Terbit: 28 February 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Orang tua mungkin lebih senang melihat anaknya tumbuh gemuk. Selain tampak lucu dan menggemaskan, anak juga terlihat lebih sehat. Namun benarkah anak gemuk berarti lebih sehat?

Risiko Kesehatan pada Anak yang Berbadan Gemuk

Jika dulu orang sering berusaha membuat anak gemuk karena dianggap lebih sehat, kini anggapan tersebut telah bergeser. Anak gemuk belum tentu sehat, dan anak sehat tidak harus berbadan gemuk. WHO telah merumuskan data peningkatan berat badan untuk anak di bawah usia 2 tahun dan U.S. Centers for Disease Control and Prevention untuk anak-anak usia 2 tahun dan yang lebih tua. Saat usia 2 tahun berat badan anak diharapkan menigkat sebanyak 4 kali lipat dari berat badan lahir, dan pada anak usia 2-9 tahun idealnya meningkat sebanyak 2,25 kg/tahun.

Apabila Anda merasa bahwa anak Anda terlalu gemuk, konsultasikanlah dengan petugas kesehatan tentang kondisi anak Anda. Anak yang kegemukan memiliki risiko beberapa penyakit antara lain:

1. Diabetes
Anak yang kegemukan dapat terkena diabetes baik tipe 1 maupun tipe 2. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh adanya kelainan kekebalan tubuh yang membuat kekebalan tubuh menyerang pankreas sehingga produksi insulin tubuh segera mengalami gangguan. Sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat seperti banyak makan makanan manis atau junk food.

2. Asma
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa anak yang mengalami obesitas memiliki risiko asma sebesar 40-50% dibandingkan dengan anak yang normal. Dalam penelitian lain juga disebutkan bahwa anak dan remaja yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi memiliki kecenderungan mengidap penyakit asma.

3. Gangguan tidur
Anak yang mengalami obesitas juga memiliki risiko gangguan tidur obstructive sleep apnea, yaitu gangguan pernapasan yang terjadi pada saat tidur di mana napas kadang berhenti mendadak selama beberapa detik saat orang sedang tidur. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja yang obesitas memiliki kecenderungan mengalami gangguan tidur ini hingga 60%.

4. Risiko penyakit jantung
Penelitian yang dilakukan Bogalusa Heart Study di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 70% anak usia 5-17 tahun yang mengalami obesitas memiliki risiko untuk menderita penyakit jantung. Penelitian lain menyebutkan bahwa obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit jantung saat ia dewasa namun juga kerusakan jantung selama masa anak-anak.

5. Gangguan pada otot dan tulang
Kelebihan berat badan memberikan tekanan lebih besar pada sistem otot dan tulang. Sebuah penelitian di Belanda yang dilakukan pada anak usia 2-17 tahun di Belanda menunjukkan bahwa anak yang mempunyai kelebihan berat badan atau obesitas sering mengalami masalah otot dan tulang terutama di bagian bawah tubuh.

Jika anak Anda masuk dalam kategori obesitas, Anda dapat mengurangi asupan kalori pada makanannya. Anda juga dapat memperbanyak aktivitas anak untuk menjaga kekuatan otot dan tulangnya serta untuk membakar lemak berlebih pada badan anak.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi