Terbit: 26 October 2017 | Diperbarui: 6 July 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Operasi biasanya langsung dikerjakan pada penderita hidrosefalus. Terdapat 2 metode operasi populer yang biasa dilakukan sebagai terapi definitif pada kasus hidrosefalus yaitu operasi pintas (shunting) dan endoscopic third ventriculostomy (ETV).

Hidrosefalus pada Anak – Operasi

Teknik shunting

Sebuah kateter ventrikular (seperti selang) dimasukkan melalui kornu oksipitalis atau kornu frontalis, ujungnya ditempatkan setinggi foramen Monro. Kemudian terdapat suatu reservoir yang memungkinkan pengambilan dari CSS untuk dilakukan analisis.

Terdapat sebuah katup yang terdapat dalam sistem shunting ini, baik yang terletak di bagian atas dengan katup berbentuk diafragma maupun yang terletak di bawah dengan katup berbentuk celah Katup akan membuka pada tekanan tertentu.

  1. Ventriculo-atrial shunt (VA Shunt). Ujung bawah kateter dimasukkan ke dalam ruang bilik kanan jantung melalui pembuluh darah vena jugularis interna.
  2. Ventriculo-peritoneal shunt (VP Shunt)
  3. Selang silastik ditanam dalam lapisan subkutan (lapisan lemak kulit)
  4. Ujung distal kateter ditempatkan dalam ruang peritoneum

Metode ini cocok untuk anak-anak, dengan kumparan silang yang banyak, memungkinkan tidak diperlukan adanya revisi walaupun badan anak tumbuh memanjang.

Komplikasi shunting

  • Infeksi

Berupa peritonitis (radang selaput di perut), meningitis (radang selaput otak) atau peradangan sepanjang saluran subkutan. Pada pasien-pasien dengan VA Shunt, bakteri aleni dapat mengawali terjadinya Shunt Nephritis yang biasanya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermis ataupun S. aureus, dengan risiko terutama pada bayi. Pencegahan dilakukan dengan pemberian antibiotik dapat mengurangi risiko infeksi

  • Hematoma subdural

Ventrikel yang kolaps akan menarik permukaan korteks serebri dari duramater. Pasien post operatif diletakkan dalam posisi terlentang mengurangi risiko sedini mungkin.

  • Obstruksi/ Sumbatan

Dapat ditimbulkan oleh:

  1. Ujung proksimal tertutup pleksus khoroideus
  2. Adanya serpihan-serpihan (debris atau jaringan sisa)
  3. Gumpalan darah
  4. Ujung distal tertutup omentum

Pada anak-anak yang sedang tumbuh dengan VA Shunt, ujung distal kateter dapat tertarik keluar dari ruang atrium kanan, dan mengakibatkan terbentuknya trombus dan timbul oklusi.

Beberapa pasien Post shunting mengeluh sakit kepala dan muntah pada posisi duduk dan berdiri, hal ini ternyata disebabkan karena tekanan CSS yang rendah, keadaan ini dapat diperbaiki dengan jalan:

  1. Intake cairan yang banyak
  2. Katup diganti dengan katup yang terbuka pada tekanan yang tinggi
  • Asites (penimbunan cairan di perut) oleh karena CSS

Asites CSS ataupun pseudokista pertama kali dilaporkan oleh Ames, kejadian ini diperkirakan 1% dari penderita dengan VP shunt. Adapun patogenesisnya masih bersifat kontroversial. Diduga sebagai penyebab kelainan ini adalah pembedahan perut sebelumnya, peritonitis, protein yang tinggi dalam CSS.

Asites CSS biasanya terjadi pada anak dengan peningkatan tekanan intrakranial di mana gejala yang timbul dapat berupa distensi perut, nyeri perut, mual dan muntah-muntah.

  • Kraniosinostosis

Kraniosistosis merupakan penutupan dini dari sutura (penghubung tulang-tulang di tengkorak). Keadaan ini terjadi sebagai akibat dari pembuatan shunt pada hidrosefalus yang berat, sehingga terjadi penututupan dini dari sutura kranialis.

Terapi untuk mengatasi hidrosefalus adalah Pemasangan VP shunt. Prinsip dari prosedur ini adalah membuat saluran baru antara dari aliran CSS di kepala ke rongga perut. CSS yang dialirkan secara satu arah kemudian akan diserap oleh peritoneum (lapisan di rongga perut) dan masuk ke pembuluh darah.

Prosedur ini memiliki banyak komplikasi yang meliputi diskoneksi komponen alat, alat yang putus, erosi alat ke kulit atau organ perut seperti perforasi colon sigmoid oleh distal kateter sehingga keluar melalui anus, over shunting, under shunting, buntu di proksimal atau distal, letak alat tidak pas, perdarahan (haematome) subdural akibat reduksi CSS yang berlebihan, ascites, kraniostenosis, keadaan CSS yang rendah dan infeksi. Setiap VP shunting memiliki kemungkinan risiko revisi sekitar 3 kali dalam 10 tahun pasca operasi.

Selain shunt, ada operasi dengan teknik ETV. Operasi dengan teknik ETV prinsipnya adalah pengaliran CSS dari dasar ventrikel III ke sisterna basalis yaitu ruang subarakhnoid di belakang sela tursika.

Pada teknik ETV tidak ada alat yang dipasang, sehingga aliran CSS dibuat hampir mendekati aliran fisiologis menuju sistem penyerapan pada vili arakhnoid. Keuntungan teknik ETV lainnya adalah sekali tindakan saja, berarti tidak memerlukan perawatan lebih lanjut, biaya murah dan sederhana.

Teknik ETV hanya dilakukan pada hidrosefalus obstruktif.  Di Indonesia masalah utama adalah harga alat yang relatif mahal apalagi kalau terjadi penggantian waktu revisi, dan hal ini akan sangat membebani keluarga penderita.

 

Hidrosefalus pada Anak: 1 2 3 4 5 6

DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi