Terbit: 9 Agustus 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Imunodefisiensi yaitu kondisi yang membuat sistem kekebalan tubuh melemah, keadaan yang memungkinkan seseorang dapat dengan mudah mengalami infeksi dan masalah kesehatan lainnya. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Imunodefisiensi: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Imunodefisiensi?

Imunodefisiensi adalah keadaan di mana tubuh tidak mampu melawan infeksi dan penyakit karena kekebalan tubuhnya melemah. Gangguan ini memudahkan tubuh terkena virus dan infeksi bakteri. Kondisi ini bisa terjadi karena dua hal: congenital disorder atau acquired disorder.

Congenital disorder adalah kelainan yang seseorang alami sejak lahir (bawaan). Sedangkan acquired disorder adalah gangguan yang didapatkan oleh seseorang di kemudian hari. Acquired disorder lebih sering terjadi daripada congenital disorder.

Perlu Anda ketahui, organ yang memproduksi sel untuk kekebalan tubuh di darah mencakup organ-organ berikut:

  • Limpa.
  • Amandel.
  • Sumsum tulang.
  • Kelenjar getah bening.

Organ-organ ini membuat dan melepaskan limfosit,  sel darah putih yang diklasifikasikan sebagai sel B dan sel T. Sel B dan T melawan penyerbu yang disebut antigen. Sel B melepaskan antibodi khusus untuk penyakit yang tubuh berhasil deteksi. Sedangkan sel T menghancurkan sel asing atau abnormal.

Contoh antigen yang mungkin perlu dilawan oleh sel B dan T, antara lain:

  • Bakteri.
  • Virus.
  • Sel kanker.
  • Parasit.

Gejala Imunodefisiensi

Salah satu tanda paling umum dari keadaan ini adalah mengalami infeksi yang lebih sering, lebih lama, atau lebih sulit diobati daripada infeksi pada seseorang dengan sistem kekebalan normal.

Anda mungkin juga mendapatkan infeksi yang kemungkinan besar tidak akan dialami oleh seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat (infeksi oportunistik).

Tanda gangguan ini pada tubuh juga tergantung pada jenisnya, hal inilah yang membuat gejala setiap orang berbeda-beda. Beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi, antara lain:

  • Pneumonia yang sering dan berulang, bronkitis, infeksi sinus, infeksi telinga, meningitis, atau infeksi kulit.
  • Peradangan dan infeksi organ dalam.
  • Gangguan darah, jumlah trombosit yang rendah atau anemia.
  • Masalah pencernaan, seperti kram, kehilangan nafsu makan, mual, dan diare.
  • Pertumbuhan dan perkembangan yang tertunda.
  • Gangguan autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau diabetes tipe 1.

Baca Juga: 10 Pantangan Makanan Autoimun, Panduan Lengkap!

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika seseorang sering mengalami infeksi berulang, parah, atau infeksi yang tidak merespon pengobatan, konsultasi dengan dokter. Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah infeksi menyebabkan masalah jangka panjang.

Penyebab Imunodefisiensi

Pada beberapa kasus, keadaan ini adalah sesuatu yang diturunkan, bisa dari satu atau kedua orang tua. Masalah dalam kode genetik yang bertindak sebagai cetak biru untuk memproduksi sel-sel tubuh (DNA) menyebabkan banyak cacat sistem kekebalan tubuh.

Para peneliti mengklasifikasikan gangguan menjadi enam kelompok berdasarkan bagian dari sistem kekebalan yang terpengaruh, antara lain:

  • Defisiensi sel B (antibodi).
  • Defisiensi sel T.
  • Defective phagocytes.
  • Complement deficiencies.
  • Unknown (idiopathic).
  • Defisiensi kombinasi sel B dan T.

Faktor Risiko Imunodefisiensi

Satu-satunya faktor risiko yang diketahui adalah memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini. Konseling genetik mungkin diperlukan jika Anda berencana untuk memiliki anak.

Diagnosis Imunodefisiensi

Pertama-tama, dokter akan bertanya tentang riwayat penyakit dan apakah ada anggota keluarga yang memiliki kelainan sistem kekebalan bawaan. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik.

Beberapa tes lain yang digunakan untuk mendiagnosis adalah:

Tes Darah

Tes ini dapat menentukan apakah Anda memiliki kadar normal protein penangkal infeksi (imunoglobulin) dalam darah. Jumlah sel-sel tertentu yang tidak normal dapat menunjukkan cacat sistem kekebalan.

Tes darah juga dapat menentukan apakah sistem kekebalan merespons dengan benar dan memproduksi protein yang mengidentifikasi serta melawan penyerbu asing, seperti bakteri atau virus (antibodi).

Tes Prenatal

Sampel cairan ketuban, darah, atau sel dari jaringan yang akan menjadi plasenta (chorion) diuji kelainannya. Dalam beberapa kasus, tes DNA dilakukan untuk menguji cacat genetik. Hasil tes memungkinkan untuk mempersiapkan perawatan segera setelah lahir, jika perlu.

Baca Juga: 9 Penyebab Imun Lemah dan Cara Mengatasinya

Jenis Imunodefisiensi

Jika Anda dilahirkan dengan gangguan ini, hal itu disebut penyakit imunodefisiensi primer. Terdapat lebih dari 100 gangguan yang menyebabkan keadaan ini. Contoh gangguan imunodefisiensi primer meliputi:

  • X-linked agammaglobulinemia (XLA).
  • Common variable immunodeficiency (CVID).
  • Severe combined immunodeficiency (SCID), yang dikenal sebagai alymphocytosis atau penyakit ‘boy in a bubble’.

Sementara itu, gangguan imunodefisiensi sekunder terjadi ketika sumber luar seperti bahan kimia beracun atau infeksi menyerang tubuh. Beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan ini antara lain:

  • Luka bakar parah.
  • Kemoterapi.
  • Radiasi.
  • Diabetes.
  • Malnutrisi.

Contoh gangguan imunodefisiensi sekunder meliputi:

  • AIDS.
  • Kanker sistem kekebalan tubuh, seperti leukemia.
  • Penyakit kompleks imun, seperti hepatitis virus.
  • Multiple myeloma (kanker sel plasma yang menghasilkan antibodi).

Perawatan Imunodefisiensi

Perawatan untuk imunodefisiensi primer melibatkan pencegahan dan pengobatan infeksi, meningkatkan sistem kekebalan, serta mengobati penyebab yang mendasarinya. Dalam beberapa kasus, gangguan ini terkait dengan penyakit serius, seperti gangguan autoimun atau kanker.

Beberapa perawatan yang bisa Anda lakukan di antaranya:

Mengelola Infeksi

  • Mengobati infeksi. Infeksi memerlukan pengobatan yang cepat dan agresif dengan antibiotik. Perawatan mungkin memerlukan antibiotik yang lebih lama daripada yang biasanya diresepkan. Infeksi yang tidak merespon mungkin memerlukan rawat inap dan antibiotik intravena (IV)
  • Mencegah infeksi. Beberapa orang membutuhkan antibiotik jangka panjang untuk mencegah infeksi pernapasan dan kerusakan permanen pada paru-paru dan telinga. Anak-anak dengan defisiensi imun primer mungkin tidak dapat memperoleh vaksin yang mengandung virus hidup, seperti polio oral dan campak-gondong-rubella
  • Mengobati gejala. Obat-obatan seperti ibuprofen untuk nyeri dan demam, dekongestan untuk sinus tersumbat, dan ekspektoran untuk mengencerkan lendir di saluran udara, dapat membantu meringankan gejala yang akibat serangan infeksi.

Pengobatan untuk Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

  • Terapi imunoglobulin. Ini adalah terapi yang terdiri dari protein antibodi yang dibutuhkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
  • Terapi interferon-gamma. Interferon-gamma adalah zat buatan (sintetis) yang diberikan sebagai suntikan di paha atau lengan tiga kali seminggu. Terapi ini digunakan untuk mengobati penyakit granulomatosa kronik, salah satu bentuk imunodefisiensi primer.
  • Growth factors. Ketika defisiensi imun disebabkan oleh kekurangan sel darah putih tertentu, growth factors therapy dapat membantu meningkatkan tingkat sel darah putih yang memperkuat kekebalan.

Transplantasi Sel Induk

Transplantasi sel induk menawarkan penyembuhan permanen untuk beberapa bentuk defisiensi imun yang mengancam jiwa. Sel induk normal ditransfer ke orang dengan defisiensi imun, memberinya sistem kekebalan yang berfungsi normal. Sel induk dapat diambil melalui sumsum tulang atau dapat diperoleh dari plasenta saat lahir.

Donor sel punca—biasanya orang tua atau anggota keluarga lainnya—harus memiliki jaringan tubuh yang secara biologis cocok dengan jaringan tubuh orang dengan defisiensi imun primer. Bahkan, dengan pasangan yang cocok, transplantasi sel punca tidak selalu berhasil.

Perawatan sering kali mengharuskan sel-sel kekebalan yang berfungsi dihancurkan menggunakan kemoterapi atau radiasi sebelum transplantasi, membuat penerima transplantasi untuk sementara lebih rentan terhadap infeksi.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. Primary immunodeficiency. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/primary-immunodeficiency/symptoms-causes/syc-20376905. (Diakses pada 9 Agustus 2021).
  2. Carey, Elea. 2019. Immunodeficiency Disorders. https://www.healthline.com/health/immunodeficiency-disorders. (Diakses pada 9 Agustus 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi