Terbit: 20 April 2020 | Diperbarui: 24 March 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Mastitis adalah penyakit payudara yang perlu diwaspadai selain kista payudara, fibrosis, dan bahkan kanker payudara. Penyakit ini dapat menyebabkan pembengkakan dan infeksi pada payudara, terutama sering terjadi pada ibu menyusui, yang juga disebut mastitis laktasi.

Mastitis: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, & Pencegahan

Apa Itu Mastitis?

Mastitis adalah suatu kondisi di mana jaringan payudara wanita membengkak atau meradang secara tidak normal. Penyakit mastitis biasanya disebabkan oleh infeksi pada saluran payudara. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita yang menyusui.

Penyakit payudara ini biasanya terjadi dalam tiga bulan pertama setelah melahirkan (postpartum), atau bisa juga terjadi selama menyusui. Meskipun demikian, ibu masih bisa terus menyusui bayinya. Selain pada wanita menyusui, terkadang penyakit ini juga menyerang perempuan yang sedang tidak menyusui.

Penyebab Mastitis

Mastitis adalah penyakit yang disebabkan oleh penumpukan ASI dalam payudara atau kerusakan pada puting, yang menyebabkan infeksi bakteri. Berikut penjelasannya:

1. Penumpukan ASI

Banyak kasus pada wanita menyusui dianggap disebabkan oleh penumpukan air susu ibu (ASI). Kondisi ini terjadi ketika ASI tidak dikeluarkan dengan benar dari payudara selama menyusui.

Penumpukan ASI dalam payudara bisa disebabkan oleh:

  • Bayi yang tidak mengisap payudara selama menyusui, menyebabkan ASI tidak dikeluarkan.
  • Bayi mengalami masalah mengisap, misalnya karena adanya tumbuh daging di antara bagian bawah lidah dan lantai mulut bayi
  • Menyusui hanya satu payudara, misalnya karena salah satu puting sakit. Ini dapat menyebabkan penumpukan ASI di payudara lainnya.
  • Benturan atau pukulan pada payudara dapat merusak saluran susu atau kelenjar di payudara.
  • Tekanan pada payudara akibat pakaian ketat (termasuk bra), sabuk pengaman atau tidur tengkurap.

Penumpukan ASI dalam payudara dapat menyebabkan saluran ASI dalam payudara tersumbat.

Namun, para ahli tidak yakin persis mengapa ASI dapat menyebabkan jaringan payudara meradang. Sementara satu teori adalah bahwa tekanan yang menumpuk di dalam payudara membuat ASI masuk ke jaringan di sekitarnya.

2. Infeksi Mastitis

ASI yang baru diperah biasanya tidak memiliki lingkungan yang baik di mana bakteri dapat berkembang biak. Namun, penumpukan ASI dalam payudara dapat menyebabkan ASI mandek dan terinfeksi. Ini dikenal sebagai mastitis infektif.

Penyebab bakteri masuk ke jaringan payudara belum belum diketahui hingga saat ini.  Bakteri yang biasanya hidup tidak berbahaya di kulit payudara dapat masuk melalui celah atau rekahan di kulit, atau bakteri yang ada di mulut dan tenggorokan bayi dapat ditularkan selama menyusui.

Ibu menyusui mungkin berisiko lebih besar terkena mastitis infektif jika puting susu rusak, misalnya akibat penggunaan pompa payudara manual secara tidak benar atau karena bayi mengalami bibir sumbing, atau bibir bayi pecah-pecah.

Mastitis pada wanita menyusui lebih mungkin disebabkan oleh infeksi jika memerah ASI dari payudara yang terkena tidak mengatasi gejala dalam waktu 12 hingga 24 jam.

Gejala Mastitis

Tanda dan gejala penyakit payudara ini dapat berkembang dengan cepat pada payudara. Ciri-ciri mastitis ini di antaranya:

  1. Area payudara tampak merah dan bengkak
  2. Payudara yang terkena infeksi tampak seperti pecah-pecah
  3. Payudara terasa sakit saat disentuh
  4. Payudara terasa panas saat disentuh
  5. Payudara terasa keras saat disentuh
  6. Sensasi terbakar di payudara yang mungkin selalu muncul atau hanya saat menyusui
  7. Demam seperti gejala flu

Selain itu, gejala-gejala mastitis berikut mungkin muncul, di antaranya:

  1. Merasa cemas dan perasaan stres
  2. Menggigil
  3. Suhu tubuh meningkat
  4. Kelelahan
  5. Ketidaknyamanan tubuh 

 

Diagnosis Mastitis

Diagnosis mastitis biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan fisik, seperti berikut:

1. USG

Jika tidak jelas apakah massa pada payudara disebabkan oleh abses berisi cairan atau massa padat seperti tumor, ultrasonografi (USG) dapat dilakukan. USG juga dapat membantu membedakan antara penyakit mastitis sederhana dan abses atau dalam mendiagnosis abses jauh di payudara.

Tes non-invasif ini memungkinkan dokter secara langsung menggambarkan abses dengan menempatkan pemeriksaan USG di atas payudara. Jika abses dipastikan, biasanya diperlukan aspirasi atau pembedahan drainase, dan pemberian antibiotik melalui pembuluh darah.

2. Biopsi

Pengambilan sampel, baik dari ASI atau cairan yang disedot (diambil melalui jarum suntik) dari abses, untuk menentukan jenis organisme yang menyebabkan infeksi. Informasi ini dapat membantu dokter untuk menentukan jenis antibiotik apa yang akan digunakan.

  • Organisme ini biasanya staphylococcus aureus
  • Beberapa infeksi mungkin disebabkan oleh MRSA (staphylococcus aureus yang resisten methicillin), suatu bentuk staphylococcus yang resisten terhadap pengobatan dengan sebagian besar antibiotik.

3. Mammogram

Wanita penderita mastitis yang tidak menyusui, atau mereka yang tidak dapat merespons pengobatan, mungkin memerlukan mammogram, adalah penggunaan sinar-X untuk mencari tanda-tanda awal kanker payudara sejak dini. Ini adalah tindakan pencegahan karena jenis kanker payudara yang langka dapat menimbulkan gejala mastitis.

Komplikasi Mastitis

Penyakit mastitis yang tidak segera diobati terkadang dapat menyebabkan komplikasi seperti berikut ini:

1. Kekambuhan

Jika telah terjadi satu kali, kemungkinan akan terjadi lagi atau kambuh. Kekambuhan sering terjadi akibat terlambatnya perawatan.

2. Abses

Tanpa perawatan yang tepat, kumpulan nanah atau abses dapat berkembang di payudara. Kondisi ini biasanya membutuhkan pengeringan melalui operasi.

3. Sepsis

Adalah kondisi yang mengancam jiwa yang dapat terjadi jika infeksi tidak segera diobati. Sepsis dapat menimbulkan kerusakan pada banyak organ di dalam tubuh, dan apabila tidak segera ditangani maka dapat menimbulkan kematian.

Pengobatan Mastitis

Langkah pertama sebagai  perawatan mastitis, mungkin dokter akan meresepkan antibiotik atau menyarankan kiat-kiat menyusui saat mengalami infeksi payudara:

1. Antibiotik

Jika mengalami infeksi pada payudara, biasanya diperlukan antibiotik selama 10 hari. Penting untuk meminum semua obat untuk meminimalkan kemungkinan kambuh. Jika mastitis payudara tidak sembuh setelah minum antibiotik, segera kembali konsultasikan dengan dokter.

2. Penghilang Rasa Sakit

Dokter dapat merekomendasikan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas di apotek atau diperoleh secara online, seperti acetaminophen atau ibuprofen.

Jika ingin tetap menyusui, kondisi ini aman untuk pemberian ASI. Menyusui sebenarnya membantu menghilangkan infeksi. Menyapih bayi secara tiba-tiba cenderung memperburuk tanda dan gejalanya.

Dokter mungkin merujuk penderita penyakit mastitis pada konsultan laktasi untuk mendapatkan bantuan yang berkelanjutan. Anjuran untuk menyesuaikan teknik menyusui mungkin dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut:

  1. Hindari payudara penuh dengan ASI sebelum menyusui.
  2. Memastikan bahwa bayi menghisap puting dengan benar, yang mungkin sulit ketika payudara membesar. Menekan sedikit payudara dengan tangan sebelum menyusui mungkin bisa membantu.
  3. Memijat payudara saat menyusui atau memompa, dari area yang terkena ke bawah menuju puting.
  4. Pastikan payudara terkuras sepenuhnya selama menyusui. Jika mengalami kesulitan mengosongkan sebagian ASI dalam payudara, kompres hangat pada payudara sebelum menyusui atau memompa ASI.
  5. Menyusui di satu sisi payudara yang terkena terlebih dahulu, ketika bayi lapar dan mengisap lebih kuat.
  6. Cobalah memvariasikan posisi menyusui.

Pencegahan Mastitis

Memerhatikan saluran ASI yang tersumbat di masa depan adalah langkah yang penting setelah penyembuhan, karena saluran yang tersumbat dan cenderung bisa kambuh.

Berikut ini langkah-langkah dapat dilakukan untuk mencegah mastitis payudara berkembang ketika saluran ASI terasa tersumbat:

  1. Menyusui sesering mungkin, terutama saat payudara penuh ASI.
  2. Cari tahu lebih awal jika bayi menyusui dengan benar.
  3. Jangan lepaskan bayi saat menyusu, tetapi tunggulah bayi untuk rileks dan melepaskannya.
  4. Hindari penggunaan bra ketat dan pakaian ketat lainnya.
  5. Cobalah posisi menyusui yang berbeda-beda sesuai dengan kenyamanan ibu dan bayi.
  6. Ketika tiba saatnya untuk menyapih, kurangi memberikan ASI secara bertahap, jangan tiba-tiba.
  7. Periksa payudara setiap hari, apakah ada benjolan yang tumbuh di belakang puting.
  8. Mandi air hangat, terutama pada payudara yang terkena.
  9. Kompres hangat dan memijat sebelum menyusui.
  10. Tekan payudara secara lembut jika menggosok kulit terasa sakit.
  11. Jika diperlukan, pompalah payudara untuk mengurangi pembengkakan sampai sembuh.
  12. Konsultasikan dengan dokter tentang suplemen lesitin, karena ini dapat mencegah kekambuhan.

 

  1. Anonim. 2019. Mastitis. https://www.nhs.uk/conditions/mastitis/causes/ (Diakses 10 September 2019)
  2. Nordqvist, Christian. 2017. Mastitis and what to do about it. https://www.medicalnewstoday.com/articles/163876.php (Diakses 10 September 2019)
  3. Pritchard, Joseph. 2016. Mastitis. https://www.healthline.com/health/mastitis  (Diakses 10 September 2019)
  4. Trupin, Suzanne R. 2018. Breast Infection (Mastitis). https://www.emedicinehealth.com/breast_infection/article_em.htm#what_is_breast_infection_mastitis  (Diakses 10 September 2019)


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi