Terbit: 15 Juni 2021 | Diperbarui: 8 Oktober 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Toxic masculinity adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan aspek negatif dari sifat maskulin yang dilebih-lebihkan. Simak penjelasan lengkap mengenai ciri-ciri pria yang memiliki sifat ini hingga kaitannya dengan kesehatan mental laki-laki.

Toxic Masculinity: Definisi, Masalah Umum, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Toxic Masculinity?

Meskipun banyak definisi terkait toxic masculinity yang muncul dalam berbagai penelitian dan juga budaya pop, beberapa ahli telah sepakat bahwa sifat maskulin ini memiliki tiga komponen penting, yaitu:

  • Ini adalah gagasan bahwa pria harus kuat secara fisik, emosional, dan perilaku agresif.
  • Ini melibatkan gagasan bahwa pria harus menolak apa pun yang bersifat feminin, seperti mudah menunjukkan emosi atau menerima bantuan.
  • Ini adalah asumsi bahwa laki-laki harus mendapatkan kekuasaan dan status (sosial serta finansial) untuk bisa mendapatkan rasa hormat dari orang lain.

Menurut nilai-nilai tradisional, laki-laki yang tidak cukup menunjukkan sifat-sifat di atas mungkin gagal menjadi ‘pria sejati’. Sementara itu, penekanan berlebihan pada sifat-sifat ini dapat menyebabkan sejumlah tindakan berbahaya, hal ini disebabkan karena seorang laki-laki akan mencoba untuk memenuhi harapan tersebut. Beberapa contoh tindakan yang bisa dilakukan adalah:

  • Agresi seksual.
  • Hiperkompetitif.
  • Perlu mendominasi atau mengendalikan orang lain.
  • Cenderung melakukan tindak kekerasan.
  • Empati rendah.
  • Perasaan pantas mendapatkan perlakuan khusus.
  • Chauvinisme dan seksisme.
  • Heteroseksisme atau diskriminasi terhadap orang yang bukan heteroseksual.

Penyebab Seorang Pria Memiliki Toxic Masculinity

Maskulinitas dan peran gender yang diciptakannya sebagai kombinasi perilaku yang dibentuk oleh beberapa faktor, termasuk:

  • Usia.
  • Ras.
  • Kelas sosial.
  • Budaya.
  • Pendidikan seksualitas.
  • Agama.

Beragam faktor ini membuat banyak definisi mengenai maskulinitas. Apa yang dipandang oleh masyarakat sebagai maskulin, mungkin ditolak oleh masyarakat lain. Pada akhirnya, sifat maskulin ini hanya menjadi seperangkat aturan yang sempit dan kaku.

Asal-Usul Sifat Maskulin Tradisional

Akar dari apa yang dilihat banyak orang sebagai maskulinitas ternyata berawal dari ribuan tahun yang lalu, ketika homo sapiens awal mengandalkan kekuatan untuk bertahan hidup, misalnya, untuk memaksakan dominasi atau mengambil alih.

Homo sapiens jantan yang paling sukses adalah mereka yang bisa bertarung dan berburu. Pada masa itu, sifat yang paling diinginkan mungkin termasuk agresi, kekejaman, dan kekuatan fisik. Perilaku ini berlanjut selama berabad-abad. Sepanjang sejarah, penguasa laki-laki yang dominan telah memperoleh kekuasaan dengan menaklukkan orang lain.

Jika seorang pria percaya bahwa ia tidak memenuhi ciri-ciri maskulin, ia mungkin merasa gagal. Hal ini dapat mengakibatkan kebutuhan untuk menyerang atau membesar-besarkan sifat maskulin guna membangun kembali ‘kejantanan’.

Masalah Apa yang Dapat Menyebabkan Toxic Masculinity?

Beberapa orang percaya bahwa sifat ini berbahaya karena membatasi pertumbuhan seseorang dan membatasi definisi tentang apa artinya menjadi seorang pria. Hal ini dapat menyebabkan konflik dalam diri dan lingkungannya. Selain itu,  konsep ini juga bisa memberi tekanan pada pria yang idak memenuhi sifat-sifat maskulin.

Ketika laki-laki dewasa memandang dunia melalui sudut pandang sempit yang disediakan oleh maskulinitas yang dilebih-lebihkan ini, ia mungkin merasa bahwa hanya akan mendapatkan harga diri dengan menjalani sifat-sifat ini.

Toxic masculinity tidak terkendali dan perilaku yang ditimbulkannya dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti:

  • Mengintimidasi.
  • Masalah disiplin.
  • Gangguan akademik.
  • Kekerasan dalam rumah tangga.
  • Kekerasan seksual.
  • Perilaku berisiko.
  • Penyalahgunaan zat terlarang.
  • Bunuh diri.
  • Trauma psikologis.
  • Kurangnya persahabatan atau hubungan yang tulus.

Beberapa teori menunjukkan bahwa toxic masculinity juga berperan dalam kesehatan fisik. Sifat ini dapat mencegah beberapa pria mencari bantuan untuk masalah kesehatan dan masalah lainnya yang dihadapi. Bagi beberapa pria, meminta bantuan berarti menunjukkan perasaan tidak mampu, kelemahan, dan persepsi sebagai laki-laki lemah.

Mengagungkan Kebiasaan Tidak Sehat

Sifat maskulin yang berlebihan memandang bahwa ‘perawatan diri adalah untuk wanita’ , sementara pria harus menggunakan tubuhnya seperti mesin dan mendorong diri sampai batas kemampuan fisik. Bahkan, toxic masculinity membuat pria enggan berkunjung ke dokter.

Sebuah studi menemukan bahwa semakin banyak pria menyesuaikan diri dengan norma-norma maskulin, semakin besar kemungkinannya untuk terlibat dalam perilaku berisiko, seperti konsumsi minuman beralkohol dalam jumlah tinggi, merokok, dan menghindari sayuran. Seorang pria yang memiliki sifat ini lebih cenderung melihat pilihan berisiko itu sebagai sesuatu yang normal.

Baca Juga: 14 Cara Menjaga Kesehatan Mental (Mudah Dilakukan)

Menemukan Identitas Maskulin yang Baru

Definisi baru tentang apa artinya menjadi laki-laki mungkin mencakup pengalaman manusia secara keseluruhan, seperti:

  • Secara terbuka mengalami berbagai macam emosi.
  • Saling ketergantungan.
  • Kerja sama.
  • Kebaikan.
  • Kelembutan.

Meski begitu, tidak berarti Anda harus meninggalkan sifat tradisional maskulin, seperti kekuatan dan petualangan, karena sifat tersebut dapat membantu beberapa orang mendefinisikan maskulinitas mereka sendiri

Namun, sifat-sifat ini seharusnya tidak membentuk seluruh definisi maskulinitas seseorang, tetapi hanya membentuk satu aspek kecil dari identitas. Penting untuk dipahami bahwa setiap individu bebas untuk mendefinisikan identitasnya

Memperluas dan mengintegrasikan konsep-konsep baru ke dalam definisi maskulinitas dapat membantu Anda lebih memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain.

Memfasilitasi Perubahan

Menghilangkan atau mengubah toxic masculinity tidak akan terjadi dalam semalam. Namun, karena semakin banyak orang mulai mendefinisikan versi maskulinitas sendiri dan memasukkan pengalaman ke dalam definisi itu, peran gender akan terus berubah dalam skala yang lebih besar.

Pada tingkat pribadi, mungkin cukup sederhana bagi seorang individu untuk mendidik diri sendiri tentang sikapnya terhadap maskulinitas dan memberi ruang bagi orang lain untuk membantu mengubah definisinya.

Mengundang seorang teman untuk berbagi emosi atau perasaan tentang topik ini, serta mendiskusikannya secara terbuka tanpa menghakimi dapat menjadi cara yang baik untuk menemukan definisi yang tepat.

Mempertanyakan dan melawan sifat yang dilebih-lebihkan dapat membantu seseorang untuk mendefinisikan kembali maskulinitas dan mengatasi pola pikir yang ketinggalan zaman, seperti yang diciptakan oleh toxic masculinity.

 

  1. Johnson, Jon. 2020. What to know about toxic masculinity. https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-masculinity. (Diakses pada 15 Juni 2021).
  2. Morin, Amy. 2020. What Is Toxic Masculinity?. https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-masculinity-5075107. (Diakses pada 15 Juni 2021).
  3. White, Taneasha. 2021. Defining — and Addressing — Toxic Masculinity. https://www.healthline.com/health/toxic-masculinity#traits. (Diakses pada 15 Juni 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi