Terbit: 20 Oktober 2021
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Daddy issue adalah istilah yang sering digunakan untuk seseorang yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah atau memiliki ayah disfungsional. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan untuk mendapatkan rasa aman dalam hubungannya ketika ia tumbuh dewasa, namun di saat yang sama ia ingin menemukan sosok ayah dalam diri pasangannya nanti. Ketahui lebih lanjut tentang apa itu daddy issue dan apa saja tanda seseorang tumbuh dengan daddy issue.

7 Tanda Seseorang Mungkin Memiliki Daddy Issue

Apa Itu Daddy Issue?

Daddy issue tidak bisa disebut sebagai sebuah kelainan psikologis dan tidak diketahui bagaimana awal kemunculannya. Namun, konsep daddy issue dimulai dari gagasan Father Complex dari Sigmund Freud.

Father Complex menggambarkan seseorang yang memiliki sebuah impuls yang tidak disadari, yang berasal dari hubungannya dengan sang ayah. Impuls ini bisa positif atau negatif. Impuls negatif terhadap pasangan bisa berupa ketakutan atau ketidakpercayaan, sementara impuls positif berupa kekaguman terhadap pasangan.

Father Complex terjadi ketika seorang anak perempuan mengembangkan hubungan yang tidak sehat dengan pria lain yang menyayanginya. Ia seolah ingin menciptakan kembali hubungannya yang rusak dengan sang ayah bersama pria yang kini menjadi pasangannya.

Tanda Seseorang Memiliki Daddy Issue

Hingga saat ini, belum diketahui dengan jelas apa definisi dari daddy issue. Namun, tanda-tanda daddy issue dapat dilihat dengan cukup jelas pada seseorang yang memilikinya, tepatnya dari cara dia memilih pasangan dan menjalin hubungan.

Berikut ini adalah tanda seseorang memiliki daddy issue:

1. Tertarik pada pria lebih tua

Perempuan yang tumbuh bersama ayah yang disfungsional atau tanpa kehadiran ayah secara tidak sadar menginginkan seseorang (pasangan) yang bisa menyayangi dan memanjakannya layaknya seorang ayah.

Ketika menjalin hubungan, orang tersebut berpikir bahwa kehadiran pria yang menjadi pasangannya kini harus dapat memberikan kasih sayang yang tidak dimiliki saat masih kecil. Itulah mengapa orang yang memiliki daddy issue menyukai laki-laki yang jauh lebih tua, mapan secara finansial, penyayang seperti layaknya seorang ayah, dan memiliki gaya hidup yang baik.

2. Posesif, protektif, dan terlalu bergantung pada pasangan

Dalam menjalin hubungan, seseorang dengan daddy issue akan terus menerus merasa cemas akan ditinggalkan pasangan, sehingga membuat dirinya menjadi posesif, protektif, dan sangat bergantung pada pasangannya. Kecemasan ini muncul dari hubungan masa kecil yang tidak baik dengan orang tua, terutama ayah.

Sifat ini membuat orang dengan daddy issue mudah tersinggung dan khawatir. Dia akan sering-sering membuka handphone pasangan karena khawatir dengan perselingkuhan, serta cemas berlebihan saat pasangan pulang terlambat. Jika dibiarkan, hal ini akan menghancurkan hubungan sendiri.

Baca Juga: Dibesarkan Tanpa Figur Ayah, Kenali Dampak Psikologis pada Anak

3. Selalu membutuhkan kepastian dari pasangan

Ciri-ciri daddy issue adalah seseorang yang merasa tidak nyaman dengan hubungan yang dijalani sekarang. Dia terus membandingkan dirinya dengan mantan dari pasangannya, dan selalu mencari kepastian akan perasaan pasangan.

Hal ini bisa membuat pasangan merasa sangat tidak nyaman, apalagi jika terlalu bergantung dan tidak memberikan kebebasan pada pasangan. Kondisi ini akan membawanya pada trauma terbesar, yaitu ditinggalkan oleh orang yang disayangi.

4. Menyukai pasangan yang abusif

Secara tidak sadar, ketika Anda memiliki daddy issue, Anda cenderung tertarik dengan pasangan yang abusif atau berperilaku kasar. Ini didasari oleh keinginan memperbaiki hubungan yang buruk dengan sang ayah, sehingga laki-laki yang berperilaku abusif lebih menarik bagi Anda karena sifatnya yang mirip dengan seorang ayah terhadap anaknya.

5. Memberikan kesan seperti kecanduan seks

Tidak hanya menyukai seks, tetapi juga kecanduan seks. Ini karena orang dengan daddy issue akan merasa dicintai ketika sedang berhubungan seksual dengan pasangannya. Sehingga seolah-olah harga dirinya tergantung pada apakah seseorang menginginkan dirinya secara seksual atau tidak.

Tidak jarang, orang dengan daddy issue juga akan menggunakan seks untuk membuat orang lain mencintai dirinya. Padahal, hubungan seks tidak selalu berdasarkan rasa cinta, sehingga hal ini akan sangat melukai dirinya pada akhir waktu.

6. Tidak pernah sendiri

Tidak pernah sendiri, artinya orang dengan daddy issue ingin selalu memiliki pasangan, bahkan berganti pasangan terlalu cepat setelah mengakhiri sebuah hubungan. Ini adalah tanda daddy issue yang serius, apalagi jika Anda tidak peduli seperti apa sifat dan kepribadian pasangan Anda.

Jika seseorang terus-menerus menjalin hubungan seperti ini, akan sulit bagi Anda untuk menemukan cinta yang tulus, serta memiliki hubungan yang sehat dan serius.

7. Sadar bahwa hubungannya dengan sang ayah tidak sehat

Tanda daddy issue adalah orang itu biasanya sadar dengan kondisi bahwa dia tidak memiliki hubungan sehat. Apabila Anda ingin memastikan apakah Anda memiliki daddy issue, coba tanyakan pada diri Anda:

  • Apakah Anda tumbuh tanpa ayah?
  • Apakah Anda hidup bersama ayah yang abusif?
  • Apakah Anda memiliki sosok ayah yang tidak stabil secara mental dan tidak memiliki hubungan dekat dengannya?

Jika ada jawaban “ya” pada satu atau semua pertanyaan di atas, maka Anda cenderung  memiliki daddy issue yang terbawa hingga dewasa.

Baca Juga: Toxic Masculinity: Definisi, Masalah Umum, dan Cara Mengatasinya

Apa yang Harus Dilakukan Bila Memiliki Tanda Daddy Issue?

Apabila Anda memiliki hubungan yang tidak sehat dengan ayah Anda, jangan menjadikannya patokan atau standar untuk hubungan Anda di masa depan. Carilah contoh hubungan lain di sekitar Anda yang lebih sehat dan positif untuk diterapkan ke hubungan Anda sendiri di masa sekarang atau masa depan.

Anda juga bisa menemui terapi untuk mendapatkan bantuan psikologis, sehingga Anda bisa memperbaiki perilaku daddy issue dalam hubungan Anda.

Beberapa orang mungkin memiliki daddy issue tersendiri dalam diri mereka, baik itu disebabkan ketiadaan figur ayah, orang tua yang sering bertengkar, atau perceraian kedua orang tua. Namun Anda harus ingat bahwa Anda berhak untuk bahagia, meskipun tumbuh di lingkungan yang tidak ideal. Jangan biarkan kisah sedih Anda di masa kecil menghantui Anda hingga dewasa.

 

  1. Keller, Sonja. 2020. 6 Signs You May Have “Daddy Issues” (aka Attachment Issues). https://www.mindbodygreen.com/0-13968/if-daddy-issues-are-affecting-your-relationships-read-this.html. (Diakses pada 15 Oktober 2021).
  2. Kentucky Counseling Center. 2021. Do I Have Daddy Issues? The Real Psychology Behind Daddy Issues. https://kentuckycounselingcenter.com/do-i-have-daddy-issues-the-real-psychology/. (Diakses pada 15 Oktober 2021).
  3. Santos-Longhurst, Adrienne. 2020. Yes, ‘Daddy Issues’ Are a Real Thing — Here’s How to Deal. https://www.healthline.com/health/what-are-daddy-issues#takeaway. (Diakses pada 15 Oktober 2021).
  4. Vinney, Cynthia. 2021. Daddy Issues: History, Impact, and How to Cope. https://www.verywellmind.com/what-are-daddy-issues-5190911. (Diakses pada 15 Oktober 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi