Terbit: 5 Agustus 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Meski menyehatkan, ada beberapa bahaya makan jeroan yang berdampak buruk bagi kesehatan. Ini termasuk meningkatkan kolesterol hingga berisiko bayi lahir cacat. Selengkapnya simak bahaya dan cara memilih jeroan yang berkualitas di bawah ini!

8 Bahaya Makan Jeroan bagi Kesehatan, Kolesterol Tinggi hingga Cacat Lahir!

Apa Itu Jeroan?

Jeroan adalah organ dalam hewan yang dapat dikonsumsi sebagai makanan. Organ dalam yang paling banyak dikonsumsi, termasuk sapi, kerbau, kambing, domba, babi, ayam, dan bebek. Beberapa organ dalam yang sering menjadi makanan adalah hati, jantung, ginjal, usus, paru, babat, lidah, otak dan bahkan testis.

Daging organ dalam hewan bisa menjadi makanan tambahan yang bagus untuk tubuh. Ini karena jeroan mengandung nutrisi seperti vitamin B12 dan folat, serta sumber zat besi dan protein. Meskipun sangat bergizi, makan jeroan seperti hati sapi atau ayam, juga memiliki risiko bagi kesehatan, terutama orang dengan kondisi tertentu.

Bahaya Makan Jeroan bagi Kesehatan

Bagian dari jeroan mengandung tinggi kolesterol, purin, dan lemak jenuh. Oleh karena itu, mengonsumsi jeroan berpotensi berisiko bagi penderita penyakit jantung atau asam urat. Selain kandungan tersebut, makan jeroan dari hewan yang berpenyakit juga berisiko bagi kesehatan manusia.

Berikut ini beberapa bahaya makan jeroan bagi kesehatan:

1. Meningkatkan Kadar Kolesterol

Daging jeroan adalah makanan bergizi tinggi, tetapi juga mengandung banyak kolesterol, terutama hati dan jantung. Kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, sebaiknya makan jeroan dalam porsi sedang.

2. Menyebabkan Asam Urat

Pengidap asam urat sebaiknya makan jeroan secukupnya atau bahkan harus menghindarinya, karena jeroan mengandung kadar purin yang tinggi. Makan makanan dengan kandungan purin yang tinggi dapat mendorong perkembangan kerusakan sendi (bengkak dan lunak) bagi orang yang mengidap asam urat.

3. Hemokromatosis

Orang yang menderita hemokromatosis atau penyakit kelebihan zat besi, memiliki zat besi terlalu banyak dalam darahnya. Oleh sebab itu, harus membatasi makan jeroan yang mengandung banyak zat besi.

Hemokromatosis adalah kondisi yang menyebabkan tubuh menyerap terlalu banyak zat besi dari makanan. Kelebihan zat besi yang tersimpan di dalam organ tubuh manusia, termasuk hati, jantung, dan pankreas. Terlalu banyak zat besi dalam tubuh dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa seperti penyakit hati, masalah jantung, dan peningkatan kadar gula darah.

4. Toksisitas Vitamin A

Hati sapi atau ayam adalah jeroan yang sangat kaya akan vitamin A. Meskipun vitamin ini bagus untuk penglihatan hingga imun, tetapi bahaya makan jeroan terlalu banyak dapat membuat vitamin A menjadi racun karena dapat menumpuk dalam tubuh.

Mengonsumsi vitamin A terlalu banyak secara teratur juga dapat membuat tulang lebih rentan patah tulang pada orang yang lebih tua.

5. Membebani Fungsi Hati dan Ginjal

Ada kekhawatiran bahwa hewan seperti sapi atau domba yang telah terpapar racun dan pestisida akan memiliki toksisitas pada organ dalam hewan ini.

Jadi, penting untuk diingat, bahwa organ dalam seperti hati dan ginjal berfungsi sebagai filter untuk racun yang masuk ke dalam tubuh. Organ ini terbebani dan bekerja keras untuk mengeluarkan racun tersebut dan tidak menyimpannya.

6. Berisiko Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila dapat menular ke manusia dengan makan jeroan. Ini adalah penyakit yang juga memiliki nama sebagai bovine spongiform encephalopathy (BSE), kondisi yang dapat memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang sapi.

Penyakit sapi gila menular melalui protein (prion), yang terdapat di otak dan sumsum tulang belakang hewan yang terkontaminasi. Hal ini menyebabkan penyakit otak langka, yakni varian baru penyakit Creutzfeldt-Jakob (vCJD). Ini adalah gangguan otak degeneratif yang mengakibatkan demensia dan kematian.

7. Berisiko Cacat Lahir dan Kelainan Serius

Bahaya makan jeroan bagi kesehatan dapat memicu bayi lahir cacat. Ini karena jeroan merupakan sumber vitamin A, terutama organ hati hewan. Selama kehamilan, asupan vitamin A berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin.

Namun, National Institutes of Health  (NIH) menganjurkan asupan 10.000 international unit (IU) vitamin A per hari, karena asupan yang berlebihan meningkatkan risiko cacat lahir dan kelainan yang serius.

Cacat lahir tersebut termasuk jantung, sumsum tulang belakang, dan cacat tabung saraf, kelainan mata, telinga dan hidung, dan cacat dalam saluran pencernaan dan ginjal. Oleh sebab itu, penting untuk memerhatikan asupan jeroan selama kehamilan, terutama jika mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin A.

8. Meningkatkan Kadar Logam Berat yang Berbahaya

Jeroan dan kerang adalah makanan dengan kandungan tembaga yang sangat banyak. Hal ini mungkin dapat memicu Alzheimer, karena para ilmuwan telah mencatat bahwa penderita penyakit Alzheimer memiliki kadar tembaga yang lebih tinggi dalam darah, otak, dan cairan serebrospinal yang mengelilingi otaknya.

Selain tembaga, kadmium adalah logam lain yang terkandung banyak sekali dalam jeroan. Kadmium dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung, kanker, dan kencing manis.

Kadmium merupakan logam yang sangat beracun dan akan tetap berada di dalam tubuh selama bertahun-tahun, karena tubuh tidak memiliki cara yang efisien untuk membuangnya.

Cara Memilih Jeroan yang Berkualitas

Jeroan seperti dua mata pisau yang memiliki manfaat bagi kesehatan sekaligus berisiko untuk kesehatan. Jika menyukai dan tetap ingin makan jeroan, sangat penting untuk mengetahui bagaimana kualitas jeroan dari hewan peternakan.

Bahaya makan jeroan dari hewan yang stres dan mendapatkan perlakukan tidak baik dapat menyebabkan berbagai masalah bagi kesehatan. Misalnya, timbunan lemak sering kali bisa menumpuk, terutama di sekitar jantung dan ginjal. Pada dasarnya, jika hewan hidup dengan tidak sehat, organ dalamnya juga tidak akan sehat.

Oleh karena itu, ada baiknya makan jeroan harus berasal dari peternakan yang menggunakan cara organik dan memeliharanya di padang rumput.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. 2020. Are There Health Benefits to Eating Organ Meat?. https://www.webmd.com/diet/health-benefits-organ-meat#1 (Diakses pada 5 Agustus 2021)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Organ Meats. https://nutritionfacts.org/topics/organ-meats/. (Diakses pada 5 Agustus 2021)
  3. Coyle, Daisy. 2017. Are Organ Meats Healthy?. https://www.healthline.com/nutrition/organ-meats#TOC_TITLE_HDR_2 (Diakses pada 5 Agustus 2021)
  4. Ekokotu, Emmanuel. 2020. Organ Meat: Overview, Benefits, and Health Risks. https://homesoothing.com/organ-meat/ (Diakses pada 5 Agustus 2021)
  5. Gupta, Sanjana. 2020. The Effects of Eating Liver. https://www.livestrong.com/article/491280-the-effects-of-eating-liver/ (Diakses pada 5 Agustus 2021)
  6. Mayo Clinic Staff. 2020. Hemochromatosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hemochromatosis/symptoms-causes/syc-20351443 (Diakses pada 5 Agustus 2021)
  7. Seymour, Tom. 2017. Are organ meats good for you?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319229#are-there-risks-of-eating-organ-meat (Diakses pada 5 Agustus 2021)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi