Terbit: 25 March 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Peer pressure atau tekanan lingkungan dapat berupa hal positif maupun negatif. Semua orang akan menghadapi kondisi ini pada satu titik hidupnya, terutama pada usia anak dan remaja. Meski begitu, kondisi ini juga bisa dialami oleh orang dewasa.

Mengenal Peer Pressure dan Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

Apa itu Peer Pressure?

Pada dasarnya, semua orang memiliki peer atau orang-orang sekitar. Mereka adalah orang yang berada di lingkungan yang sama, memiliki kegiatan atau berusia sama dengan Anda.

Teman-teman sekolah, teman lingkungan, atau rekan kerja adalah peer bagi seseorang. Tidak semua kenalan akan menjadi teman, tetapi pengaruh dari mereka bisa jadi sama besarnya. 

Peer pressure dapat berupa hal positif maupun negatif. Jika tekanan itu positif, seseorang akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan tekanan negatif akan memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu agar dapat tetap diterima di kelompok tersebut. Jika tidak dilakukan, Anda akan tertolak. Namun jika dilakukan, akan terasa tidak nyaman, berdosa atau malu.

Saat bicara tentang peer pressure, makna konotasi negatif yang selalu dipakai. Beberapa contohnya adalah:

  • Harus berpenampilan tertentu.
  • Dipaksa memberi contekan atau menyontek.
  • Tidak boleh menerima orang tertentu dalam lingkaran pergaulan.
  • Memaksa melakukan tindakan berbahaya.
  • Mengajak merokok dan atau menggunakan narkoba.
  • Mengikat seseorang dalam hubungan yang bersifat seksual.
  • Melibatkan seseorang dalam kegiatan merundung  atau melanggar hukum.
  • Melakukan tindakan tidak terpuji di media sosial.

Baca Juga: Mental Breakdown: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Cara Mengatasi Peer Pressure?

Meskipun kondisi ini hampir dialami oleh semua orang, tekanan seperti ini harus dilawan. Langkah pertama adalah dengan mengidentifikasikan pressure yang didapat. 

Apakah berbentuk bujukan atau paksaan? Seberapa berbahaya? Seberapa besar efeknya jika dilawan langsung? Apakah perlu dukungan dari pihak yang berwenang?

Mengenali tekanan yang didapat akan memudahkan Anda untuk mengatur langkah dan menentukan sikap. 

Baca Juga: 14 Cara Menjaga Kesehatan Mental (Mudah Dilakukan)

Menghadapi peer pressure juga bisa menjadi momen yang menakutkan dan penuh perjuangan. Terutama jika terjadi pada masa anak-anak dan remaja. Namun membiarkan diri diseret begitu saja juga bukan solusi terbaik.

Perlu diingat bahwa kondisi setiap orang berbeda. Diperlukan pertimbangan sebelum melakukan suatu tindakan. Lantas, bagaimana cara mengatasi peer pressure? Berikut ini adalah beberapa saran yang mungkin berguna, di antaranya:

  • Banyak bertanya saat diajak melakukan hal negatif. Misalnya saat diajak merokok, tanyakan mengapa merokok? Sudah berapa lama merokok? Tidakkah dia tahu itu berbahaya? Jika Anda tidak ingin ikut merokok, apa menjadi masalah baginya?
  • Tinggalkan saat kondisi tidak lagi kondusif. Jika bujukan berubah menjadi paksaan, lebih baik tinggalkan lokasi. Ajukan alasan yang logis dan kuat, katakan bahwa Anda memiliki masalah kesehatan, ada kegiatan penting yang tidak bisa ditinggalkan, dll.
  • Cermati hati dan insting. Jika suatu perbuatan menjadikan Anda tidak nyaman, takut, bimbang, tidak tenang, atau malu, maka bisa dipastikan itu adalah perbuatan tidak patut. Jika insting sudah mengatakan tidak, maka jangan lanjutkan perbuatan itu.
  • Jangan ragu untuk berkata tidak. Menolaklah dengan sopan tetapi tegas. Tatap mata lawan bicara Anda, sampaikan ketidaksetujuan jika memungkinkan. Penolakan bisa dilakukan dengan sedikit candaan dan gestur santai, tetapi pertahankan prinsip Anda.
  • Miliki kata sandi khusus yang dapat Anda ucapkan atau kirimkan melalui teks ke orang tua atau saudara. Kata sandi ini dapat digunakan di saat darurat hingga mereka dapat menghubungi Anda, menjemput atau meminta  bantuan.
  • Sebelum ikut berkumpul dengan kelompok baru atau tempat baru, cari tahu tentang acara yang akan berlangsung. Jika ada kemungkinan pemicu masalah, misalnya alkohol, lebih baik untuk tidak berpartisipasi.
  • Selalu berbagi kabar dengan keluarga.
  • Bagi anak-anak atau remaja, sebaiknya didampingi oleh orang yang lebih tua saat pertama kali mengikuti pesta. 
  • Carilah teman yang memiliki prinsip dan nilai-nilai yang sama. Menolak akan lebih mudah jika dilakukan bersama-sama.
  • Cintai diri sendiri. Selalu berpikir baik buruknya bagi diri sebelum mengikuti ajakan atau tekanan orang lain. Pikirkan juga efeknya pada orang tua, keluarga, serta orang-orang tercinta di dekat Anda.
  • Pilih-pilih teman bukanlah perbuatan terlarang. Berkenalan dan bersikap baiklah kepada siapa saja, tetapi pilih yang benar-benar sesuai dengan prinsip dan nilai Anda untuk dijadikan teman.
  • Saat ingin mengonfrontasi langsung, lakukan empat mata dengan sang pemimpin kelompok. Lebih baik menghadapinya berdua dan katakan keberatan Anda. 
  • Cari dukungan dari orang tua, guru, atau konselor. Jika terjadi di tempat kerja atau lingkungan dewasa, laporkan pada atasan, kepala lingkungan, atau pihak berwajib.
  • Evaluasi lingkarang pertemanan Anda.
  • Fokuslah pada cita-cita dan tujuan pribadi alih-alih mengutamakan tujuan kelompok.
  • Kendalikan mood, karena kondisi emosi akan mempengaruhi reaksi.

Hal penting lain yang juga harus diingat adalah menyadari bahwa diri Anda penting, pantas dihargai, dan tidak patut ditekan. Jika lingkungan Anda saat ini tidak membawa kenyamanan dan cenderung memengaruhi secara negatif, lebih baik mencari teman baru. Sesulit apapun, peer pressure harus dihadapi dan dihentikan sebelum efeknya semakin menjerumuskan.

 

  1. Anonim. 2018. Peer pressure and fitting in. https://kidshelpline.com.au/teens/issues/peer-pressure-and-fitting. (Diakses pada 25 Maret 2022).
  2. Anonim. 2020. 20 Ways to Avoid Peer Pressure. https://yourlifecounts.org/learning-center/peer-pressure/20-ways-to-avoid-peer-pressure/#. (Diakses pada 25 Maret 2022).
  3. Anonim. 2022. How to Handle Peer Pressure. https://www.fcps.edu/student-wellness-tips/peer-pressure. (Diakses pada 25 Maret 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi