Terbit: 7 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Ada berbagai macam gangguan kesehatan akibat infeksi jamur, salah satunya tinea barbae. Ketahui lebih lanjut  mengenai kondisi ini mulai dari ciri-ciri, penyebab, faktor risiko, hingga pengobatan dan pencegahannya.

Tinea Barbae: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Tinea Barbae?

Tinea barbae adalah satu dari beberapa macam infeksi yang disebabkan oleh jamur kulit. Infeksi ini khususnya menyerang area kulit wajah dan leher di mana terdapat rambut. Tinea barbae umumnya dialami oleh pria dewasa.

Infeksi sendiri bersifat zoofilik. Itu artinya, infeksi terjadi melalui perantara hewan. Kucing dan hewan ternak seperti kuda menjadi perantara umum dari tinea barbae. Oleh sebab itu, penyakit kulit yang satu ini kerap dialami oleh mereka yang memiliki hewan peliharaan maupun yang beraktivitas di area peternakan.

Ciri dan Gejala Tinea Barbae

Tinea barbae menyebabkan area kulit wajah dan leher yang terdapat rambut—janggut dan kumis—mengalami peradangan (inflamasi). Hal ini lantas menimbulkan sejumlah ciri atau gejala. Gejala yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Terdapat benjolan berwarna kemerahan
  • Area kulit yang terdampak membengkak
  • Muncul nanah
  • Kulit tampak kasar dan berkerak
  • Rambut-rambut pada area kulit yang terinfeksi mengalami kerontokan

Uniknya, benjolan atau bengkak tersebut tidak disertai dengan rasa gatal atau bahkan sakit. Akan tetapi, pada beberapa kasus, gejala gatal dan sakit tersebut juga turut muncul. Ini biasanya apabila infeksi sudah terbilang parah.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit apabila mengalami gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas. Penanganan medis yang cepat perlu dilakukan guna mempermudah proses penyembuhan sekaligus mencegah penyakit bertambah buruk yang bisa saja membahayakan tubuh.

Penyebab Tinea Barbae

Penyebab tinea barbae adalah infeksi jamur. Ada 2 (dua) jenis jamur yang memainkan peran penting dalam kasus ini, yaitu:

  • Trichophyton mentagrophytes equinum. Jamur ini umumnya berasal dari hewan ternak yakni kuda.
  • Trichophyton verrucosum. Jamur ini umumnya berasal dari hewan peliharaan seperti kucing.

Selain kedua jamur tersebut, ada juga jenis jamur lainnya yang menjadi penyebab penyakit kulit ini, yaitu Trichophyton violaceum dan Trichophyton rubrum. Proses penularan tinea barbae hanya terjadi dari hewan ke manusia. Namun, individu yang sudah terinfeksi jamur bisa saja menularkannya kepada orang lain.

Faktor Risiko Tinea Barbae

Seseorang berisiko untuk terkena penyakit infeksi kulit ini apabila:

  • Memiliki hewan peliharaan (kucing, dsb.)
  • Bekerja di peternakan dan kontak langsung dengan hewan ternak, terutama kuda
  • Tidak menjaga kebersihan diri dan hewan peliharaan maupun ternak

 

Diagnosis Tinea Barbae

Dalam mendiagnosis tinea barbae, dokter akan melakukan 3 (tiga) tahapan pemeriksaan yang meliputi:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait dengan keluhan yang dialami. Pertanyaan meliputi:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah memiliki hewan peliharaan?
  • Apakah bekerja di peternakan?

Anamnesis merupakan tahap awal untuk mengidentifikasi kondisi yang dialami oleh pasien. Sesudah ini, dokter akan beralih ke tahapan pemeriksaan fisik.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien, dalam hal ini, kulit di wajah yang terdapat rambut atau bulu. Melalui pemeriksaan fisik, dokter mungkin sudah dapat memastikan apakah pasien memang mengalami tinea barbae atau tidak.

Akan tetapi, ada kalanya dokter mungkin masih ragu terhadap gejala yang timbul tersebut. Jika kasusnya seperti ini, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan guna memperkuat hasil diagnosis, atau jika pemeriksaan fisik tidak cukup untuk memastikan penyakit yang diderita oleh pasien. Pada kasus tinea barbae, pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah biopsi.

Biopsi adalah tindakan medis di mana dokter akan mengambil sampel jaringan tubuh—dalam hal ini jaringan di kulit pasien yang mengalami tinea—untuk kemudian sampel tersebut akan dianalisis lebih jauh di laboratorium, dilihat di bawah mikroskop. Dikarenakan munculnya nanah bisa disebabkan oleh penyakit kulit lainnya, maka prosedur biopsi ini menjadi cukup penting untuk dilakukan.

Setelah sampel nanah diambil, dokter akan segera memeriksanya di laboratorium. Pemeriksaan laboratorium ini akan menjelaskan apakah memang pasien mengalami infeksi jamur Trichophyton mentagrophytes  var. equinum atau Trichophyton verrucosum.

Melalui pemeriksaan penunjang ini jugalah dokter dapat menyimpulkan seberapa parah infeksi yang dialami oleh pasien. Tingkat keparahan nantinya akan memengaruhi tindakan pengobatan yang tepat demi mengoptimalkan penyembuhan pasien.

Pengobatan Tinea Barbae

Seperti yang telah disebutkan, pengobatan penyakit infeksi kulit ini tergantung dari tingkat keparahannya. Pada kasus yang termasuk ringan dan tidak berbahaya, dokter biasanya hanya akan meresepkan obat oles (topikal) antijamur. Pasien akan diminta untuk mencukur rambut atau bulu pada kulit wajah terlebih dahulu guna mempermudah pengobatan.

Selain obat topikal, pada beberapa kasus dokter juga akan memberikan obat minum (oral) dengan fungsi yang sama, yakni untuk menghambat perkembangan jamur penyebab infeksi. Obat oral yang dimaksud antara lain:

  • Terbinafine
  • Itraconazole
  • Griseofulvin

Apabila pengobatan dilakukan secara benar, tinea barbae biasanya akan sembuh dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan. Segera periksakan diri ke dokter apabila penyakit tak kunjung membaik kendati sudah diberikan obat-obatan.

 

Komplikasi Tinea Barbae

Mayoritas kasus infeksi ini tidak berbahaya dan juga tidak sampai menimbulkan komplikasi. Akan tetapi, jika tidak segera diobati, penyakit ini bisa berkembang dan menyebabkan infeksi sekunder yang ditandai oleh munculnya nanah pada area kulit yang terdampak.

Pencegahan Tinea Barbae

Cara mencegah penyakit kulit yang satu ini adalah sebagai berikut:

  • Menjaga kebersihan hewan peliharaan maupun hewan ternak.
  • Selalu membersihkan diri setelah kontak langsung dengan hewan.
  • Hindari kontak dengan orang yang terinfeksi penyakit ini untuk sementara waktu sampai orang tersebut sembuh.

 

  1. Anonim. Beard Ringworm (Tinea Barbae). https://www.msdmanuals.com/home/skin-disorders/fungal-skin-infections/beard-ringworm-tinea-barbae#:~:text=(Barber’s%20Itch)&text=Beard%20ringworm%20is%20a%20dermatophyte,Trichophyton%20mentagrophytes%20or%20Trichophyton%20verrucosum. (diakses pada 7 September 2020)
  2. Anonim. Tinea barbae. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/tinea-barbae (diakses pada 7 September 2020)
  3. Anonim. Tinea Barbae. https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=874036 (diakses pada 7 September 2020)


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi