Terbit: 31 Desember 2021
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kenapa tulisan dokter jelek dan sulit dibaca? Bagaimana cara membaca tulisan dokter? Simak pembahasannya berikut ini!

Kenapa Tulisan Dokter Jelek dan Sulit Dibaca? Ini Faktanya!

Kenapa Tulisan Dokter Jelek?

Kesalahan penafsiran tulisan dokter dapat berakibat fatal bagi pasien. Bahkan menurut riset yang dilakukan oleh Chaturvadi (2018), tulisan dokter yang jelek dan sulit dibaca ini menjadi penyebab dari 7.000 kasus kematian pasien di India. Fatal? Tentu saja.

Pertanyaannya, kenapa tulisan dokter jelek? Apakah hal tersebut memang disengaja agar pasien tidak mengetahui jenis dan dosis obat yang dikonsumsi? Atau, apakah hal tersebut disengaja agar pasien tidak mengkonsumsi obat sembarangan?

Berdasarkan riset dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa alasan kenapa tulisan dokter sulit dibaca:

1. Bias Gender

Alasan pertama yang mungkin mendasari jawaban atas pertanyaan kenapa tulisan dokter jelek adalah bias gender. Alasan ini diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Schneider, dkk (2006) dengan judul “Legibility of doctors’ handwriting is as good (or bad) as everyone else’s”.

Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa sebenarnya tulisan tangan dokter sama saja dengan tulisan tangan profesi lainnya. Hanya saja, dari hasil penelitian menyebutkan 40% tulisan pria lebih sulit dibaca daripada 20% tulisan wanita.

Di sisi lain, data WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa jumlah dokter pria lebih banyak dibanding wanita. Sehingga wajar apabila kebanyakan dokter memiliki tulisan tangan yang jelek dan sulit dibaca oleh pasien maupun apoteker.

2. Kebiasaan

Alasan kedua kenapa tulisan dokter sulit dibaca sebagaimana dikutip dari Forbes, menyatakan bahwa hal tersebut dikarenakan kebiasaan para dokter yang sudah terbentuk sejak mereka duduk di bangku kuliah.

Kebiasaan tersebut meliputi mencatat materi yang diajarkan oleh dosen mereka dalam jumlah banyak dan cepat sehingga mereka mudah merasa lelah. Hal inilah yang membuat mereka terbiasa dengan gaya tulisan yang hanya bisa dibaca oleh mereka.

Namun, pendapat tersebut disanggah oleh dr. Gary Larson. Dalam pernyataannya, dr. Gary Larson menyebutkan bahwa sejak tahun 1970-an mahasiswa kedokteran sudah tidak lagi mencatat materi dengan cara menulis.

Meski demikian, tak sedikit orang yang percaya bahwa memang gaya tulisan dokter yang jelek dan sulit dibaca ini disebabkan oleh kebiasaan para dokter.

Baca Juga: Latrophobia, Ketakutan Berlebih pada Dokter dan Tenaga Kesehatan

3. Tergesa-gesa

Alasan ketiga, kenapa tulisan dokter sulit dibaca adalah tergesa-gesa. Dikutip dari National Medical Journal of India, seorang dokter rata-rata bekerja selama 10 hingga 12 jam per hari dengan rata-rata waktu kunjungan pasien hanya dibatasi selama beberapa menit guna meminimalisir penumpukan antrian pasien.

Dalam kurun waktu tersebut, para dokter juga harus menuliskan riwayat medis, klaim asuransi, dan resep obat yang bisa sampai berlembar-lembar apalagi untuk dokter bedah.

Hal inilah yang membuat para dokter akhirnya harus menuliskan secara cepat dan tentu saja dampaknya hal tersebut akan membuat tulisan tangan menjadi berantakan dan sulit dibaca.

Bagaimana Cara Membaca Tulisan Dokter?

Tulisan dokter memang biasanya hanya dapat dibaca oleh apoteker karena mereka memahami istilah medis yang ditulis di resep pasien. Para calon apoteker bahkan dididik untuk mempelajari bagaimana cara membaca tulisan dokter pada mata kuliah tertentu.

Meski demikian, tak jarang pula para apoteker membuat kesalahan dengan membuat resep obat yang tidak sesuai. Kesalahan tersebut otomatis berdampak terhadap kondisi pasien setelah mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter.

Sebagai wujud antisipasi terhadap hal yang tidak diinginkan sekaligus memastikan dengan betul maksud tulisan tangan dokter yang tertera di resep, maka biasanya apoteker akan melakukan beberapa prosedur berikut:

1. Terminologi Medis

Para apoteker biasanya berusaha memahami tulisan dokter yang tertera pada resep berdasarkan pengetahuan mereka tentang terminologi medis yang digunakan oleh dokter saat menulis resep.

Jika masih kurang yakin, para apoteker yang masih berstatus pemula akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan apoteker yang lebih senior untuk memastikan penafsiran mereka akurat dengan resep yang ditulis.

2. Konfirmasi Langsung

Pada beberapa kasus, alih-alih bertanya kepada apoteker senior, ada pula alternatif lain seperti melakukan konfirmasi langsung dengan dokter yang menulis resep.

Cara ini dianggap jauh lebih efektif dan akurat daripada asal menebak terminologi medis atau resep obat yang dimaksud oleh dokter.

Baca Juga: Sangat Berjasa, Kenali Tugas Perawat di Rumah Sakit

3. Rekam Medis Elektronik

Seiring dengan kemajuan era teknologi, kini para dokter diwajibkan untuk mencatat hasil rekam medis pasien dengan cara di-input melalui komputer.

Dengan demikian, maka hasil pencatatan akan menjadi lebih cepat, jelas, dan tentunya transparan bagi pasien yang ingin mencari tahu tentang riwayat medis mereka.

 

  1. National District Hospital, Bloemfontein. 2017. Illegible handwriting and other prescription errors on prescriptions at National District Hospital, Bloemfontein. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/20786190.2016.1254932. (Diakses pada 25 Desember 2021).
  2. Chaturvedi, Santos K. 2018. What’s wrong with doctors’ handwriting? https://nmji.in/whats-wrong-with-doctors-handwriting/. (Diakses pada 25 Desember 2021).
  3. Igomu, Tessy. 2021. Death by prescription: How doctors’ sloppy handwriting causes avoidable drug dispensing errors. https://healthwise.punchng.com/death-by-prescription-how-doctors-sloppy-handwriting-causes-avoidable-drug-dispensing-errors/. (Diakses pada 25 Desember 2021).
  4. Quora Contributor. 2018. Why Do Doctors Have Notoriously Bad Handwriting? https://www.forbes.com/sites/quora/2018/01/09/why-do-doctors-have-notoriously-bad-handwriting/?sh=591315731f20. (Diakses pada 25 Desember 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi