Terbit: 30 Mei 2022 | Diperbarui: 31 Mei 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pemeriksaan glaukoma sebaiknya dilakukan sejak dini guna mencegah komplikasi mata. Jika tidak, kerusakan saraf mata akibat glaukoma dapat bersifat permanen. Kenali seputar tes glaukoma mata melalui ulasan berikut!

Mengenal Pemeriksaan Glaukoma, Kapan Harus Dilakukan?

Mengenal Pemeriksaan Glaukoma

Glaukoma adalah kerusakan pada saraf mata yang dapat mengakibatkan kebutaan. Kondisi ini umumnya terjadi akibat tekanan berlebih yang tidak normal pada mata. Seiring berjalannya waktu, kondisi bisa memburuk dan menyebabkan kebutaan.

Glaukoma lebih berisiko terjadi pada orang dengan riwayat keluarga glaukoma sebelumnya. Selain itu, risiko juga akan meningkat pada orang-orang dengan kondisi berikut:

  • Orang kulit hitam.
  • Nenek moyang dari Asia Timur.
  • Riwayat rabun jauh.
  • Pernah mengalami cedera mata atau operasi mata yang rumit.
  • Diabetes.
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi).
  • Pernah mengonsumsi kortikosteroid.
  • Berusia di atas 40 tahun.

Karena dampaknya bersifat permanen alias menetap, maka Anda sebaiknya mencegah glaukoma sebelum kondisi ini menyerang. Salah satu caranya adalah dengan melakukan skrining pemeriksaan penunjang glaukoma.

Pemeriksaan akan melibatkan satu tes atau beberapa tes. Prosedurnya berlangsung cepat, tidak menyakitkan, dan non-invasif (tidak masuk ke dalam tubuh).

Baca Juga7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Membuat Mata Anda Rusak

Jenis-jenis Pemeriksaan Glaukoma

Jika Anda berisiko terhadap glaukoma, berikut ini adalah sejumlah pemeriksaan yang akan dilakukan:

1. Tonometri

Tonometri adalah tes untuk mengukur tekanan di dalam mata yang dinamakan tekanan intraokular (IOP). Tekanan intraokular (TIO) alias tekanan pada bola mata dapat menambah risiko terkena glaukoma.

Prosedur ini diawali dengan pemberian obat tetes mata. Efek yang akan Anda rasakan berupa mata yang mati rasa. Selanjutnya, tonometer digunakan untuk mengukur tekanan bagian dalam mata.

Tekanan yang normal berkisar antara 12-22 mm Hg, sedangkan tekanan mata yang menunjukkan glaukoma bisa melebihi 20 mm Hg.

Jika hasil tes abnormal, dokter akan merekomendasikan tes penunjang lain untuk menegakkan diagnosis.

2. Perimetri

Pemeriksaan glaukoma berikutnya adalah perimetri. Tes ini bertujuan untuk mengetahui jangkauan penglihatan atau lapang pandang mata Anda.

Jika memiliki gangguan mata ini, kemungkinan lapang pandang Anda terganggu. Lapang pandang sendiri adalah area visual yang dapat dilihat oleh mata saat melihat lurus ke depan.

Pada saat melakukan tes, dokter akan meminta Anda untuk melihat ke depan, ke arah titik cahaya.

Titik cahaya kemudian akan dipindahkan ke berbagai penglihatan tepi. Namun, Anda akan diminta untuk terus melihat ke depan. Selanjutnya, dokter akan bertanya mengenai letak titik cahaya tersebut.

Selain itu, dalam pengujian visual, dokter dapat menggunakan metode lain, misalnya melihat pola garis. Anda akan diminta untuk menjelaskan apakah ada area yang terlihat buram atau kosong.

3. Pakimetri

Hasil pemeriksaan tonometri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya ketebalan kornea mata. Nah, agar diagnosisnya tepat, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang glaukoma, yaitu pakimetri.

Pakimetri adalah tes untuk mengetahui ketebalan kornea mata. Dengan begitu, dokter mata dapat menentukan risiko glaukoma.

Pemeriksaan hanya berlangsung sebentar, yakni sekitar satu menit. Waktu ini lebih dari cukup untuk mengukur ketebalan kornea dua buah mata.

4. Gonioskopi

Gonioskopi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk memeriksa bagian depan mata Anda, tepatnya di tempat pertemuan antara iris dan kornea.

Iris adalah jaringan berwarna di bagian depan mata yang berisi pupil. Iris dapat berkontraksi dan mengembang menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.

Selain memperbolehkan cahaya untuk masuk ke mata, iris mata juga menentukan warna mata seseorang.

Sementara itu, kornea mata merupakan bagian mata yang transparan. Keberadaannya menutupi iris dan pupil dan memungkinkan cahaya untuk masuk ke dalam.

Gonioskopi akan membantu menentukan apakah sudut pertemuan antara keduanya terbuka atau tertutup.

Jika sudut terbuka, maka bisa dipastikan Anda mengalami glaukoma kronis. Jenis glaukoma ini berkembang perlahan. Sementara itu, jika sudut tertutup, kemungkinan Anda mengalami glaukoma akut. Tipe glaukoma ini terjadi secara mendadak.

5. Oftalmoskopi

Pemeriksaan glaukoma yang satu ini bertujuan untuk mengetahui warna dan bentuk saraf optik. Dengan begitu, glaukoma dapat terdeteksi.

Dokter akan memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil. Setelah itu, sebuah alat akan digunakan untuk memperbesar saraf optik tersebut. Alat ini dilengkapi dengan lampu pada bagian ujungnya.

Apabila warna dan bentuk saraf optik tidak normal, lalu tes tonometri juga menunjukkan tekanan bola mata yang tidak normal, pemeriksaan penunjang kemungkinan Anda butuhkan.

Baca JugaCara Menghilangkan Urat Merah di Mata dengan Mudah dan Praktis

Kapan Waktu yang Baik untuk Melakukan Pemeriksaan Glaukoma?

American Academy of Ophthalmology (AAO) menyarankan orang-orang yang berisiko terhadap glaukoma mengikuti pemeriksaan dengan anjuran berikut:

  • Usia 40-54: satu hingga tiga tahun sekali.
  • Usia 55-64: satu hingga dua tahun sekali.
  • Usia 65-ke atas: enam hingga 12 bulan sekali.

Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), pemeriksaan glaukoma sebaiknya dilakukan secara berkala dengan aturan sebagai berikut:

  • Usia sebelum 40 tahun: setiap 2-4 tahun.
  • Usia sesudah 40 tahun: setiap 2 tahun.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma: Setiap 1 tahun.

Umumnya, pemeriksaan glaukoma tergolong aman dan tidak berisiko. Anda kemungkinan akan mengalami penglihatan buram atau mata yang lebih sensitif selama beberapa saat setelah pelaksanaan tes. Gejala ini akan membaik seiring berjalannya waktu.

 

  1. Anonim. 2018. Kapan Seseorang Perlu Melakukan Skrining Glaukoma? http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/gangguan-indera-fungsional/page/5/kapan-seseorang-perlu-melakukan-skrining-glaukoma. (Diakses pada 30 Mei 2022).
  2. Anonim. 2020. Tonometry. https://www.healthline.com/health/tonometry. (Diakses pada 30 Mei 2022).
  3. Anonim. Cornea. https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/cornea. (Diakses pada 30 Mei 2022).
  4. Anonim. Glaucoma Tests. https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/22514-glaucoma-tests#. (Diakses pada 30 Mei 2022).
  5. Anonim. Glaucoma. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glaucoma/symptoms-causes/syc-20372839. (Diakses pada 30 Mei 2022).
  6. Anonim. Iris. https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/iris. (Diakses pada 30 Mei 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi