Terbit: 9 February 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pembahasan pada artikel berikut akan mengupas tentang apa itu sekolah inklusi dan bagaimana sekolah inklusi yang ideal. Sekolah inklusi adalah sekolah yang beroperasi berdasarkan asas persatuan tanpa memandang etnis, ekonomi, status sosial, jenis kelamin, dan latar belakang agar seluruh siswa dapat belajar secara setara di sekolah.

Sekolah Inklusi: Kesetaraan Akses Pendidikan untuk Disabilitas

Apa Itu Sekolah Inklusi?

Pendidikan adalah hak yang seharusnya diperoleh setiap anak bagaimanapun kondisi mereka. Namun terkadang, adanya keterbatasan membuat beberapa anak harus merelakan hak mereka, yakni kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan anak-anak lainnya. Di sinilah peranan sekolah inklusi dibutuhkan.

UNICEF secara sederhana mendefinisikan sekolah inklusi atau pendidikan inklusi (inclusive education) sebagai wujud dari kesetaraan hak yang seharusnya diterima oleh seluruh anak di dunia.

Hal ini berarti semua anak berhak untuk berada di kelas yang sama, di gedung sekolah yang sama, dan berbagi kesempatan belajar yang sama tanpa memandang latar belakang anak tersebut.

Meski sering dianggap identik dengan sekolah khusus penyandang disabilitas, PBB menyebutkan bahwa disabilitas sebenarnya memiliki makna yang luas dan secara umum tertuju pada kemiskinan. Jadi sekolah inklusi ini tidak hanya dikhususkan bagi penyandang disabilitas melainkan anak-anak yang tidak mampu bersekolah karena keterbatasan ekonomi.

Penyelenggaraan sekolah inklusi secara umum bertujuan untuk:

  • Memberikan pendidikan yang berkualitas sekaligus menghormati keanekaragaman kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa;
  • Memaksimalkan kecerdasan intelektual, fisik, dan sosial masing-masing siswa; dan
  • Memastikan tidak ada diskriminasi dalam dunia pendidikan.

Kendati demikian, implementasi sistem sekolah inklusi antara satu negara dengan negara lain bisa jadi berbeda. Di Indonesia, misalnya, penyelenggaraan pendidikan memungkinkan para siswa berkebutuhan khusus untuk dapat mengenyam pendidikan di sekolah umum, sebagaimana layaknya siswa biasa.

Selain itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah sebagaimana tertera dalam Undang-undang nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Disabilitas, Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menyatakan bahwa sekolah tidak dapat menolak siswa berkebutuhan khusus dengan alasan kecacatan yang dimiliki.

Kriteria Sekolah Inklusi yang Ideal

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini merupakan kriteria sekolah inklusi yang ideal antara lain:

1. Kompetensi guru

Kompetensi guru menjadi salah satu kriteria sekolah inklusi yang ideal sekaligus tantangan terbesar bagi kesuksesan penyelenggaraan sekolah inklusi.

Pasalnya, latar belakang pendidikan umumnya tidak memberikan bekal yang cukup bagi para guru mengenai bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus. Oleh sebab itu, tak sedikit guru kelas reguler menolak penyelenggaraan sekolah inklusi.

Padahal penolakan mereka terhadap siswa berkebutuhan khusus akan berdampak terhadap bagaimana siswa tersebut dapat diterima dengan baik oleh teman-temannya dan terlebih lagi, masyarakat.

Selain memicu penolakan, kompetensi guru juga sangat diperlukan untuk mengidentifikasi minat dan bakat yang dimiliki oleh siswa berkebutuhan khusus. Sebab proses ini nantinya akan sangat diperlukan untuk penyusunan master plan edukasi siswa.

2. Sarana dan prasarana

Berikutnya, sekolah inklusi yang ideal seharusnya didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini berkaitan dengan kemampuan sekolah dalam mengakomodasi kebutuhan masing-masing siswa, misalnya alat bantu dengar untuk anak tuna rungu dan buku braille untuk anak tuna netra.

Sayangnya, keterbatasan biaya masih menjadi halangan tersendiri bagi sekolah inklusi di Indonesia. Hal tersebut tentunya berdampak pada kurangnya pelayanan terhadap siswa dan dukungan dalam proses belajar-mengajar.

Disinilah perlunya kebijakan dari Pemerintah untuk menyalurkan sebagian dana anggaran untuk memperlengkapi sarana dan prasarana untuk sekolah inklusi, khususnya yang terletak di daerah pelosok, agar setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang setara.

3. Modifikasi kurikulum

Ketiga, agar sekolah inklusi yang ideal dapat terselenggara dengan baik tentunya diperlukan modifikasi kurikulum yang bertujuan untuk menyesuaikan kurikulum yang ada dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Agar setiap siswa berkebutuhan khusus memiliki kesetaraan pendidikan, maka pola pembelajaran di sekolah perlu dimodifikasi menggunakan Program Pembelajaran Individual (PPI).

Perbedaan yang paling mencolok dari pola pembelajaran tersebut adalah pentingnya para pendidik memiliki kemampuan khusus sebagaimana telah dijelaskan pada poin pertama.

Sayangnya, dari hasil monitoring sekolah inklusi oleh Direktorat PSLB ditemukan bahwa sebagian besar guru sekolah inklusi mengaku mengalami kesulitan dalam melakukan modifikasi kurikulum serta asesmen akademik dan non akademik.

Di New Zealand, pembelajaran di sekolah inklusi dilakukan oleh seorang guru dan seorang guru ahli yang secara khusus membantu siswa berkebutuhan khusus dalam menangkap materi. Di Kanada dan Italia, sebanyak 75 ribu orang guru ahli bekerjasama dengan guru dan disebar ke beberapa sekolah.

Dari negara-negara tersebut, kita bisa belajar bahwa kunci keberhasilan dalam modifikasi kurikulum demi kesetaraan kesempatan belajar seluruh siswa, khususnya di sekolah inklusi, adalah kerjasama antara guru dan guru ahli.

4. Kolaborasi

Dalam rangka mewujudkan pendidikan inklusi yang ideal, pihak sekolah sebaiknya juga harus berkolaborasi dengan orang tua murid dan masyarakat yang tinggal di lingkungan murid.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat merupakan sekumpulan orang yang dapat membentuk karakter serta melatih anak untuk menjalin hubungan sosial. Sementara itu, keluarga merupakan support system sekaligus lembaga pendidikan non-formal yang dimiliki setiap anak.

Dengan adanya kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan pihak sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas serta kondusif tanpa adanya diskriminasi sehingga dapat memaksimalkan potensi pada masing-masing anak.

Mendapatkan pendidikan adalah hak bagi semua anak di dunia. Sekolah inklusi hadir untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan hak tersebut. Semoga informasi ini bermanfaat.

 

  1. Planchamp, Caroline. 2017. The inclusive school. https://lepole.education/en/pedagogical-culture/63-the-inclusive-school.html?showall=1. (Diakses tanggal 02 Februari 2022)
  2. UNICEF. 2022. Inclusive education.  https://www.unicef.org/education/inclusive-education. (Diakses tanggal 02 Februari 2022)
  3. Wibowo, Satrio Budi dan Juhri Abdul Muin. 2016. Inclusive Education in Indonesia: Equality Education Access for Disabilities. https://knepublishing.com/index.php/kne-social/article/view/2351/5196#content/citation_reference_14. (Diakses tanggal 02 Februari 2022)


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi