Terbit: 26 February 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Saat anak menginjak usia 2-3 tahun, Anda mungkin mengamati bahwa anak Anda memiliki sikap egois. Misalnya, anak Anda tidak mau berbagi mainan dengan teman-temannya atau menjadi tidak sabaran dan mudah ngambek. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran jika sifat ini berlanjut hingga dewasa.

Bagaimana Mengahadapi Anak yang Egois?

Sikap egois pada anak usia balita ternyata merupakan hal yang wajar. Para ahli menyatakan bahwa mulai uisa 2-7 tahun anak cenderung memiliki pola pemikiran dan komunikasi egosentris, yaitu semua hal yang dipikirkan cenderung berpusat pada dirinya. Umumnya anak pada usia tersebut merasa bahwa orang lain melihat, mendengar dan merasakan hal yang persis sama seperti yang ia rasakan.

Meskipun sikap egois dapat disebabkan oleh faktor internal, namun faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi sikap tersebut. Anak yang terlalu dimanja dan terbiasa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akibatnya, ia akan sulit untuk menerima penolakan. Sikap egois juga bisa muncul dari rasa cemburu, sehingga anak akan menggunakan keegoisan tersebut untuk mencari perhatian.

Selain itu anak juga bisa bersikap egois karena melihat contoh orang-orang di sekitarnya seperti anggota keluarganya atau temannya. Jika Anda melihat teman atau orang di sekitarnya bersikap egois, beri pengertian pada anak bahwa sikap egois tersebut tidak baik.

Untuk menghadapi sikap egois pada anak, Anda bisa melatihnya untuk berbagi. Anda bisa memberi contoh dari berbagai aktivitas di rumah. Misalnya ketika Anda memiliki kue yang enak, tawarkan pada anak Anda apakah ia ingin berbagi dengan Anda. Atau jika Anda sedang membaca buku yang menarik, Anda bisa membacanya bersama-sama dengan anak Anda. Cara-cara ini dapat membuat anak Anda paham akan konsep berbagi atau berempati.

Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengajarkan anak untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Berikan pengertian dengan mengajaknya membayangkan berada di posisi orang lain. Anda dapat mengajarinya dengan kalimat “Bagaimana kalau pensilmu yang direbut?” atau “Boleh nggak bonekamu dipinjam?”.

Anda juga dapat mengajarkan anak untuk lebih memerhatikan orang di sekitarnya. Cara ini penting untuk membuat anak paham bahwa dunia ini bukan selalu tentang dirinya. Anda bisa mencontohkannya dengan kalimat “Kakak melipatnya bagus ya, coba minta kakak mengajarimu yuk!”.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi