Terbit: 2 September 2021 | Diperbarui: 26 Oktober 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Kaheksia adalah adalah suatu kondisi yang menyebabkan penurunan berat badan yang ekstrem dan pengecilan otot. Simak penjelasan mengenai gejala, penyebab, hingga penanganan kaheksia, selengkapnya di bawah ini.

Kaheksia: Definisi, Gejala, Pengobatan, dan Kaitannya dengan Kanker

Apa Itu Kaheksia?

Kaheksia atau wasting syndrome adalah kondisi yang menyebabkan penurunan berat badan yang ekstrem, pengecilan otot, dan hilangnya lemak tubuh. Keadaan ini memengaruhi orang-orang yang berada di tahap akhir penyakit serius seperti kanker, HIV/AIDS, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit ginjal, dan gagal jantung kongestif.

Society on Sarcopenia, Cachexia and Wasting Disorders mendefinisikan kaheksia sebagai sindrom multifaktorial yang ditandai dengan hilangnya massa otot rangka (dengan atau tanpa kehilangan massa lemak) yang tidak dapat sepenuhnya dipulihkan dengan dukungan nutrisi konvensional dan mengarah pada gangguan fungsional progresif.

Perbedaan antara kaheksia dan jenis penurunan berat badan lainnya adalah bahwa keadaan ini tidak disengaja. Seseorang yang mengembangkan sindrom ini akan makan lebih sedikit karena berbagai alasan.

Pada saat yang sama, metabolisme tubuhnya berubah yang membuatnya memecah terlalu banyak otot. Selain itu, peradangan dan zat yang diciptakan oleh tumor dapat memengaruhi nafsu makan dan menyebabkan tubuh membakar kalori lebih cepat dari biasanya.

Sejumlah peneliti menduga bahwa kaheksia adalah bagian dari respons tubuh untuk melawan penyakit. Saat simpanan nutrisi rendah, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk bahan bakar otak, hal ini membuat tubuh memecah otot dan lemak.

Selain penurunan berat badan yang terjadi, seseorang dengan yang sindrom ini juga membuat tubuh penderitanya menjadi lemah dan rentan terhadap infeksi. Mendapatkan lebih banyak nutrisi atau kalori tidak cukup untuk mengatasi keadaan ini.

Gejala Kaheksia

Berikut ini adalah beberapa gejala yang umum terjadi saat seseorang memiliki sindrom ini, di antaranya:

  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja. Seseorang dapat menurunkan berat badan meskipun mendapatkan nutrisi yang cukup atau jumlah kalori yang tinggi.
  • Pengecilan otot. Ini adalah gejala yang paling khas, namun terlepas dari kehilangan otot yang berkelanjutan, tidak semua orang dengan sindrom ini tampak kekurangan gizi. Misalnya, seseorang yang kelebihan berat badan sebelum mengembangkan kaheksia mungkin tampak berukuran rata-rata meskipun telah kehilangan banyak berat badan.
  • Kehilangan nafsu makan atau anoreksia. Seseorang mungkin kehilangan keinginan untuk mengonsumsi makanan apa pun.
  • Kemampuan fungsional yang berkurang. Seseorang mungkin mengalami gejala malaise, kelelahan, dan tingkat energi yang rendah. Ini mungkin termasuk perasaan tidak nyaman secara umum, kelelahan ekstrem, atau kurangnya motivasi.
  • Pembengkakan atau edema. Kadar protein yang rendah dalam darah dapat menyebabkan cairan berpindah ke jaringan, sehingga menyebabkan pembengkakan.

Pada beberapa kasus, keadaan ini terkadang sulit dikenali, hal ini membuat dokter akan menggunakan berbagai kriteria untuk membantu diagnosis. Dalam sistem yang paling umum, seseorang harus memenuhi dua kriteria.

Salah satunya secara tidak sengaja kehilangan lebih dari 5 % dari berat badan selama 6-12 bulan. Sementara, kriteria lainnya adalah indeks massa tubuh (BMI) kurang dari 20 pada orang di bawah 65 tahun atau BMI kurang dari 22 pada orang di atas 65 tahun.

Penyebab Kaheksia

Kaheksia adalah sindrom kompleks. Hal ini membuat penyebab pastinya dapat bervariasi tergantung pada fisiologi seseorang dan penyakit mendasar yang terkait dengannya.

Namun, beberapa faktor yang mendasari tetap konsisten di berbagai diagnosis, seperti:

  • Peningkatan laju metabolisme dan pengeluaran energi.
  • Berkurangnya asupan atau ketersediaan nutrisi.
  • Peningkatan kerusakan otot.
  • Pencegahan pertumbuhan otot.

Faktor Risiko Kaheksia

Keadaan ini sering terjadi pada tahap akhir kondisi kesehatan yang parah. Oleh karena itu, seseorang perlu konsultasi dengan dokter tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk mencegah perkembangan sindrom ini, dan bagaimana hal ini dapat dikelola jika berkembang. Beberapa faktor yang meningkatkan kondisi ini, antara lain:

  • Kanker.
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  • Gagal ginjal kronis.
  • Gagal jantung kongestif.
  • Penyakit Crohn.
  • Cystic fibrosis.
  • HIV.
  • Rheumatoid arthritis.

Pada beberapa kasus, 80% orang dengan kanker stadium akhir memiliki kaheksia. Hampir sepertiga orang dengan kanker meninggal karena kondisi ini.

Sel tumor melepaskan zat yang mengurangi nafsu makan. Sementara kanker dan pengobatannya juga dapat menyebabkan mual yang parah atau merusak saluran pencernaan, sehingga sulit untuk makan dan menyerap nutrisi.

Ketika tubuh mendapat lebih sedikit nutrisi, ia membakar lemak dan otot. Sel kanker menggunakan nutrisi terbatas yang tersisa untuk membantunya bertahan hidup dan berkembang biak.

Pengobatan Kaheksia

Pada dasarnya, perawatan tergantung pada kondisi yang mendasarinya. Dikarenakan banyak faktor yang bisa berkontribusi terhadap sindrom ini, seseorang kemungkinan besar akan memiliki rencana medis yang menggabungkan beberapa jenis terapi untuk mengobati penyakitnya.

Beberapa langkah yang direkomendasikan untuk mendukung seseorang dengan kaheksia adalah:

  • Fokus pada Aspek Sosial saat Makan

Seseorang dapat mendapatkan kesenangan dari duduk bersama sambil makan bahkan ketika sedang tidak ingin makan. Menekankan pentingnya makan secara sosial daripada jumlah makanan dapat membantu seseorang memosisikan ulang hubungan emosional dan psikologis dengan makan.

  • Makan dalam Jumlah Kecil tapi Sering

Penderita sindrom ini lebih mungkin untuk mentolerir makanan berkalori tinggi dalam porsi kecil sepanjang hari daripada tiga kali makan besar sekaligus. Selain itu, Anda bisa menambahkan minuman suplemen tinggi nutrisi untuk meningkatkan asupan kalori di antara waktu makan kecil.

  • Memberikan Dukungan Emosional

Jika terdapat anggota keluarga yang mengalami hal ini dan nafsu makannya mengalami penurunan, orang-orang terdekatnya tidak boleh memaksanya untuk makan. Pengecilan otot dan penurunan berat badan akan terus berlanjut meski seseorang dengan kondisi tersebut makan atau tidak.

  • Menggunakan Penambah Nafsu Makan

Obat-obatan, seperti  dronabinol, megestrol, dan glucocorticoids, dapat membantu nafsu makan dalam kondisi dan penyakit tertentu. Namun, makan lebih banyak tidak akan menghentikan perkembangan gejala atau memperbaiki pengecilan otot.

Nafsu makan yang meningkat dapat membantu seseorang berpartisipasi dalam makan bersama dan mengurangi rasa terisolasi, yang mana hal ini bermanfaat bagi kesehatan mental.

  • Olahraga Ringan

Selama Anda dapat menoleransi gejala yang muncul, olahraga dapat membantu membangun massa otot. Namun, tidak ada bukti tentang efektivitas olahraga sebagai ukuran terhadap sindrom ini.

Baca Juga: Efek Kemoterapi pada Kesehatan Kulit Penderita Kanker

Komplikasi Kaheksia

Keadaan ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang sangat serius. Kaheksia dapat mempersulit perawatan untuk kondisi yang menyebabkannya dan menurunkan respons terhadap perawatan yang sedang dilakukan. Seseorang dengan kanker yang memiliki kondisi ini kurang mampu mentolerir kemoterapi dan terapi lain yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Pencegahan Kaheksia

Munculnya keadaan ini merupakan efek samping dari kondisi medis yang mendasarinya, jadi fokus pencegahan terletak pada menjaga kondisi kronis yang menyebabkan hal tersebut.

Beberapa kondisi seperti PPOK atau HIV dapat dicegah. Namun, kondisi lain yang menyebabkan keadaan ini sebagian besar tidak dapat dihindari, seperti kanker, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn. Gaya hidup aktif dengan nutrisi seimbang dapat mengurangi risiko kondisi kronis yang dapat menyebabkan sindrom ini.

 

  1. Nall, Rachel. 2021. Everything you need to know about cachexia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/315312. (Diakses pada 2 September 2021).
  2. Watson, Stephanie . 2018. Cachexia. https://www.healthline.com/health/cachexia. (Diakses pada 2 September 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi