Terbit: 16 December 2014
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Granuloma Inguinale adalah salah satu jenis infeksi menular seksual (IMS) yang menimbulkan benjolan kecil seperti jerawat di kelamin. Penyakit ini dapat menyebabkan kanker jika tanpa pengobatan. Lebih lanjut ketahui gejala, penyebab, hingga pengobatanya di bawah ini!

Granuloma Inguinale (Donovanosis): Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Apa itu Granuloma Inguinale?

Granuloma inguinale atau Donovanosis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri pada alat kelamin. IMS menyebabkan lesi (luka) di area anus dan genital. Selain dengan berhubungan seks, granuloma inguinale dapat menular melalui kontak nonseksual.

Tanpa pengobatan, penyakit ini akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat menyebabkan jaringan parut pada alat kelamin, peradangan kronis, dan terkadang kanker.

Sebagian besar orang yang mengidap granuloma inguinale adalah orang dewasa yang aktif secara seksual berusia antara 20 dan 40 tahun. Namun, dalam beberapa kasus bahkan terjadi pada bayi baru lahir dan balita. Kasus-kasus ini kemungkinan akibat kontak nonseksual dengan orang dewasa yang terinfeksi atau ibu yang terinfeksi saat melahirkan.

Gejala Granuloma Inguinale

Tanda-tanda dari penyakit ini dimulai secara perlahan baik pada pria maupun wanita, setidaknya selama satu minggu untuk merasakan gejalanya. Sedangkan gejala yang mencapai puncaknya memerlukan waktu hingga 12 minggu.

Gejala yang muncul pertama umumnya jerawat atau benjolan pada kulit area kelamin. Jerawat ini kecil dan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga kebanyakan penderitanya mungkin tidak menyadari. Luka pada dubur atau mulut jarang terjadi, dan hanya bila terjadi kontak seksual di area tersebut.

Lesi di kulit area kelamin berkembang melalui tiga tahap berikut:

  • Tahap 1

Gejala pada tahap pertama, jerawat kecil mulai menyebar dan menggerogoti jaringan di sekitarnya, termasuk anus dan kelamin. Saat jaringan mulai terkikis, warnanya berubah menjadi merah muda atau merah samar. Benjolan ini kemudian menjadi bintil merah menonjol dengan tekstur seperti beludru. Meskipun benjolan tersebut tidak menyebabkan kan rasa sakit, namun mengeluarkan darah jika terluka.

  • Tahap 2

Gejala pada penyakit tahap kedua, bakteri mulai mengikis kulit di area kelamin atau anus. Jika ini terjadi, Anda akan mengalami borok dangkal yang menyebar dari alat kelamin dan anus ke paha dan perut bagian bawah (inguinal). Pinggiran luka akan terlapisi jaringan granular dan bau busuk mungkin seperti bisul.

  • Tahap 3

Ketika penyakit granuloma inguinale berkembang ke tahap ketiga, kemungkinan luka di area genital menjadi dalam dan berubah menjadi jaringan parut atau biasa disebut bekas luka.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya hubungi dokter untuk membuat janji pemeriksaan jika memiliki hal berikut ini:

  • Pernah melakukan kontak seksual dengan orang yang diketahui mengidap granuloma inguinale.
  • Mengalami gejala granuloma inguinale.
  • Mengembangkan jerawat atau luka di area genital.

Penyebab Granuloma Inguinale

Salah satu infeksi menular seksual ini disebabkan oleh bakteri bernama Klebsiella granulomatis. Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis seperti India tenggara, Guyana, dan New Guinea. Sebagian besar penyakit ini terjadi pada orang yang pernah bepergian ke atau dari tempat di mana penyakit ini umum terjadi.

Setiap orang yang melakukan hubungan seksual vagina atau anal dengan pasangan penderita granuloma inguinale dapat menularkan bakteri ini. Sebagian besar infeksi terjadi pada orang berusia 20 hingga 40 tahun.

Dalam kasus yang jarang terjadi, seseorang juga dapat menularkan bakteri Klebsiella granulomatis melalui cara berikut:

  • Hubungan seks oral.
  • Kontak kulit ke kulit tanpa berhubungan seks.

Baca Juga: Infeksi Menular Seksual (IMS): Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Diagnosis Granuloma Inguinale

Guna mendiagnosis penyakit ini, biasanya dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan gejala pasien. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari luka di sekitar area genital.

Jika dicurigai adanya donovanosis, dokter mungkin akan menanyakan apakah Anda telah melakukan hal berikut:

  • Pernah kontak dengan seseorang dari daerah tempat terjadinya granuloma inguinale.
  • Mengunjungi wilayah di mana penyakit ini terjadi.

Untuk membantu mendiagnosis donovanosis, dokter mungkin akan melakukan langkah berikut:

  • Mengikis luka untuk mengambil sedikit sampel cairan. Kemudian petugas medis akan memeriksa sampel di bawah mikroskop.
  • Memastikan diagnosis dengan mengambil sampel jaringan (biopsi) menggunakan forceps atau pisau bedah. Petugas medis akan melihat jaringan ini di bawah mikroskop.
  • Mengambil sampel darah untuk mengesampingkan infeksi menular seksual lainnya.

Pengobatan Granuloma Inguinale

Dokter akan mengobati penyakit ini dengan penggunaan antibiotik. Pasien biasanya dianjurkan meminum antibiotik ini setidaknya selama tiga minggu.

Antibiotik yang digunakan untuk mengobati donovanosis, antara lain:

  • Azithromycin.
  • Ciprofloxacin.
  • Doxycycline.
  • Erythromycin.
  • Trimethoprim-sulfamethoxazole.

Penting untuk menyelesaikan semua pengobatan agar mendapatkan hasil yang efektif. Dokter mungkin juga akan memberi suntikan antibiotik, baik di otot atau melalui pembuluh darah.

Meskipun antibiotik biasanya efektif mengobati granuloma inguinale, pasien mungkin juga memerlukan pembedahan jika mengalami kerusakan parah pada jaringan di tubuh pasien.

Bila perawatan selesai, Anda harus menemui dokter setiap enam bulan sekali. Dokter akan memastikan kondisinya tidak terulang kembali.

Komplikasi Granuloma Inguinale

Jika Anda menderita granuloma inguinale yang tidak diobati, kemungkinan besar infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain, berikut di antaranya:

  • Tulang.
  • Sendi.
  • Hati.

Komplikasi lain dari penyakit ini jika tidak diobati mungkin termasuk:

  • Kanker pada alat kelamin, seperti kanker penis, kanker vulva, atau kanker vagina.
  • Penyempitan (stenosis) pada anus, uretra atau vagina.
  • Penyebaran infeksi ke dalam rongga perut.
  • Pendarahan pada vagina.
  • Osteomielitis, bila mengalami infeksi tulang yang menyakitkan.
  • Poliartritis, ketika radang sendi menyerang lima sendi atau lebih.
  • Pseudo-elephantiasis, ketika alat kelamin membesar secara masif.

Baca Juga: Infeksi Bakteri: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Pencegahan Granuloma Inguinale

Penyakit ini dapat dihindari dengan mengurangi risiko tertular donovanosis baik bagi pria maupun wanita, berikut ini langkah-langkahnya:

  • Menghindari hubungan seks tanpa kondom dan berganti-ganti lebih dari satu pasangan.
  • Pastikan didiagnosis dan diobati dengan cepat untuk penyakit menular seksual apa pun guna menghentikan penularannya ke orang lain.
  • Menggunakan pelindung penghalang seperti kondom atau dental dam selama segala jenis hubungan seksual, baik seks vagina, anus, atau oral.

Jika memiliki donovanosis dan ingin berhubungan seksual, Anda harus memberi tahu semua pasangan bahwa Anda terkena infeksi ini.

 

  1. Anonim. 2021. Granuloma Inguinale (Donovanosis). https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/donovanosis.htm (Diakses pada 13 November 2023)
  2. Anonim. 2022. Granuloma Inguinale (Donovanosis). https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24232-granuloma-inguinale (Diakses pada 13 November 2023)
  3. Anonim. 2021. Donovanosis (granuloma inguinale). https://medlineplus.gov/ency/article/000636.htm (Diakses pada 13 November 2023)
  4. DiMaria, Christine. 2018. What You Need to Know About Granuloma Inguinale. https://www.healthline.com/health/granuloma-inguinale (Diakses pada 13 November 2023)


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi