Terbit: 1 Desember 2021 | Diperbarui: 18 Februari 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Mengalami varises tentu sangat mengganggu penampilan dan kesehatan. Apalagi banyak fakta dan mitos varises yang beredar di masyarakat yang malah membuat bingung. Artikel ini akan membahas mitos varises yang harus dicari tahu kebenarannya.

Mencari Tahu Kebenaran 6 Mitos Varises yang Banyak Beredar

Mencari Tahu Kebenaran Mitos-Mitos Varises

Varises adalah kondisi di mana pembuluh vena tidak berfungsi dengan baik. Pembuluh ini bertugas mengalirkan darah ke jantung dan memiliki katup untuk mencegah aliran darah kembali ke organ.

Pada orang yang terkena varises, katup di pembuluh darah vena ini sudah tidak berfungsi untuk mendorong dan mencegah darah kembali. Akhirnya darah akan berkumpul di pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah meregang dan membengkak.

Varises lebih sering terjadi di kaki karena letak vena di kaki jauh dari jantung, sehingga menjadikan darah semakin sulit naik. Namun ada beberapa lokasi organ tubuh lain tempat varises ini bersarang, misalnya di skrotum, dinamakan varikokel.

Tentunya ini mengganggu kesuburan seorang pria juga, lho.  Nah, karena pentingnya mengetahui varises untuk kesehatan, maka DokterSehat mau membagikan fakta untuk mengusir mitos varises yang beredar di masyarakat.

Berikut adalah 6 mitos varises yang harus diketahui dulu kebenarannya:

1. Varises hanya mengganggu penampilan, bukan kesehatan?

Ini adalah mitos yang benar-benar menyesatkan. Varises memang mengganggu penampilan.

Urat-urat yang menonjol dan kehijauan di kaki bukan pemandangan yang enak dilihat, terutama jika penderitanya sering memakai celana atau rok pendek.

Namun, varises juga adalah masalah kesehatan yang harus ditangani dengan cepat. Darah yang terkumpul bisa menggumpal dan menyebabkan kondisi flebitis superfisial.

Varises juga dapat menyebabkan chronic venous insufficiency. Penyakit ini dapat menyebabkan pembuluh darah di kaki meradang lalu pecah dan menyebabkan komplikasi infeksi serius.

Gejala varises yang telah menuju fase chronic venous insufficiency adalah:

  • Tungkai kaki membengkak dan kulitnya menggelap.
  • Betis terasa sakit dan gatal, terasa nyeri ketika dibawa berjalan. Namun saat beristirahat nyeri tersebut menghilang.
  • Muncul luka yang sangat sulit sembuh pada tungkai.
  • Tungkai beberapa kali bergerak sendiri tanpa perintah otak.

Varises juga dapat menyebabkan borok pada kulit yang terserang. Namun, hanya 10% pasien yang sampai pada fase ini.

2. Varises hanya timbul di kaki saja?

Ini juga mitos yang salah. Varises bisa timbul di tangan, kaki, bahkan organ vital seperti skrotum. Varises yang muncul di permukaan kulit dapat terlihat dengan jelas.

Namun varises yang muncul di tempat yang lebih dalam—apalagi pada mereka yang memiliki lemak yang banyak di antara otot dan  kulit—gejala varieses tidak akan terlihat.

Jika tungkai-tungkai sering terasa bengkak, kesemutan namun tidak terlihat tanda varises, sebaiknya periksakan diri ke dokter.

3. Varises hanya dialami oleh wanita lanjut usia?

Tidak benar. Pria juga bisa mengalami varises dengan faktor risiko yang sama dengan wanita.

Mereka yang memiliki riwayat varises di keluarga, mengalami obesitas, dan gaya hidup tidak sehat berpotensi mengalami varises—baik pria ataupun wanita.

Faktor usia bagi pria maupun wanita menambah kemungkinan varises. Karena semakin lanjut usia seseorang, pembuluh darah akan semakin rentan melebar.

4. Setelah melahirkan wanita akan mengalami varises?

Wanita memang memiliki faktor risiko lebih banyak untuk mengalami varises, misalnya karena hamil dan melahirkan. Namun, mitos varises setelah melahirkan ini tidak sepenuhnya benar.

Wanita hamil dan melahirkan dapat menjaga diri agar tidak terkena varises dengan mengatur posisi dan postur tubuh.

Jangan terlalu sering berdiri dalam jangka waktu lama karena berat badan yang meningkat drastis saat hamil dapat menyebabkan vena di kaki meregang.

5. Varises disebabkan karena terlalu lama berdiri dan menyilangkan kaki?

Berdiri terlalu lama memang membuat kaki mudah pegal dan kesemutan, bahkan membengkak. Begitu juga dengan kebiasaan menyilangkan kaki dalam waktu lama.

Berdiri dalam waktu lama tidak serta merta menyebabkan varises, tetapi dapat memperburuk gejalanya.

Varises terjadi dalam proses yang lama dan perlahan. Berdiri terlalu lama dan menyilangkan kaki—jika sering dilakukan dan dalam durasi panjang—akan meningkatkan risiko varises. Namun bukan menjadi satu-satunya alasan seseorang pasti akan mengalami varises.

Baca Juga: 12 Penyebab Varises dan Cara Mengobatinya!

6. Varises harus disembuhkan oleh operasi?

Tentu tidak. Ada berbagai cara untuk menyembuhkan varises.

Dalam operasi, pembuluh vena yang bermasalah akan dihilangkan. Namun bukan berarti varises akan sembuh setelah itu. Operasi pun harus dilakukan berulang kali untuk menghilangkan keluhan secara menyeluruh.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan dan mengurangi gejala varises:

  • Menjaga berat badan

Mereka yang mengalami obesitas rentan mengalami varises. Karena tekanan berat badan berlebih pada tungkai terutama kaki akan menyebabkan tekanan pada pembuluh darah juga.

  • Stoking kompresi

Stoking kompresi adalah stoking khusus untuk menekan pembuluh vena agar tidak terlalu meregang. Stoking ini akan membatasi aliran darah ke pembuluh vena yang sudah bermasalah.

Stoking kompresi bukan cara untuk menyembuhkan varises. Melainkan untuk mengurangi keluhan nyeri dan mencegah varises meluas ke pembuluh vena lainnya.

  • Olahraga

Berolahraga dapat mengurangi gejala dan keluhan varises karena olahraga dapat memperlancar aliran darah. Namun pilih olahraga yang tidak terlalu memberatkan tungkai yang terkena varises.

Jenis olahraga yang aman adalah peregangan, berenang dan berjalan kaki. Konsultasikan dahulu pada dokter sebelum memilih olahraga yang ingin dilakukan.

  • Terapi

Salah satu jenis terapi untuk mengatasi varises adalah skleroterapi. Skleroterapi adalah metode dengan menyuntikkan sclerosant ke dalam pembuluh darah yang terkena varises.

Terapi ini dapat mengurangi varises pada vena yang diberi sclerosant. Namun, tidak menutup kemungkinan vena lain yang telah meregang mengalami varises juga.

  • Pengobatan medis lainnya

Beberapa pengobatan medis lainnya dilakukan pada pembuluh vena yang terkena varises, yaitu:

  1. Venaseal, dengan mengoleskan lem khusus pada bagian dalam vena untuk menutupnya.
  2. Varithena, dengan menyuntikkan obat ke dalam vena untuk merusak lapisan dalamnya dan menutup pembuluh vena.
  3. Clarivein, dengan memasukkan kateter berisi obat. Obat lalu dilepaskan dalam lingkaran 360 derajat di dalam vena dengan berputar. Tujuannya adalah merusak vena dan menutupnya.

Baca Juga: Varises Esofagus: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Walaupun ada banyak cara untuk mengobati dan mengurangi varises, nyatanya varises tidak bisa disembuhkan total selamanya. Namun pasien masih bisa meningkatkan kualitas hidup dengan menjaga pola makan dan kebiasaan.

Beberapa mitos dan fakta varises di atas penting diketahui agar penanganan varises dapat dilakukan dengan tepat. Mulai sekarang jangan remehkan lagi gejala dan ancaman varises.

 

  1. Azura Vascular Care. 2017. The Top 10 Myths about Varicose Veins. https://www.azuravascularcare.com/infoveins/varicose-veins-top-10-myths/. (Diakses pada 25-11-2021).
  2. Overton, Caroll. 2017. Common Myths about Varicose Veins. https://www.wakerad.com/expert-feature/common-myths-varicose-veins/. (Diakses pada 25-11-2021).
  3. Vayuvegula, Satish. 2019. Busting 7 Myths About Varicose Veins. https://www.veinclinics.com/blog/7-varicose-veins-myths/. (Diakses pada 25-11-2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi