuannya mencegah penularan dan mudah dalam pemberian, bahkan bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Metode ini mungkin menjadi pilihan bagi orang yang memiliki fobia jarum.

Baca Juga: 8 Kondisi yang Tidak Boleh Divaksin COVID-19

Vaksin COVID-19 Melalui Hidung Lebih Efektif dibanding Suntik?

Menurut Akiko Iwasaki, peneliti dari Yale School of Medicine, kekebalan mukosa lokal yang dibentuk oleh vaksinasi intranasal menghasilkan kekebalan pelindung silang yang jauh lebih kuat dan reaktif daripada vaksin konvensional yang menggunakan injeksi intramuskuler.

Menurutnya, setelah vaksinasi intranasal dilakukan terdapat antibodi yang disekresikan ke dalam mukosa yang dikenal sebagai IgA. Antibodi IgA ini melapisi selaput dan permukaan lendir, serta melindungi inang dengan mencegahnya masuk ke dalam tubuh. Hal ini diibaratkan seperti menempatkan penjaga di luar pintu, bukan di dalam pintu tempat antibodi biasanya bekerja.

Perlu Anda ketahui, pada dasarnya terdapat dua kompartemen dari sistem kekebalan tubuh. Salah satunya adalah kompartemen sirkulasi sistemik tempat sel T dan sel B serta antibodi bersirkulasi dan memeriksa infeksi.

Sedangkan kompartemen yang sama sekali berbeda adalah kompartemen mukosa di mana Anda dapat mengimunisasi dan menginduksi respon imun di dalam permukaan mukosa. Hal ini memungkinkan respons imun lokal muncul.

Jadi, pemberian vaksin COVID-19 melalui hidung membuat antibodi sel T dan sel B fokus pada membran mukosa hidung. Dikarenakan berada di tempat di mana patogen masuk, hal tersebut dapat membuat vaksin bertindak jauh lebih cepat, lebih efektif, dan lebih luas menghalau berbagai varian virus.

Meski studi yang dilakukan Iwasaki ini berfokus pada virus influenza, ia mengungkapkan bahwa metode ini juga bisa digunakan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

 

  1. Forman, Robert. 2021. Nasal Vaccination May Protect Against Respiratory Viruses Better Than Injected Vaccines. https://medicine.yale.edu/news-article/nasal-vaccines-may-protect-against-respiratory-viruses-better-than-injected-vaccines/. (Diakses pada 6 Januari 2022).
  2. Rubin, Rita. 2021. Trying to Block SARS-CoV-2 Transmission With Intranasal Vaccines. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2785303. (Diakses pada 6 Januari 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi