Terbit: 14 December 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Penderita diabetes atau diabetesi tidak boleh sembarangan dalam mengonsumsi makanan, khususnya makanan dengan rasa yang manis. Lantas, apakah penyandang diabetes boleh mengonsumsi selai kacang? Simak jawaban lengkapnya di bawah ini. 

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Selai Kacang?

Kandungan Selai Kacang

Kandungan gizi selai kacang akan berbeda-beda tergantung jenis selai yang Anda pilih. Dalam satu sendok makan selai kacang umumnya terkandung: 

  • 95 gram kalori.
  • 8 gram lemak.
  • 4 gram protein.
  • 3 gram karbohidrat.
  • 1 gram serat.

Selain itu, selai kacang juga mengandung berbagai sumber vitamin dan mineral termasuk vitamin E, magnesium, potasium, dan zinc. 

Namun, tidak bisa dipungkiri, sebagian besar produk selai kacang yang biasa ditemui di pasaran mengandung kalori, protein, dan karbohidrat dalam jumlah tinggi.

Baca Juga: 9 Buah yang Harus Dibatasi Konsumsinya oleh Penderita Diabetes

Bolehkah Penderita Diabetes Konsumsi Selai Kacang

Boleh tidaknya penderita diabetes makan selai kacang adalah salah satu pertanyaan yang kerap ditanya oleh diabetesi. Lantas, apakah boleh makan selai kacang jika diabetes? Tentu jawabannya adalah boleh.

Selai kacang memiliki indeks glikemik rendah, itu artinya jika dikonsumsi tidak akan menyebabkan peningkatan kadar gula darah dengan cepat. Jenis makanan juga merupakan sumber magnesium yang baik. Mineral ini terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi risiko diabetes tipe 2

Jadi, jika Anda sedang menginginkan camilan yang sehat, selai kacang adalah pilihan yang ideal. 

Tetapi, perlu diingat bahwa selai kacang tinggi akan lemak dan karbohidrat. Bagi penderita diabetes, penting untuk memantau asupan kedua nutrisi tersebut. 

Selai Kacang yang Aman untuk Diabetes

Meski bisa menjadi bagian dari makanan sehat bagi penderita diabetes, namun sebaiknya selai kacang dikonsumsi dalam jumlah sedang.

Saat memilih selai kacang, carilah produk yang rendah gula dan kalori. Anda juga bisa mencari produk yang dibuat dengan pengganti gula dari bahan alami. 

Jika Anda menginginkan alternatif selai kacang yang lebih rendah lemak, bisa dipertimbangkan untuk menggunakan selai kacang almond atau biji bunga matahari. Rasa dan teksturnya pun mirip dengan selai kacang tanah atau pohon

Almond dan biji bunga matahari juga kaya akan vitamin dan mineral yang penting bagi penderita diabetes, antara lain: 

  • Tembaga.
  • Vitamin E.
  • Vitamin B.
  • Magnesium .
  • Selenium.
  • Zinc.

Biji bunga matahari juga tinggi lemak tak jenuh ganda, sedangkan almond kaya akan lemak tidak jenuh tunggal. Keduanya dapat membantu mencegah diabetes.

Baca Juga: Apakah Penderita Diabetes Boleh Cabut Gigi?

Tips Makan Selai Kacang untuk Penderita Diabetes

Agar tetap sehat, berikut ini beberapa tips makan selai kacang yang tepat untuk diabetesi, antara lain: 

  • Gunakan selai kacang sebagai olesan pada roti gandum atau cracker gandum. 
  • Tambahkan selai kacang sebagai pelengkap oatmeal atau yogurt sebagai penambah rasa serta tekstur. 
  • Gunakan selai kacang sebagai pengganti mentega atau krim keju. 
  • Jadikan selai kacang sebagai isian kue beras. 
  • Bacalah informasi komposisi pada label kemasan untuk memastikan produk yang dibeli sesuai dengan kondisi Anda.

Nah, itulah penjelasan mengenai boleh tidaknya selai kacang dikonsumsi orang dengan diabetes. Pilihlah selai dengan kandungan garam dan gula yang rendah. Selain itu, pastikan juga untuk rutin mengontrol kadar gula darah Anda. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat.

 

  1. Anonim. Can Diabetics Eat Peanut Butter?. https://www.drsegals.ca/blogs/news/can-diabetics-eat-peanut-butter. (Diakses pada 13 Desember 2022) 
  2. Campbell, Amy. 2020. Is Peanut Butter Good for Diabetics?https://www.diabetesselfmanagement.com/healthy-living/nutrition-exercise/is-peanut-butter-good-for-diabetics/. (Diakses pada 13 Desember 2022) 
  3. Railton, David. 2019. Can People with Diabetes Eat Peanut Butter?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/317127. (Diakses 13 Desember 2022)


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi