Terbit: 10 July 2018 | Diperbarui: 14 February 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Saat sedang melakukan diet penurunan berat badan, Anda tentu sepakat jika pemilihan bahan makanan menjadi harus sangat diperhatikan, ya.

Jangan Pilih 3 Makanan Ini saat Diet, Justru Bikin Nafsu Makan Naik!

Biasanya, makanan yang dilarang adalah makanan yang banyak mengandung lemak dan kalori, seperti gorengan atau makanan cepat saji.

Akan tetapi, ternyata ada cukup banyak lho makanan, selain gorengan dan makanan cepat saji, yang masih kerap dikonsumsi dan menjadi penyebab gagalnya diet.

doktersehat gorengan

photo credit: tastemade

Ya, selain makanan yang banyak mengandung lemak, ada beberapa kandungan pada bahan makanan yang juga harus diwaspadai saat sedang diet. Apa sajakah?

Kandungan zat dan gizi bahan makanan yang bisa menggagalkan diet

Perlu diketahui, asupan zat gizi selain lemak, misalnya protein, karbohidrat, atau gula, yang berlebihan juga bisa berkontribusi pada peningkatan berat badan.

Selain itu, ada pula beberapa jenis zat dan gizi pada bahan makanan yang bisa meningkatkan nafsu makan.
doktersehat-makanan-ganggu-kesehatan-tulangHal ini yang biasanya kerap tidak disadari karena makanan tersebut cenderung dikonsumsi dalam porsi yang kecil, sebagai camilan, atau sebagai makanan pendamping saja, namun dalam frekuensi yan cukup sering.

Jika dikonsumsi terus menerus, maka tentu efek dari asupan zat dan gizi yang ada pada bahan makanan tersebut bisa mengganggu proses diet penurunan berat badan, bukan?

Lantas, apa saja bahan makanan yang sebaiknya dihindari agar diet?

Untuk itu, penting kita mengetahui, makanan apa saja yang biasanya mengandung banyak gizi berlebihan dan dapat meningkatkan nafsu makan. Yuk, sama-sama kita simak penjelasannya di bawah ini!

1. Yoghurt rasa buah

Yoghurt memang menjadi makanan super sehat untuk pencernaan. Akan tetapi, memilih yoghurt dengan tambahan rasa buah bukanlah pilihan yang tepat saat diet. Mengapa?

Anda akan mendapatkan tambahan banyak asupan gula dalam tubuh, karena sebagian besar masakan kemasan dengan penambahan rasa akan menyebabkan kandungan gulanya juga meningkat.

Untuk itu, jika Anda ingin mengonsumsi yoghurt saat diet, perhatikan pemilihan jenis dengan tepat, yaitu yoghurt dengan kandungan lemak yang rendah dan tanpa rasa, ya.

doktersehat-almond-yoghurt

pic credit: jules

Anda bisa tetap menambahkan buah, namun tambahkan buah potong segar di atas yoghurt agar asupan vitamin dan serat Anda bisa meningkat.

2. Masakan dengan banyak bumbu rempah

Siapa yang tahan dengan godaan masakan yang rasanya super nikmat karena banyak mengandung bumbu dari rempah?

Daging atau ayam bumbu rendah, soto, atau mungkin sayuran khas daerah dengan banyak bumbu, memang nikmat dijadikan menu makanan, ya.

gizi-dan-cara-sehat-makan-rendang-doktersehat-1

Photo Credit: Flickr.com/Kyle Lam

Sayangnya,penggunaan berbagai bumbu rempah pada masakan justru akan meningkatkan nafsu makan, lho.

Hal ini tentu dapat menggagalkan diet karena Anda bisa jadi menambah porsi makan saat mengonsumsi makanan tersebut sebagai lauk utama.

Untuk itu, usahakan Anda bisa mengontrol porsi makan masakan berbumbu dengan tepat, atau jika kesulitan, pilihlah masakan dengan bumbu yang tidak menggunakan banyak rempah, misalnya bumbu kacang.

3. Saus kemasan

Masih sering mengonsumsi saus kemasan saat diet? Jika iya, maka mulai hilangkan kebiasaan tersebut, karena saus kemasan, selain banyak mengandung gula, juga dapat meningkatkan nafsu makan karena banyak mengandung glutamat buatan.
Kondisi ini tentu merugikan, mengingat asupan gula yang tinggi dapat meningkatkan kalori dan kadar gula dalam tubuh, sedangkan kandungan glutamat pada saus, bisa memberikan sensasi mirip ketagihan yang bisa membuat kita jadi sulit berhenti makan.

Akan tetapi, Anda bisa tetap menggunakan saus saat diet, kok.

Gunakan saja saus dari tomat dan cabai alami dan saat mengonsumsinya selalu iringi dengan pilihan jenis dan porsi makanan yang tetap rendah lemak dan kalori, ya.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi