Terbit: 15 Maret 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Perlemakan hati non-alkohol adalah berbagai masalah kesehatan akibat penumpukan lemak dalam sel-sel hati. Penyakit ini dapat menyebabkan sirosis, jaringan parut stadium akhir di hati. Baca terus untuk mendapatkan informasi lengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, hingga pengobatannya di bawah ini!

Perlemakan Hati Non-Alkohol: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Komplikasi, dll

Apa itu Perlemakan Hati Non-Alkohol?

Perlemakan hati non-alkohol (nonalcoholic fatty liver disease/NAFLD) adalah istilah untuk berbagai kondisi yang disebabkan oleh penumpukan lemak di sel-sel hati. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang yang minum sedikit alkohol atau bukan peminum sama sekali, dan orang yang kelebihan berat badan (obesitas).

Perlemakan hati non alkohol tahap awal biasanya tidak mengakibatkan kerusakan apa pun, tetapi dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius, termasuk sirosis (jika kondisinya semakin berat). Memiliki kadar lemak yang tinggi di sel-sel hati juga terkait dengan risiko tinggi masalah kesehatan yang serius, seperti diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan penyakit ginjal.

Tanda dan Gejala Perlemakan Hati Non-Alkohol

Biasanya NAFLD pada tahap awal tidak menimbulkan gejala. Penderita penyakit ini mungkin tidak akan menyadarinya bahwa telah memilikinya kecuali apabila didiagnosis selama tes yang dilakukan karena alasan lain.

Terkadang penderita NASH atau fibrosis (tahap NAFLD yang lebih lanjut) mungkin mengalami gejala berikut:

  • Nyeri tumpul atau sakit di bagian kanan atas perut (di atas sisi kanan bawah tulang rusuk).
  • Kelelahan yang luar biasa.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Kelemahan.

Apabila sirosis (tahap paling lanjut) berkembang, penderitanya bisa mengalami gejala yang lebih berat, seperti menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice), kulit gatal, dan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, kaki atau perut (edema).

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Jika dirasa memiliki gejala perlemakan hati non alkohol yang telah disebutkan di atas atau gejala persisten yang membuat Anda khawatir, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Baca Juga: Perlemakan Hati: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan, dll

Penyebab Perlemakan Hati Non-Alkohol

Tidak diketahui persis apa yang menyebabkan lemak menumpuk di hati. Namun, NAFLD dan nonalcoholic steatohepatitis (NASH) terkait dengan faktor berikut ini:

  • Kegemukan atau obesitas.
  • Resistensi insulin, di mana sel-sel tidak mengambil gula sebagai respons terhadap hormon insulin.
  • Gula darah tinggi (hiperglikemia), yang menandakan pradiabetes atau diabetes tipe 2.
  • Tingginya kadar lemak, terutama trigliserida dalam darah.

Gabungan dari masalah kesehatan ini muncul yang memicu penumpukan lemak di sel-sel hati. Untuk sebagian orang, kelebihan lemak bertindak sebagai racun bagi sel-sel hati, yang menyebabkan peradangan hati dan NASH. Ini dapat menyebabkan penumpukan jaringan parut di hati.

Faktor Risiko Perlemakan Hati Non-Alkohol

Berbagai penyakit dan kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami NAFLD, ini termasuk:

  • Kolesterol tinggi.
  • Sindrom metabolik.
  • Tingginya kadar trigliserida dalam darah.
  • Obesitas, terutama ketika lemak menumpuk di perut.
  • Sindrom ovarium polikistik.
  • Sleep apnea (gangguan tidur).
  • Diabetes tipe 2.
  • Hipotiroidisme (tiroid kurang aktif).
  • Hipopituitarisme (kelenjar pituitari yang kurang aktif)

Diagnosis Perlemakan Hati Non-Alkohol

Mengingat NAFLD tidak menimbulkan gejala dalam banyak kasus, biasanya menjadi perhatian medis ketika tes yang dilakukan untuk alasan lain menunjukkan masalah hati. Kondisi ini dapat terjadi apabila hati tampak tidak biasa saat pemeriksaan USG atau jika memiliki tes enzim hati yang tidak normal.

Tes untuk menentukan diagnosis dan menentukan tingkat keparahan penyakit, meliputi:

1. Tes darah

Berikut ini tes darah untuk tujuan berikut ini:

  • Hitung darah lengkap.
  • Tes skrining penyakit celiac.
  • Tes enzim hati dan fungsi hati.
  • Gula darah puasa.
  • Tes untuk hepatitis virus kronis (hepatitis A, hepatitis C, dan lainnya).
  • Hemoglobin A1C, untuk menunjukkan seberapa stabil gula darah.
  • Profil lipid, untuk mengukur lemak darah, seperti kolesterol dan trigliserida.

2. Pencitraan

Prosedur pencitraan yang digunakan untuk mendiagnosis NAFLD, meliputi:

  • Ultrasonografi perut, tes yang biasanya dilakukan untuk tes awal ketika diduga adanya penyakit hati.
  • Computerized tomography (CT) scanning atau magnetic resonance imaging (MRI) perut. Meskipun teknik pencitraan ini tidak memiliki kemampuan untuk membedakan NASH dari NAFLD, tetapi masih bisa digunakan untuk mendiagnosis.
  • Elastografi Transien (ET), bentuk ultrasound yang disempurnakan untuk mengukur kekakuan hati, yang menunjukkan fibrosis atau jaringan parut.
  • Magnetic resonance elastography, tes yang bekerja dengan menggabungkan pencitraan MRI dengan gelombang suara untuk membuat peta visual (elastogram) yang menunjukkan kekakuan jaringan tubuh.

3. Pemeriksaan jaringan hati

Jika sebelumnya tidak meyakinkan, dokter mungkin merekomendasikan prosedur untuk mengambil sampel jaringan dari hati (biopsi hati). Sampel jaringan akan diperiksa di laboratorium untuk mencari tanda-tanda peradangan dan jaringan parut.

Biopsi hati mungkin menyebabkan ketidaknyamanan dan memiliki sedikit risiko.

Pengobatan Perlemakan Hati Non-Alkohol

Kebanyakan penderita NAFLD tidak akan mengalami masalah serius, tetapi jika didiagnosis dengan kondisi tersebut, sebaiknya mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya menjadi lebih buruk.

Sampai saat ini tidak ada obat khusus untuk NAFLD, tetapi menjalani gaya hidup sehat bisa membantu. Perawatan juga mungkin dianjurkan untuk kondisi terkait (seperti hipertensi, diabetes dan kolesterol) atau komplikasi.

Pasien mungkin dianjurkan untuk membuat janji rutin dengan dokter untuk memeriksa fungsi hati dan mencari tanda-tanda masalah baru.

Adapun perawatan untuk perlemakan hati non-alkohol, berikut di antaranya:

1. Obat-obatan

Meskipun saat ini tidak ada obat untuk mengobati NAFLD, tetapi berbagai obat bisa bermanfaat dalam mengatasi masalah yang terkait dengan kondisi tersebut. Dokter mungkin menganjurkan obat untuk mengobati hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, dan obesitas.

2. Transplantasi hati

Jika pasien mengalami sirosis berat dan hati berhenti bekerja dengan baik, pasien mungkin perlu dimasukkan ke dalam daftar tunggu untuk menjalani transplantasi hati.

Mengingat hati bisa meregenerasi dirinya sendiri, baik bagian yang ditransplantasikan maupun bagian yang tersisa dari hati pendonor bisa tumbuh kembali ke ukuran normal.

Baca Juga: Fatty Liver (Perlemakan Hati), Waspadai Bahaya dan Cara Mencegahnya!

Komplikasi Perlemakan Hati Non-Alkohol

Komplikasi utama dari NAFLD adalah sirosis, merupakan jaringan parut stadium akhir pada hati. Sirosis terjadi akibat cedera hati, seperti peradangan pada NASH. Saat organ hati berusaha menghentikan peradangan, hati menghasilkan area jaringan parut (fibrosis). Ketika peradangan berlanjut, fibrosis menyebar menjangkau lebih banyak jaringan hati.

Jika dibiarkan menyebar, sirosis dapat menyebabkan kondisi berikut:

  • Penumpukan cairan di perut (asites).
  • Pembengkakan pembuluh darah di kerongkongan (varises esofagus), yang bisa pecah dan berdarah.
  • Kebingungan, kantuk, dan bicara cadel (ensefalopati hepatik).
  • Gagal hati stadium akhir, menandakan hati berhenti berfungsi.
  • Kanker hati.

 

  1. MacGill, Markus. 2021. What to know about nonalcoholic fatty liver disease. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312536 (Diakses pada 15 Maret 2022)
  2. Anonim. 2022. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). https://www.nhs.uk/conditions/non-alcoholic-fatty-liver-disease/ (Diakses pada 15 Maret 2022)
  3. Mayo Clinic Staff. 2021. Nonalcoholic fatty liver disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nonalcoholic-fatty-liver-disease/symptoms-causes/syc-20354567 (Diakses pada 15 Maret 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi