Terbit: 25 February 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sindrom Crigler-Najjar yaitu kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah mengalami peningkatan (hiperbilirubinemia). Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga pengobatan.

Sindrom Crigler-Najjar: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Sindrom Crigler-Najjar?

Sindrom Crigler-Najjar adalah penyakit keturunan langka yang ditemukan pada anak-anak, di mana zat yang diproses oleh hati—yang disebut bilirubin—tidak dapat diubah menjadi bentuk yang larut dalam air (bilirubin terkonjugasi).

Bilirubin tak terkonjugasi terkumpul di hati dan limpa, memasuki sirkulasi, dan kemudian menumpuk di jaringan lain seperti mata dan kulit. Penumpukan ini menyebabkan penyakit kuning dan akhirnya bisa menyebabkan kerusakan saraf serta otak.

Jenis Sindrom Crigler-Najjar

Sindrom ini dibagi menjadi dua jenis. Tipe 1 (CN1) sangat parah dan individu yang terkena dapat meninggal di masa anak-anak karena kernikterus. Tipe 2 (CN2) tidak terlalu parah, seseorang dengan dengan CN2 lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan kernikterus dan sebagian besar individu yang terkena dapat bertahan hidup hingga dewasa.

Gejala Sindrom Crigler-Najjar

Pada dasarnya, gejala sindrom ini dibedakan berdasarkan tipe. Pada tipe I, seorang anak yang mengidap sindrom ini mengalami kekuningan yang parah pada kulit, selaput lendir, dan bagian putih mata. Gejala bisa bertahan hingga tiga minggu pertama kehidupan.

Bayi berisiko mengembangkan kernikterus pada bulan pertama kehidupan. Kernikterus adalah kondisi neurologis yang berpotensi mengancam nyawa di mana kadar bilirubin menumpuk di otak, menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat.

Tanda-tanda awal kernikterus mungkin termasuk lesu, muntah, demam, dan tidak berselera makan. Gejala lain yang mungkin terjadi termasuk:

  • Tidak adanya refleks tertentu.
  • Kejang otot ringan hingga parah.
  • Gerakan otot yang tidak terkontrol (spastisitas).

Sementara itu, sindrom Crigler-Najjar tipe II adalah kelainan yang lebih ringan daripada tipe I. Penyakit kuning yang terjadi meningkat selama bayi sakit, tidak makan untuk waktu yang lama, atau berada di bawah pengaruh anestesi.

Pada beberapa kasus, kondisi ini bahkan tidak terdiagnosis sampai usia dewasa. Kernikterus jarang ditemukan pada tipe ini.

Penyebab Sindrom Crigler-Najjar

Mutasi pada gen UGT1A1 adalah penyebab utama sindrom ini. Gen ini memberikan instruksi untuk membuat enzim bilirubin uridine diphosphate glucuronosyl transferase (bilirubin-UGT), yang ditemukan terutama di sel hati dan diperlukan untuk menghilangkan bilirubin dari tubuh.

Enzim bilirubin-UGT melakukan reaksi kimia yang disebut glukuronidasi. Selama reaksi ini, enzim mentransfer senyawa yang disebut asam glukuronat ke bilirubin tak terkonjugasi, mengubahnya menjadi bilirubin terkonjugasi. Glucuronidation membuat bilirubin larut dalam air sehingga bisa dikeluarkan dari tubuh.

Mutasi pada gen UGT1A1 yang menyebabkan sindrom Crigler-Najjar mengakibatkan berkurang atau hilangnya fungsi enzim bilirubin-UGT. Orang dengan CN1 tidak memiliki fungsi enzim, sedangkan orang dengan CN2 memiliki fungsi normalnya kurang dari 20 persen.

Hilangnya fungsi bilirubin-UGT menurunkan glukuronidasi bilirubin tak terkonjugasi. Zat beracun ini kemudian menumpuk di dalam tubuh, menyebabkan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi dan penyakit kuning.

Diagnosis Sindrom Crigler-Najjar

Diagnosis dapat dicurigai dalam beberapa hari pertama kehidupan dengan melihat warna kuning pada kulit bayi. Keadaan ini juga dapat dikonfirmasi dengan evaluasi klinis menyeluruh, temuan karakteristik, riwayat pasien, dan pengujian khusus.

Misalnya, pada bayi dengan kelainan ini, tes darah menunjukkan kadar bilirubin tak terkonjugasi yang sangat tinggi tanpa adanya peningkatan kadar degenerasi sel darah merah (hemolisis), seperti pada penyakit Rh (isoimunisasi). Selain itu, analisis empedu menunjukkan tidak ada glukuronida bilirubin yang terdeteksi dan analisis urine mungkin menunjukkan kekurangan bilirubin.

Selain itu, pengujian genetik molekuler dapat memastikan diagnosis sindrom Crigler-Najjar. Tes ini dapat mendeteksi mutasi pada gen UGT1A1 yang diketahui menyebabkan kelainan. Namun layanan diagnosis ini hanya tersedia di laboratorium khusus.

 

Pengobatan Sindrom Crigler-Najjar

Pasien dengan sindrom Crigler-Najjar tipe II mungkin tidak memerlukan pengobatan apa pun atau dapat dikelola dengan phenobarbital (obat untuk meredakan kejang). Sebaliknya, pengobatan kernikterus yang tepat diperlukan pada pasien dengan jenis tipe I untuk menghindari gejala neurologis yang berpotensi merusak.

Penatalaksanaan segera dari ensefalopati bilirubin melibatkan transfusi pertukaran plasma, yang bekerja dengan membuang albumin yang jenuh bilirubin dan menyediakan protein gratis, yang menarik bilirubin dari jaringan.

Pertukaran plasma harus disertai dengan fototerapi jangka panjang, suatu prosedur di mana anak dihadapkan pada cahaya LED biru. Cahaya tersebut memecah bilirubin tak terkonjugasi menjadi senyawa yang tidak beracun bagi jaringan.

Paparan cahaya yang berkepanjangan menyebabkan kulit anak menebal dan meningkatkan kebutuhan akan rejimen fototerapi yang lebih intens. Kebutuhan akan fototerapi secara signifikan dapat menghambat kualitas hidupnya.

  • Perawatan Harian

Pengobatan harian termasuk Actigall®, phenobarbital, vitamin E, vitamin C, coenzyme Q, L-carnitine, dan creatine. Ketika bilirubin tak terkonjugasi mencapai tingkat toksik, penyakit ini ditangani dengan hidrasi cairan intravena yang agresif, penatalaksanaan peningkatan glukosa, pemberian albumin, dan kemungkinan pertukaran plasma dengan harapan menghindari masalah neurologis.

  • Transplantasi Hati

Organ hati yang baru memiliki kemampuan untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi (yang tidak dapat dikeluarkan dari tubuh) menjadi bilirubin terkonjugasi (yang dapat dikeluarkan dari tubuh).

Pengobatan imunosupresan diperlukan untuk mencegah penolakan hati dan obat profilaksis digunakan untuk melawan pneumocystis carinii pneumonia (PCP), ini adalah dua obat yang dibutuhkan satu tahan pascatransplantasi.

Transplantasi hati memungkinkan pasien dapat menjalani aktivitas normal tanpa menggunakan fototerapi dan tanpa rasa takut akan kerusakan saraf.

Pencegahan Sindrom Crigler-Najjar

Gunakan obat yang menggantikan bilirubin, seperti sulfa, salisilat, furosemide, ampicillin, dan ceftriaxone, dengan hati-hati (atau hindari sama sekali).

Perlu Anda ketahui, tingkat bilirubin dapat dengan cepat naik ke tingkat yang berbahaya dalam kondisi tertentu, seperti puasa, infeksi, trauma, demam, dan  kepatuhan yang buruk terhadap terapi.

Konseling genetik direkomendasikan untuk individu yang terkena dampak. Dukungan psikososial untuk seluruh keluarga adalah sesuatu yang penting.

 

  1. Anonim. Crigler Najjar Syndrome. https://rarediseases.org/rare-diseases/crigler-najjar-syndrome/#:~:text=Crigler-N. (Diakses pada 25 Februari 2021).
  2. Anonim. Crigler-Najjar syndrome. https://medlineplus.gov/genetics/condition/crigler-najjar-syndrome/#frequency. (Diakses pada 25 Februari 2021).
  3. Anonim. Crigler-Najjar Syndrome Symptoms and Treatment.
    https://www.chp.edu/our-services/transplant/liver/education/liver-disease-states/crigler-najjar-syndrome. (Diakses pada 25 Februari 2021).
  4. Nazer, Hisham. 2020. Unconjugated Hyperbilirubinemia. https://emedicine.medscape.com/article/178841-overview. (Diakses pada 25 Februari 2021).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi