Terbit: 20 July 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Apa jenis keripik yang menjadi favorit Anda?

Awas, Ini 3 Jenis Keripik yang Tinggi Kalori & Lemak!

Kini, kita bisa dengan mudah memperoleh berbagai jenis keripik dengan beragam bahan baku pula, mulai dari keripik dari bahan baku umbi-umbian, buah, sayur, hingga bahan makanan berprotein hewani.

Keripik sudah menjadi salah satu cara sajian olahan dari suatu bahan makanan. Selain renyah dan cocok disajikan sebagai camilan, keripik juga dibuat menjadi lebih awet dengan proses pembuatan yang menghilangkan kandungan airnya.

Hal ini yang kemudian membuat banyak orang memilih keripik sebagai salah satu alternatif konsumsi bahan makanan yang memiliki masa simpan lebih lama.
Mengonsumsi keripik juga tidak boleh asal, lho.

Jika Anda tidak cermat dalam memilih keripik yang sehat, maka Anda malah bisa jadi mendapatkan beberapa dampak negatif dari pemilihan keripik yang banyak mengandung lemak dan kalori.

Mengapa jenis keripik tertentu bisa memiliki banyak kalori dan lemak?

Beberapa jenis keripik bisa memiliki banyak kandungan kalori dan lemak, disebabkan oleh jenis bahan baku serta metode pemasakannya.

Keripik berasal dari makanan berkarbohidrat dan lemak

Bahan baku keripik, yang terbuat dari makanan berkarbohidrat, serta keripik dari bahan makanan berprotein hewani yang banyak mengandung lemak alami, memiliki kandungan kalori yang tingi. Hal ini disebabkan karbohidrat dan lemak merupakan zat gizi yang memiliki kandungan energi cukup besar.

Keripik yang digoreng dan ditambahkan tepung

Selain dari bahan bakunya, keripik yang diolah dengan cara digoreng tentu membuat kandungan lemak dalam keripik menjadi lebih besar.

Apalagi jika keripik dibaluri dengan tepung terigu untuk melapisi bahan bakunya, hal ini tentu membuat penyerapan minyak saat menggoreng semakin besar dan asupan kalori dari keripik menjadi meningkat.

Lantas, apa saja jenis keripik yang banyak mengandung kalori dan lemak?

Berikut beberapa jenis keripik yang banyak mengandung kalori dan lemak, yang sebaiknya dibatasi konsumsinya:

1. Keripik umbi-umbian atau olahan dari baku tepung terigu yang digoreng

Keripik dari umbi, misalnya keripik dari kentang, singkong, sukun, atau keripik dari tepung terigu yang ditambahkan bahan lainnya, merupakan jenis keripik yang banyak mengandung karbohidrat.

keripik_singkong_doktersehat_2

Photo Source: Twitter/getukecomgl

Seperti yang telah disebutkan, karbohidrat memiliki kandungan energi yang paling besar, mengingat perannya sebagai penyuplai energi utama harian tubuh.

Untuk itu, Anda sebaiknya membatasi porsi konsumsi keripik dari umbi, apalagi yang diolah dengan metode goreng dan dengan lapisan tepung, paling banyak ½ – 1 porsi keripik.

2. Keripik dari makanan berprotein hewani

Makanan berprotein hewani adalah salah satu jenis bahan makanan yang banyak mengandung lemak, utamanya lemak jenuh.
doktersehat-daging-jeroanHal ini membuat keripik dengan bahan baku makanan berprotein hewani atau jeroan, misalnya keripik kulit, keripik ceker, keripik usus atau paru, sebaiknya dibatasi konsumsinya. Apalagi keripik jenis tersebut sangat umum dilapisi dengan tepung terigu saat menggorengnya.

Mirip seperti karbohidrat, lemak merupakan zat gizi yang memiliki kandungan simpanan energi paling tinggi, mengingat fungsinya sebagai zat gizi yang menyimpan energi paling besar.

3. Keripik dalam kemasan dengan tambahan bahan tambahan pangan

Meskipun tidak selalu tinggi kalori, namun keripik dalam kemasan cenderung memiliki kandungan lemak yang tinggi. Hal ini seakan wajar mengingat proses pembuatan keripik kemasan yang menggunakan proses hidrogenasi.
doktersehat-keripik-junk-foodProses tersebut dapat mengubah lemak menjadi padatan dan menyebabkan keripik kemasan banyak mengandung lemak trans, belum lagi keripik kemasan juga terbukti banyak mengandung natrium yang juga harus dibatasi asupannya.

Perlu diketahui, lemak trans merupakan jenis lemak berbahaya, karena mempunyai dampak yang lebih merugikan ketimbang lemak jenuh.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi