Terbit: 26 Mei 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Apa menu masakan berbuka favorit Anda? Indonesia yang sangat kaya dengan berbagai olahan masakan tentu tak bisa lepas dari masakan bersantan ya. Kira-kira sehatkah jika kita berbuka dengan masakan bersantan?

Jangan Asal! Perhatikan Ini Sebelum Berbuka dengan Masakan Bersantan

Seperti yang kita ketahui, makanan bersantan termasuk dalam makanan sumber lemak. Padahal lemak merupakan salah satu zat gizi yang sebaiknya tidak langsung dikonsumsi saat berbuka lho.

Mengapa makanan yang bersantan tidak dianjurkan untuk berbuka?

Metabolisme tubuh menjadi lambat

Mengonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak, termasuk santan, saat baru berbuka puasa akan menyebabkan metabolisme tubuh menjadi lebih berat dan lebih lanjut akan menyebabkan penyerapan zat gizi menjadi lambat.

Gangguan pencernaan

Selain itu, risiko gangguan kesehatan lain, misalnya radang tenggorokan atau gangguan lambung akan semakin meningkat jika berbuka puasa dengan masakan yang berlemak.

Asupan kalori dalam tubuh semakin tinggi

Lemak merupakan salah satu zat gizi yang memiliki kandungan energi cukup tinggi yaitu 9 kkal. Saat baru berbuka, nafsu makan kita tentu masih sangat besar, ya. Hal ini berisiko menyebabkan kita jadi mengonsumsi bahan makanan yang gurih, seperti santan, menjadi terlalu banyak.

Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka tentu asupan kalori tubuh menjadi berlebih dan berisiko menyebabkan tubuh mengalami obesitas.

Ada cukup banyak risiko yang akan terjadi jika kita mengonsumsi makanan bersantan untuk berbuka puasa.

Akan tetapi, ketiga hal di atas baru akan terjadi terjadi jika konsumsi makanan bersantan dilakukan saat pencernaan masih benar-benar kosong dan santan disajikan dengan cara yang tidak sehat, misalnya santan kental, berulang kali di panaskan atau disajikan dengan bahan makanan yang juga tinggi lemak, misalnya daging berlemak atau jeroan.

Lalu, apakah berbuka puasa dengan makanan bersantan sama sekali tidak dianjurkan?

Untuk menghindari terjadinya ketiga risiko di atas, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan saat akan mengonsumsi masakan bersantan untuk berbuka puasa. Diantaranya adalah:

1. Tidak langsung mengonsumsi makanan atau masakan bersantan saat waktu berbuka puasa

Masakan bersantan memang menggoda untuk dicicipi terlebih dahulu ya, namun sebaiknya hal ini tidak Anda lakukan.

Usahakan menyajikan dan mengonsumsi makanan bersantan sebagai bagian dari makanan utama berbuka yang dikonsumsi 30-40 menit setelah kita mengonsumsi 1-2 gelas air putih serta takjil sehat.

Kondisi ini harus diperhatikan betul agar energi dalam tubuh tergantikan dengan baik oleh energi dari gula alami pada buah pada takjil sehat dan tubuh telah terhidrasi dengan optimal setelah mengonsumsi air putih.

Memberi jeda waktu pada tubuh sebelum mengonsumsi makan utama, dengan masakan bersantan, juga memberi waktu bagi tubuh untuk menyerap dan memenuhi gizi dari takjil sehat tersebut.

2. Menyajikan masakan bersantan dengan cara yang sehat

Tips jitu agar kita bisa mengonsumsi masakan bersantan dengan lebih sehat adalah dengan mengolah santan dengan cara yang lebih sehat, yang dilakukan dengan memilih santan yang encer, membatasi porsi, dan disajikan tidak dengan pemanasan berulang.

Hal ini dinilai sangat efektif untuk menekan efek negatif dari konsumsi santan saat berbuka puasa

Mengonsumsi masakan bersantan tetap memberikan asupan gizi dalam tubuh

Makanan bersantan memang seakan dianggap sebagai makanan yang tidak sehat, namun bukan berarti makanan bersantan jadi tidak memiliki kandungan gizi, lho.

Mengonsumsi masakan bersantan yang disajikan dengan cara yang sehat akan memberikan asupan gizi dalam tubuh berupa protein, karbohidrat dan serat. Kandungan vitamin dan mineral yang ada pada santan juga baik untuk tubuh yaitu vitami C, asam folat, zat besi dan magnesium.

Jadi, selama Anda mengonsumsi masakan bersantan dalam waktu yang tepat saat berbuka dan santan disajikan dengan cara sehat maka tentu mengonsumsi masakan santan saat berbuka boleh-boleh saja dilakukan, ya.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi