Terbit: 12 March 2019 | Diperbarui: 8 March 2022
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Siapa yang tidak menyukai rasa manis? Seperti yang kita ketahui, gula merupakan sumber rasa manis. Namun selain gula, kita juga dapat menemukan berbagai jenis pemanis buatan dalam berabagai produk yang memiliki rasa manis. Ya, pemanis buatan adalah salah satu sugar substitutes atau pengganti gula. Apakah pemanis buatan aman untuk digunakan?

5 Jenis Pemanis Buatan, Aman atau Bahaya bagi Tubuh?

Apa Itu Pemanis Buatan?

Gula atau pemanis alami adalah sumber rasa manis. Jenis gula yang umum digunakan untuk pemanis makanan atau minuman yang umum kita temukan adalah sukrosa atau gula meja. Selain penggunaan sukrosa, ternyata terdapat jenis pemanis lain pengganti gula.

Terdapat beberapa jenis pengganti gula, pemanis buatan adalah salah satunya. Pemanis buatan adalah penganti gula sintetis. Namun bahan pemanis buatan bisa juga berasal dari bahan alami atau berasal dari gula itu sendiri.

Penggunaan pemanis buatan umumnya digunakan pada berbagai produk makanan dan minuman yang memiliki rasa manis. Salah satu yang membuat pemanis buatan diminati adalah karena derajat manisnya yang bisa ratusan atau bahkan ribuan kali lebih manis daripada gula.

Jenis Pemanis Buatan

Sebagian pemanis buatan sangat rendah kalori karena penggunaannya memang tidak perlu terlalu banyak untuk menghasilkan rasa setara dengan gula. Sebagian pemanis buatan lainnya bahkan bebas kalori.

Ada banyak sekali macam-macam pemanis buatan dengan struktur kimia yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa contoh pemanis buatan yang paling umum digunakan:

1. Aspartam

Aspartam adalah gula buatan yang rasa manisnya kurang lebih mencapai 180 kali manis gula. Bahan pemanis buatan aspartan adalah dua asam amino (fenilalanin dan asam aspartat) dan metanol.

Aspartam banyak terkandung dalam minuman seperti soda, jus, atau produk susu seperti yogurt. Jenis pemanis buatan satu ini tidak cocok digunakan untuk makanan yang dibakar pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, sehingga jarang ditemukan pada jenis makanan yang dipanggang.

2. Asesulfam K

Asesulfam K atau acesulfame K atau dikenal juga dengan acesulfame potassium adalah pemanis buatan yang memiliki rasa manis 200 kali dari manisnya sukrosa. Jenis pemanis buatan satu ini memiliki sedikit sensasi rasa pahit sehingga penggunaannya sering dikombinasikan dengan pemanis buatan lain seperti sukralosa atau aspartam.

3. Sakarin

Sakarin adalah pemanis buatan yang tidak mengandung kalori maupun karbohidrat. Sakarin memiliki ras mencapai 300-400 lebih manis daripada gula. Sakarin memiliki ciri khas aftertaste yang pahit sehingga sering dikombinasikan dengan aspartam.

Sakarin banyak diminasi karena dianggap stabil dan memiliki umum simpan yang lama sehingga aman dikonsumsi, meskipun telah bertahun-tahun disimpan. Sakarin banyak digunakan untuk minuman, permen rendah kalori, selai, jeli, dan kue.

4. Sukralosa

Sukralosa juga merupakan pemanis buatan yang bebas kalori. Sukralosa 400 hingga 700 kali lebih manis daripada gula. Berbeda dengan jenis pemanis buatan lain, sukralosa tidak menimbulkan rasa pahit di ujungnya. Sukralosa dapat digunakan untuk produk yang dimasak maupun dipanggang.

5. Neotam

Neotam adalah salah satu pemanis buatan yang paling manis. Neotam sekitar 7000-13.000 lebih manis daripaa sukrosa. Pemanis buatan satu ini merupakan turunan dari aspartam sehingga memiliki karakter yang mirip, yaitu tidak menimbulkan rasa pahit. Neotam juga stabil jika dipanas dan dan cepat dimetabolisme.

Bahaya Pemanis Buatan bagi Kesehatan

Pemanis buatan memang memiliki keunggulan, seperti kalorinya yang rendah, misalnya. Meskipun begitu, tentunya pemanis buatan juga memiliki kekurangan. Berikut adalah beberapa bahaya pemanis buatan secara umum:

1. Meningkatkan hasrat makan gula

Terdapat pernyataan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan seseorang justru menginginkan konsumsi gula yang lebih banyak. Semakin banyak makanan manis yang dikonsumsi, maka wajar jika keinginan untuk makan manis akan meningkat.

2. Meningkatkan nafsu makan

Gula buatan juga dianggap dapat meningkatkan nafsu makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanis buatan tidak memuaskan hasrat gula biologis, sehingga meningkatkan nafsu makan. Namun hasil penelitan masih beragam sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang efek yang satu ini.

3. Gangguan metabolisme

Pemanis buatan juga sering kali dikaitkan dengan gangguan metabolisme. Namun sama halnya seperti pernyataan sebelumnya, hal ini juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menemukan kebenarannya, karena hasil penelitian yang dilakukan hingga kini sangat beragam.

Gula atau Pemanis Buatan, Mana yang Lebih Aman?

Seperti yang kita ketahui, konsumsi gula berlebih juga tidak diperbolehkan, terutama karena kalorinya yang tinggi. Gula dianggap dapat menyebabkan obesitas sehingga menyebabkan berbagai macam penyakit.

Lalu, apakah pemanis buatan lebih baik dibandingkan dengan gula buatan? Pada dasarnya, penggunaan pemanis buatan diperbolehkan. Terdapat macam-macam pemanis buatan yang memang mendapat izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk dipergunakan.

Penggunaan pemanis buatan diperbolehkan asalkan takarannya tidak melebihi dari batas yang ditentukan oleh BPOM. Selain itu, kontrol jumlah gula yang dikonsumsi juga tentunya kembali pada pribadi masing-masing.

Salah satu cara untuk mengontrol kosumsi gula adalah dengan memerhatikan jumlah kalori yang kita makan sehari-hari. Jika melewati batas kalori yang seharusnya, tentu kemungkinan kita mengonsumsi gula berlebih juga akan semakin besar.

BPOM juga menghimbau agar produk makanan atau minuman mengandung pemanis buatan sebaiknya tidak dikonsumsi oleh anak usia di bawah 5 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui, karena dianggap lebih rentan terhadap efek sampingnya.

Jadi, konsumsi gula ataupun pemanis buatan bukan merupakan hal yang dilarang, asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan. Selain itu, seimbangkan juga dengan konsumsi makanan bergizi dan pola hidup lainnya seperti olahraga rutin dan tidur yang cukup untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi