Terbit: 7 Desember 2021
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Berada di dalam satu ruangan dalam jangka waktu lama ternyata bisa menimbulkan efek sakit yang dikenal dengan nama Sick Building Syndrome (SBS). SBS umumnya terjadi pada pegawai di gedung perkantoran saat sudah terlalu lama berada di dalamnya. Penyakit ini juga diduga disebabkan oleh udara yang kurang bersih.

Sick Building Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Apa itu Sick Building Syndrome?

Sick building syndrome adalah kondisi yang merujuk pada keluhan seseorang saat bekerja di dalam gedung. Keluhan akan meningkat seiring bertambahnya waktu beraktivitas di dalam bangunan tersebut. Ketika meninggalkan gedung, keluhan tersebut akan hilang.

Gejala Sick Building Syndrome

SBS banyak dialami oleh para pekerja kantoran, penghuni rumah susun atau apartemen, serta mereka yang menghabiskan hampir seluruh waktunya seharian di dalam gedung.

Konstruksi gedung yang salah dan kekeliruan dalam membuat ventilasi udara dituding sebagai faktor utama terjadinya SBS.

SBS menunjukkan gejala-gejala yang mirip dengan sakit flu dan kelelahan fisik serta mental biasa. Contoh sick building syndrome dan gejalanya adalah:

  • Batuk kering diiringi oleh sakit pada tenggorokan.
  • Sakit pada kepala dan leher.
  • Sesak napas, dada terasa terhimpit.
  • Bersin dan pilek dalam waktu yang lama, mirip dengan gejala alergi.
  • Mual, pusing dan sulit berkonsentrasi pada pekerjaan.
  • Mata sakit, terasa pegal dan cepat lelah.
  • Gatal-gatal dan ruam pada beberapa bagian kulit.
  • Menjadi sangat sensitif, mudah marah, dan mudah lupa.

Anehnya, jika diperiksa secara medis tidak ada kelainan fisik yang berhubungan dengan gejala-gejala tersebut. Hampir semua keluhan pun akan berkurang dan menghilang begitu penderita keluar dari gedung.

Baca Juga: Claustrophobia: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dll

Gejala Sick Building Syndrome

Selain faktor konstruksi dan penempatan ventilasi yang salah, ada beberapa penyebab lain SBS, yaitu:

  • Penggunaan cat yang tidak aman sehingga meracuni pernapasan secara perlahan.
  • Pendingin udara yang tidak dibersihkan sehingga debu, tungau dan kotoran lain justru ikut keluar dan menyebar di dalam ruangan.
  • Polusi dan asap kendaraan bermotor di sekitar gedung.
  • Jika ada pekerja yang tetap merokok walaupun di dalam ruangan ber-AC, keluhan akan menjadi jauh lebih parah.

Faktor Risiko Sick Building Syndrome

Tidak semua orang mengalami SBS. Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit ini. Misalnya:

  • Perokok, apalagi jika diiringi oleh pola makan tidak sehat dan jarang berolahraga.
  • Penderita penyakit saluran pernapasan seperti asma atau penderita alergi dapat merasakan gejala yang lebih berat.
  • Kebiasaan bekerja dalam jangka waktu lama, melewatkan waktu istirahat juga dapat menambah faktor risiko terkena penyakit ini.

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Depresi yang Disebabkan oleh Pekerjaan

Cara Mengatasi Sick Building Syndrome

Jika hal-hal di atas sulit untuk dilakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sementara penderita masih harus bekerja di tempat tersebut, maka dapat dilakukan hal-hal berikut:

  • Melarang karyawan untuk merokok di dalam ruang ber-AC.
  • Pembatasan jam kerja bagi penderita SBS, atau dengan menetapkan waktu istirahat yang lebih panjang.
  • Penderita SBS dianjurkan untuk tetap mengkonsumsi makanan seimbang yang tinggi gizi, serta mengambil kesempatan untuk keluar gedung saat jam istirahat tiba.
  • Menggunakan pembersih udara (air purifier) untuk menghilangkan debu, polusi dan kuman dari udara.
  • Menggunakan pelapis layar anti radiasi pada komputer untuk mencegah mata lelah dan berair.

Penderita SBS dianjurkan untuk mengunjungi dokter apabila gejala yang dirasakan sudah sangat mengganggu kondisi fisik dan produktivitas.

Obat yang diberikan hanya sebatas mengurangi rasa tidak nyaman akibat SBS saja. Tidak bisa menyembuhkannya karena selama penderita berada di gedung tersebut, maka akan tetap terpapar pencetus SBS.

Cara Mencegah Sick Building Syndrome

Walaupun tidak bisa diobati selama kondisi tempat bekerja masih sama, SBS bisa dicegah. Caranya adalah dengan mengatur keseimbangan antara bekerja di dalam gedung dengan beristirahat dan keluar dari gedung.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah cara mencegah sick building syndrome.

  • Jika tiba saat break, beristirahatlah dan keluarlah dari ruangan atau gedung tempat bekerja. Menghirup udara segar dapat membantu mengatasi rasa tidak nyaman akibat SBS.
  • Lakukan pola 20-20-20. Maksudnya setelah bekerja menatap komputer selama 20 menit, alihkan pandangan menuju objek yang hijau dan jauh selama 20 detik. Lalu kembali bekerja selama 20 menit. Hal ini akan membantu mengatasi mata lelah dan sakit kepala.
  • Tidur yang cukup, konsumsi suplemen dan berolahraga secara teratur.
  • Sesekali bukalah jendela agar udara segar masuk ke dalam ruangan menggantikan udara AC.

Baca Juga: 7 Tips Tetap Sehat dan Bugar Meski Kerja Kantoran

Walaupun gejala yang mengiringi SBS dapat berkurang bahkan hilang sama sekali saat penderita keluar dari gedung. Namun jika dibiarkan tentu akan sangat mengganggu kondisi fisik.

Belum lagi produktivitas kerja yang menurun. Serta tekanan mental yang menyertainya. Maka diperlukan tindakan untuk mencegah sindrom ini.

Cara mengurangi risiko sick building syndrome adalah:

  • Memperbaiki letak ventilasi pada gedung.
  • Mengganti pemakaian cat dengan jenis cat yang tidak berbahaya bagi kesehatan.
  • Membersihkan pendingin ruangan dan saluran pembuangan secara berkala.

Setelah mengetahui pengertian sick building syndrome beserta gejala dan cara mencegahnya, semoga akan lebih banyak gedung dan unit perkantoran yang lebih ramah terhadap kesehatan para penghuninya.

Dari sisi perusahaan, berusaha meminimalisir terjadinya SBS juga merupakan cara ampuh menjaga produktivitas karyawan.

Sementara bagi pekerja kantoran, jangan lupakan  istirahat, gaya hidup sehat, dan asupan vitamin yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh.

  1. Cherney, Kristeen. 2018. SBS. https://www.healthline.com/health/sick-building-syndrome. (Diakses pada 01 Desember 2021).
  2. Joshi, Sumedha M. 2008. The sick building syndrome. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2796751/. (Diakses pada 01 Desember 2021).
  3. National Health Service. 2020. Sick building syndrome. https://www.nhs.uk/conditions/sick-building-syndrome/. (Diakses pada 01 Desember 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi