Terbit: 28 Mei 2021 | Diperbarui: 9 Juni 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Kadar asam urat normal menandakan tubuh dalam keadaan baik. Sebaliknya, kadar asam urat tinggi menimbulkan gejala yang mengganggu, seperti nyeri sendi yang hebat, peradangan, kemerahan, dan rentang gerak terbatas. Lantas bagaimana cara mengetahui kadar asam urat dalam darah yang normal dan tidak? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!    

Nilai Kadar Asam Urat Normal hingga Cara Mempertahankannya (Alami)

Apa Itu Asam Urat?

Asam urat adalah bahan kimia yang dihasilkan saat tubuh memecah makanan yang mengandung senyawa organik yang disebut purin. Memiliki asam urat dalam darah adalah normal.

Sekitar dua per tiga purin dalam tubuh diproduksi sel-sel dalam tubuh (endogen). Sementara purin eksogen berasal dari makanan yang diolah tubuh melalui pencernaan.  

Kebanyakan asam urat larut dalam darah, kemudian disaring melalui ginjal, dan dikeluarkan melalui urine. Terkadang tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat (hiperurisemia) atau tidak cukup menyaringnya. 

Berapa Nilai Kadar Asam Urat Normal?

Kadar asam urat seseorang bisa berbeda berdasarkan jenis kelamin dan laboratorium yang berbeda (yang melakukan pengujian). Oleh karenanya, tanyakan kepada dokter untuk membantu memahami hasilnya dengan baik. Biasanya hasil tes keluar dalam waktu 1-2 hari, tetapi ini tergantung pada laboratorium.

Nilai kadar asam urat normal, meliputi:

  • Wanita: 1,5-6,0 miligram/desiliter (mg/dL).
  • Pria: 2,5-7,0 mg/dL.
  • Anak-anak: 2,0–5,5 mg/dL

Jika kadar asam urat naik di atas atau di bawah kisaran yang sehat, hal ini bisa mengakibatkan gangguan kesehatan. Kadar asam urat yang tinggi dapat meningkatkan risiko asam urat. Kadar asam urat yang sangat tinggi hingga lebih dari dua kali nilai batas juga dapat terjadi pada kasus kasus keganasan.

Memiliki kadar asam urat rendah merupakan hal yang tidak biasa, tetapi hal ini mungkin terjadi jika tubuh mengeluarkan terlalu banyak asam urat sebagai limbah.

Baca Juga: Asam Urat: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Tes Asam Urat

Untuk mengetahui rendah atau tingginya kadar asam urat, dokter akan melakukan tes asam urat berdasarkan gejala dan penampilan sendi yang terkena.

Tes untuk membantu mendiagnosis asam urat, termasuk:

1. Tes Asam Urat dalam Darah

Selama tes darah, dokter akan mengambil sampel darah dari pembuluh darah di lengan menggunakan jarum kecil. Setelah menusukkan jarum, dokter mengambil sedikit darah dan menyimpannya dalam tabung reaksi atau vial. Pasien mungkin akan merasa sedikit perih saat jarum masuk atau keluar. Prosedur ini biasanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit.

2. Tes Asam Urat dalam Urine

Ketika menjalani tes urine asam urat, pasien harus mengumpulkan urine dalam waktu 24 jam. Ini disebut tes sampel urin 24 jam. Dokter atau profesional laboratorium mungkin akan memberi wadah khusus untuk menampung urine dan instruksi tentang cara mengumpulkan dan menyimpan sampel urine.

Tes sampel urin 24 jam biasanya dengan langkah-langkah berikut:

  • Kosongkan kandung kemih di pagi hari dan buang air seni yang pertama. Catat waktunya.
  • Selama 24 jam ke depan, simpan semua urine yang keluar dalam wadah khusus.
  • Simpan wadah urine di lemari es.
  • Berikan wadah sampel ke laboratorium.

3. Tes Lainnya

Selain tes darah dan urine untuk mengetahui kadar asam urat, berikut ini beberapa tes yang juga bisa mendiagnosis asam urat:  

  • Tes cairan sendi. Dokter mungkin akan menggunakan jarum untuk mengambil cairan dari sendi pasien yang terkena asam urat. Kristal urat mungkin akan tampak terlihat saat pemeriksaan cairan melalui mikroskop.
  • Ultrasonografi (USG). Tes ini menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk mendeteksi kristal urat di persendian atau di tophi – endapan kristal urat yang terbentuk di bawah kulit.
  • Dual-energy computerized tomography (DECT). Tes yang menggabungkan gambar sinar-X yang diambil dari berbagai sudut berbeda untuk menggambarkan kristal urat di persendian.

Baca Juga: 10 Penyebab Asam Urat yang Wajib Anda Kenali

Cara Mempertahankan Kadar Asam Urat Tetap Normal

Beberapa orang mungkin memerlukan obat untuk mengobati asam urat, tetapi perubahan pola makan dan gaya hidup juga bisa membantu. Menurunkan asam urat bisa mengurangi risiko asam urat dan bahkan dapat mencegah kekambuhan pada orang dengan kondisi ini.

Namun, risiko asam urat bergantung pada beberapa faktor, bukan hanya gaya hidup. Oleh karenanya, penting untuk berkonsultasi dengan dokter tentang cara mempertahankan asam urat tetap normal.

Berikut ini beberapa cara alami untuk mempertahankan kadar normal asam urat:

1. Kurangi Makanan Tinggi Purin

Purin adalah senyawa yang terkandung secara alami dalam makanan tertentu. Proses metabolisme terhadap makanan tinggi purin dapat menyebabkan asam urat dengan mengakibatkan tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat.

Makanan yang mengandung banyak purin, antara lain:

  • Daging rusa.
  • Makanan laut, termasuk trout, tuna, haddock, sarden, teri, remis, dan herring.
  • Minum alkohol berlebihan.
  • Makanan tinggi lemak, seperti produk susu dan daging merah (termasuk daging sapi muda).
  • Jeroan, misalnya hati.
  • Makanan dan minuman manis.

2. Hindari Obat-obatan yang Meningkatkan Kadar Asam Urat

Menggunakan obat-obatan tertentu dapat meningkatkan kadar asam urat. Beberapa obat-obatan ini, termasuk:

  • Obat diuretik, seperti furosemide dan hydrochlorothiazide.
  • Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh, terutama sebelum atau sesudah transplantasi organ
  • Aspirin dosis rendah.

Obat yang meningkatkan kadar asam urat mungkin memberikan manfaat kesehatan, jadi Anda harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mengganti obat apa pun.

3. Mempertahankan Berat Badan yang Sehat

Memiliki berat badan yang sehat bisa membantu mengurangi risiko asam urat. Kelebihan berat badan alias obesitas dapat meningkatkan risiko asam urat, terutama pada usia yang lebih muda.

Kelebihan berat badan juga meningkatkan risiko sindrom metabolik. Ini dapat meningkatkan tekanan darah dan kolesterol sekaligus meningkatkan risiko penyakit jantung. Obesitas juga terkait dengan risiko yang lebih tinggi dari tingginya kadar asam urat darah, yang meningkatkan risiko asam urat.

Penurunan berat badan yang cepat, terutama karena puasa, bisa meningkatkan kadar asam urat. Oleh karenanya, harus fokus membuat perubahan jangka panjang yang berkelanjutan untuk mempertahankan berat badan yang sehat, seperti rajin berolahraga, makan makanan seimbang, dan memilih makanan padat nutrisi.

Baca Juga: 6 Sayuran Penurun Asam Urat dan Tips Menurunkan Asam Urat

4. Minum Kopi

Berdasarkan beberapa penelitian, minum kopi dapat mengurangi risiko mengembangkan asam urat. Wanita yang minum 1-3 cangkir kopi per hari memiliki penurunan 22% risiko asam urat daripada mereka yang tidak minum kopi. Sedangkan wanita yang minum lebih dari 4 cangkir kopi per hari mengalami penurunan 57% risiko terkena asam urat.

Namun, minumlah kopi secukupnya karena jika berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis dan kemungkinan patah tulang pada wanita. Oleh sebab itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter tentang risiko dan manfaatnya.

5. Suplemen Vitamin C

Mengonsumsi suplemen vitamin C bisa membantu menurunkan risiko asam urat. Sebuah penelitian pada tahun 2011 dari 13 uji coba terkontrol acak telah menemukan bahwa vitamin C secara signifikan dapat mengurangi kadar asam urat dalam darah.

Penurunan kadar asam urat dapat membantu menurunkan risiko serangan asam urat. Namun, ini masih memerlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan manfaatnya untuk asam urat.

 

  1. Anonim. 2020. Uric Acid Test. https://medlineplus.gov/lab-tests/uric-acid-test/ (Diakses pada 28 Mei 2021).
  2. Mayo Clinic Staff. 2021. Gout. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gout/symptoms-causes/syc-20372897 (Diakses pada 28 Mei 2021).
  3. Sissons, Claire. 2020. What are the effects of high and low uric acid levels?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/uric-acid-level (Diakses pada 28 Mei 2021).
  4. Villines, Zawn. 2019. How to lower uric acid levels naturally. https://www.medicalnewstoday.com/articles/325317 (Diakses pada 28 Mei 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi