Terbit: 22 March 2022 | Diperbarui: 26 July 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Cacingan pada ibu hamil bagi sebagian orang mungkin terkesan tidak mengkhawatirkan, namun sebenarnya kondisi ini patut diwaspadai. Apabila dibiarkan dan kondisinya semakin parah, cacingan bisa berbahaya bagi janin dan berakibat fatal. Bunda, yuk, simak selengkapnya dalam penjelasan di bawah ini!

Cacingan pada Ibu Hamil: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Cacingan pada Ibu Hamil

Cacingan dapat terjadi pada siapa pun, dari anak-anak, dewasa, hingga ibu hamil. Untuk ibu hamil, cacingan bisa sangat mengganggu.

Terkadang wanita wanita mengalami sensasi gatal di daerah vagina atau dubur, biasanya pada malam hari. Gatal-gatal dapat mengindikasikan iritasi tetapi jika terjadi secara teratur, bisa jadi itu adalah infeksi cacing kremi.

Infeksi cacing kremi adalah infeksi parasit usus yang umum terjadi. Tidak banyak yang menyadari infeksi cacing kremi dan pengaruhnya terhadap kehamilan dan pertumbuhan janin bisa berbahaya!

Ciri-ciri Cacingan pada Ibu Hamil

Ada beberapa ciri yang menonjol dari infeksi cacing (misalnya cacing kremi) yang bisa dikenali, berikut di antaranya:

  • Rasa gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari.
  • Terdapat cacing kremi di feses.
  • Sakit perut.
  • Perasaan mual disertai hilangnya nafsu makan.
  • Penurunan berat badan yang signifikan karena cacing kremi mengambil semua nutrisi dalam pencernaan.

Baca Juga: Gejala Cacingan pada Orang Dewasa Berdasarkan Jenis Cacing 

Penyebab Cacingan pada Ibu Hamil

Infeksi cacing, biasanya terjadi karena Bumil tidak menjaga kebersihan dengan baik. Penyebab lain yang menyebabkan keadaan ini adalah:

  • Telur kecil yang disimpan di sekitar anus oleh cacing betina bisa menyebarkan infeksi.
  • Orang dengan infeksi cacing kremi biasanya tergoda untuk menggaruk daerah vagina atau anus. Jika melakukannya, telur cacing bisa menempel di bawah kukunya dan dapat berpindah ke apa pun yang mereka sentuh.
  • Jika menyentuh permukaan yang terkontaminasi selama kehamilan dan menyentuh mulut, Anda dapat menelan telur dan mengembangkan infeksi cacing.
  • Telur cacing dari anus juga dapat berpindah ke pakaian, seprai, tangan, karpet, pakaian dalam, dan lainnya, sehingga dapat menyebabkan infeksi menyebar.
  • Menggunakan handuk bersama. Handuk  dapat manjadi tempat yang ideal bagi cacing kremi atau telurnya.

Baca Juga: 6 Makanan Ini Paling Sering Menyebabkan Cacingan

Cara Mengatasi Cacingan pada Ibu Hamil

Terdapat dua obat yang biasa digunakan untuk mengobati infeksi cacing pada ibu hamil. Kedua obat ini tersedia di apotek, yakni Mebendazole dan Pyrantel.

Mebendazole adalah pilihan pertama karena penelitian pada kehamilan manusia tidak menunjukkan peningkatan efek samping pada ibu atau janin. Sedangkan Pyrantel, tidak memiliki data kehamilan manusia tetapi penelitian pada hewan dengan dosis yang sangat tinggi menunjukkan tidak ada peningkatan risiko cacat lahir.

Kedua obat tersebut dapat diserap dengan buruk dengan sebagian besar obat dihilangkan melalui feses. Penggunaanya adalah satu dosis diminum secara oral diikuti dengan dosis kedua yang diminum 2 minggu kemudian jika gejalanya menetap.

Keluarga ibu hamil mungkin perlu diobati juga bahkan jika tidak memiliki gejala karena infeksi cacing kremi dianggap sangat menular. Kedua obat tersebut adalah pengobatan yang disetujui untuk infeksi cacing kremi pada kehamilan trimester ke-2 dan ke-3 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara itu, krim zinc atau krim antiseptik ringan yang bisa digunakan di sekitar bagian anus pada malam hari dan pagi hari bisa membantu mengatasi rasa gatal di sekitar anus.

Pada beberapa kasus, kondisi ini mengharuskan Bumil untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit karena infeksi cacing kremi bersifat menular.

Baca Juga: Penyakit Cacingan: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

Bolehkah Minum Obat Cacing untuk Ibu Hamil?

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi obat cacing selama kehamilan mengurangi 14% risiko kematian anak dalam empat minggu pertama setelah kelahiran.

Obat cacing seperti anthelmintik juga membantu ibu hamil untuk menghindari berat badan lahir rendah pada bayi.

Pemberian obat cacing secara rutin selama perawatan antenatal juga dapat menurunkan risiko kematian bayi baru lahir dan berat badan lahir rendah:

Mencegah Cacingan pada Ibu Hamil

Menjaga kebersihan tubuh dengan baik adalah langkah termudah yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penyakit ini. Beberapa langkah pencegah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Bersihkan sikat gigi secara menyeluruh setelah setiap kali digunakan dan simpan di tempat tertutup.
  • Bersihkan rumah secara teratur dan hindari makan di kamar tidur.
  • Pilih pakaian dalam yang pas dan ganti setidaknya dua kali sehari.
  • Gunakan air panas untuk mencuci pakaian dengan disinfektan.
  • Hindari menggaruk area anus terus-menerus.
  • Jika memungkinkan, hindari menggunakan toilet umum.
  • Potong kuku secara teratur untuk mencegah cacing kremi bersarang di bawah kuku.
  • Menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya sesering mungkin.

Infeksi cacing dalam kehamilan bisa sangat mengkhawatirkan dan menjengkelkan. Oleh karenanya, lakukan pencegahan dengan baik dan jika mengalami gejala yang disebutkan di atas segera berkonsultasi dengan dokter kandungan.

 

  1. Anonim. 2013. Worm Infections in Pregnancy and Breastfeeding. https://www.seslhd.health.nsw.gov.au/sites/default/files/migration/Mothersafe/documents/ThreadwormFactsheet.pdf. (Diakses pada 22 Maret 2022)
  2. Anonim. 2018. Parasites. https://www.cdc.gov/parasites/women.html. (Diakses pada 22 Maret 2022)
  3. Anonim. 2021. Deworming women during pregnancy has a positive effect on child survival and health. https://www.who.int/news/item/29-04-2021-deworming-women-during-pregnancy-has-a-positive-effect-on-child-survival-and-health. (Diakses pada 22 Maret 2022)
  4. Khan, Aliya. 2018. Pinworm Infection During Pregnancy. https://parenting.firstcry.com/articles/is-it-harmful-to-get-pinworms-during-pregnancy/. (Diakses pada 22 Maret 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi