Terbit: 18 May 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Selama ini kita mengenal diet rendah karbohidrat yang banyak digunakan untuk menurunkan berat badan yang berlebihan. Selanjutnya ada yang namanya diet rendah protein. Diet jenis ini dianggap memberikan cukup bermanfaat untuk menjaga organ tubuh tertentu. Nah, kira-kira seperti apa diet rendah protein ini dilakukan lalu apa saja manfaat serta efek sampingnya, simak ulasan di bawah ini.

Tren Diet Rendah Protein, Amankah untuk Kesehatan?

Siapa yang bisa melakukan diet rendah protein?

Dokter merekomendasikan untuk mengonsumsi protein minimal 10 persen dari kebutuhan kalori harian. Melakukan diet rendah protein artinya jumlah protein harian yang dikonsumsi berada di bawah 10 persen. Kondisi ini tidak cocok untuk semua orang karena bisa menyebabkan cukup banyak masalah yang serius.

Diet ini cocok untuk mereka yang mengalami intoleransi dengan protein. Karena tidak bisa mengonsumsi protein terlalu banyak pembatasan harus dilakukan. Beberapa orang yang mengalami intoleransi ini biasa akan mengalami mual, muntah, hingga kerusakan pada organ tertentu kalau tetap melakukannya. Anda disarankan melakukan diet rendah protein ini kalau memiliki penyakit di bawah ini.

  1. Penyakit ginjal

Salah satu tanda adanya gangguan pada ginjal adalah tingginya kadar protein di dalam urine yang keluar. Kalau Anda mengalaminya, berarti fungsi ginjal sedang menurun atau malah terjadi kegagalan. Agar kondisi ginjal tidak parah, kita perlu menekan jumlah protein yang masuk ke dalam tubuh.

Dari beberapa studi yang dilakukan pada tahun 2018, mengurangi asupan protein bisa menurunkan percepatan mengalami gagal ginjal. Jadi, siapa saja yang sudah mengalami masalah pada ginjal, konsumsi protein harus diturunkan.

  1. Diabetic nephropathy

Penderita diabetes akan rawan mengalami Diabetic nephropathy dan menyebabkan masalah pada ginjal. Cara terbaik untuk mencegah kondisi ini adalah membatasi suplai protein di dalam tubuh. Oleh karena itu, diet rendah protein harus dilakukan.

  1. Phenylketonuria (PKU)

Seseorang dengan kondisi PKU akan mengalami gangguan berupa minimnya enzim untuk memecah asam amino phenylalanine. Asam amino ini kalau menumpuk dalam jumlah banyak berbahaya untuk kesehatan. Penderita PKU akan mengalami masalah pada saraf, rusaknya koordinasi, hingga lumpuh. Kalau seseorang terindikasi mengalami PKU, konsumsi protein harus diturunkan.

  1. Homocystinuria

Homocystinuria adalah penyakit turunan yang menyebabkan tubuh menghasilkan asam amino berbahaya bernama methionine. Asam amino ini akan menyebabkan masalah penglihatan kalau di dalam tubuh terus menumpuk. Cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membatasi protein yang nanti diubah jadi asam amino.

Manfaat secara umum diet rendah protein

Ada cukup banyak manfaat dari diet rendah protein yang sudah dirasakan oleh banyak orang. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, pembatasan jumlah protein yang masuk ke dalam tubuh ternyata bisa mencegah tubuh mengalami kanker, diabetes, dan gangguan pada jantung.

Penelitian lain juga menyebutkan kalau melakukan diet rendah protein dan tinggi karbohidrat bisa mencegah kerusakan pada otak dari penelitian yang dilakukan pada mencit. Selanjutnya penelitian lain juga mengungkapkan peningkatan ekspektasi kehidupan dan juga menjaga kesehatan jantung dan pencernaan.

Jenis makanan yang bisa dikonsumsi

Sebelum melakukan diet jenis ini, pastikan dulu apakah Anda mengalami masalah yang disebutkan sebelumnya atau tidak. Kalau tidak lebih baik menggunakan metode diet lainnya. Kalau Anda mengalami masalah dengan hati, berikut beberapa jenis makanan yang bisa dikonsumsi dari diet ini.

Secara umum semua jenis makanan dengan kandungan protein rendah atau tidak ada sama sekali. Makanan yang rendah protein terdiri dari:

  • Semua jenis buah, kecuali buah yang dikeringkan.
  • Semua jenis sayuran, kecuali jagung, kacang-kacangan, dan berbagai jenis kacang polong.
  • Semua jenis lemak sehat seperti alpukat dan minyak zaitun.
  • Bumbu dan rempah.

Beberapa jenis makan memiliki kandungan protein sedang. Makanan seperti di bawah ini masih boleh dikonsumsi meski harus dibatasi.

  • Berbagai jenis roti dan kue
  • Sereal tanpa ditambah susu.
  • Pasta apa pun jenisnya.
  • Nasi putih,
  • Olahan jagung.
  • Olahan oatmeal.

Jenis makanan yang harus dihindari

Untuk jenis makanan yang dihindari, tentu saja yang terbuat dari berbagai jenis olahan ikan, daging, dan ayam. Selengkapnya inilah beberapa jenis makanan yang harus dihindari.

  • Daging merah dari berbagai jenis hewan ternak.
  • Berbagai olahan daging.
  • Ayam dan olahannya.
  • Semua ikan laut termasuk kerang dan tiram.
  • Susu dan berbagai jenis olahannya.
  • Telur apa pun jenisnya.
  • Olahan kedelai mulai dari tempe hingga tahu.
  • Aneka kacang seperti kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau.

Tips menjalankan diet rendah protein

Kalau Anda menjalani diet rendah protein, ada beberapa tips yang harus Anda perhatikan:

  • Sebisa mungkin untuk memasak sendiri apa saja yang akan dimakan. Jangan sering membeli makanan di luar.
  • Lakukan pengurangan protein perlahan-lahan dengan memperbanyak sayuran ke dalam menu harian.
  • Telur bisa dimakan asal tidak terlalu banyak, gunakan sebagai sumber energi dan membuat makanan lebih nikmat.
  • Tetap penuhi kebutuhan kalori harian termasuk memenuhi lemak dan karbohidrat.

Kemungkinan efek samping diet rendah protein

Efek samping dari diet rendah protein tentu saja ada dan bisa membuat Anda mengalami masalah pada tubuh. Beberapa jenis efek samping yang akan dialami terdiri dari penurunan massa otot yang terus terjadi setiap harinya. Selain itu, tubuh juga memiliki daya tahan tubuh yang rendah dan mudah sakit.

Inilah beberapa ulasan tentang diet rendah protein. Dari ulasan yang telah dijabarkan di atas, kita bisa memahami kalau diet ini tidak cocok dilakukan oleh semua orang. Diet cukup efektif kalau dilakukan oleh mereka yang mengalami masalah kesehatan pada organ seperti ginjal. Selama Anda tidak ada masalah organ, lebih baik menjalani diet seperti biasa saja asal nutrisi seimbang dan kalori tidak berlebihan.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi