Terbit: 25 Januari 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Hampir semua anak mengalami kesulitan saat menuliskan kata pertamanya. Namun, bila si Kecil tidak kunjung dapat menulis pada usia sekolah, atau tulisannya selalu berantakan dan tidak terbaca walau usianya telah bertambah, mungkin dia mengalami disgrafia. Pelajari tentang penyebab, gejala, dan cara mengatasi anak disgrafia.

Disgrafia (Gangguan Menulis): Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasi

Apa Itu Disgrafia?

Disgrafia adalah salah satu gangguan belajar yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang menuliskan huruf atau kata dengan benar. Penyandang disgrafia mengalami masalah pada sistem saraf mereka yang berpengaruh pada kemampuan motorik halusnya, tepatnya kemampuan menulis.

Disgrafia dapat diiringi oleh disleksia (kesulitan membaca) bisa juga tidak. Anak yang mengalami disgrafia namun bisa membaca, seringkali dituduh malas atau tidak mau belajar, padahal itu salah sama sekali.

Penting diketahui bahwa faktor keturunan mempengaruhi kondisi ini, sama seperti sebagian besar gangguan belajar lain. Jika seseorang mengalami disgrafia, atau ada anggota keluarga yang mengalami hal ini, maka kemungkinan besar salah satu anak mereka juga akan mengalaminya.

Penyebab Disgrafia

Selain faktor keturunan (yang tentu saja telah dibawa di dalam DNA seseorang), disgrafia juga disebabkan oleh beberapa hal lain. Yaitu:

  • Cedera pada otak. Dapat disebabkan oleh kecelakaan, benturan keras, atau tumor. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang dewasa.
  • Kondisi kesehatan mental anak. Anak yang mengalami ADHD, ADD, autisme, atau disleksia dapat mengalami disgrafia juga sebagai salah satu simptomnya.

Baca Juga: Mengenali Gangguan Belajar pada Anak dan Cara Mengatasinya

Ciri-Ciri Disgrafia

Disgrafia dapat dideteksi sejak anak berusia pra sekolah. Pengamatan jeli orang tua sejak dini dapat menemukan beberapa ciri yang menonjol. Diantaranya adalah:

Ciri anak disgrafia yang terlihat di rumah

Usia pra-sekolah

  • Menolak mewarnai atau menggambar.
  • Memegang krayon atau pensil dengan cara yang salah, gugup, dan tidak kokoh.
  • Sering mengeluh tangannya pegal atau sakit saat diminta mencoretkan alat tulis ke kertas.
  • Kesulitan dalam permainan dot to dot, menebalkan garis, atau membentuk suatu pola.
  • Kesulitan menjimpit atau mengambil objek yang kecil menggunakan ujung jari.

Usia sekolah

  • Kegiatan menggambar, menebalkan garis, membentuk pola adalah tantangan berat bagi anak.
  • Tidak dapat mengikat tali sepatu sendiri (atau tali lainnya) di usia 8 tahun.
  • Tidak suka jika diajak menelaah daftar atau menulis catatan singkat.
  • Sering mengeluh lelah, sakit pada tangan, pergelangan tangan dan jemari saat diajak menulis.
  • Kesulitan menggunakan gunting, memasukkan kancing, atau menarik resleting.
  • Gerakan tangan terlihat kikuk.
  • Kesulitan membedakan tangan kanan dan kiri.
  • Ketika harus menulis, maka tulisannya sangat acak dan tidak bisa dibaca.
  • Selalu melakukan kesalahan eja saat harus mengirim pesan teks, termasuk teks yang diketik.
  • Mengeluhkan PR yang harus dituliskan di buku tulis, atau mengatakan bahwa dia tidak mengerti tentang pelajarannya.
  • Dapat menjelaskan dengan lancar pelajaran di sekolah, tetapi kesulitan ketika harus menuliskannya.

Ciri yang terlihat di sekolah

Disgrafia dapat dideteksi lebih dini jika orang tua dan guru saling bersinergi dalam memonitor perkembangan anak. Jika si Kecil terlihat kesulitan mengerjakan PR atau selalu menolak menulis, cobalah meminta gurunya mengamati tanda-tanda di bawah ini.

Usia pra sekolah

  • Perlu usaha sangat keras saat diminta meniru bentuk sederhana, jauh lebih lama daripada teman-temannya.
  • Lebih suka aktivitas mewarnai daripada menggambar.
  • Saat mengerjakan tugas menggambar atau aktivitas pre-writing, sering bergerak dan sangat aktif. Sering meminta izin keluar, meninggalkan kursinya, atau melompat-lompat.

Usia sekolah dasar

  • Kesulitan menuliskan huruf dengan benar.
  • Cara memegang pensil terlihat aneh dan gugup.
  • Selalu menunjukkan posisi badan dan tangan yang salah saat menulis.
  • Ukuran huruf yang dituliskan acak, tidak beraturan.
  • Mengeja satu kata dalam berbagai cara, walaupun berada di dalam satu paragraf.
  • Kesulitan menuliskan kalimat dan menggunakan margin.
  • Selalu melakukan kesalahan eja dan tata bahasa saat menulis, tetapi tidak terjadi saat mereka berbicara.
  • Tidak mampu membaca tulisan tangannya sendiri.
  • Kesulitan membaca peta atau petunjuk arah.
  • Menyisipkan huruf besar di tengah-tengah suatu kata, atau tidak bisa membedakan huruf besar dan kecil.
  • Selalu melupakan kata sambung seperti dan, yang, jika, dll saat menulis.
  • Sering menghapus dan menulis ulang satu kata yang sama, berkali-kali.
  • Sangat lambat saat menyalin tulisan dan menulis dengan sistem dikte.

Usia sekolah menengan dan atas

  • Kesulitan menuliskan daftar atau menuliskan pemikirannya sendiri.
  • Selalu menuliskan kalimat secara sangat singkat, seringkali struktur kalimat tidak lengkap. Misalnya kalimat “Aku pulang sekolah pukul lima” dituliskan anak sebagai “pulang sekolah lima” dengan kesalahan pada penulisan huruf-hurufnya.
  • Sering ketinggalan satu atau beberapa huruf saat diminta menulis cepat.
  • Tidak dapat menentukan kerangka karangan.
  • Tidak dapat menuliskan inti permasalahan saat mengutarakan pendapat. Selalu mengulang kalimat yang sama dengan huruf yang berantakan dan berbeda-beda.

Baca Juga: 10 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Cara Mengatasi Disgrafia pada Anak

Jika anak terlihat menunjukkan ciri-ciri disgrafia, maka orang tua harus segera membawanya ke profesional untuk mendapatkan terapi yang tepat. Hal utama yang harus dilakukan adalah anak harus mendapatkan diagnosis yang tepat.

Psikolog atau terapis okupasi dapat mendiagnosa kondisi anak setelah memberikan beberapa tes. Kondisi yang dinilai saat melakukan tes disgrafia adalah hasil tulisan anak, posisi tangan dan tubuh saat menulis, cara memegang pensil, postur tubuh, dan proses menulis yang dilakukan anak.

Jika anak ternyata memang penyandang disgrafia, jangan terlalu bersedih hati. Disgrafia memang tidak dapat disembuhkan, tetapi orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut untuk menangani kesulitan yang dialami anak disgrafia:

  • Rutin membawanya terapi. Apalagi jika ternyata disgrafia adalah gejala kondisi khusus, seperti ADD, ADHD, atau disleksia.
  • Mengajak anak menggunakan kertas bergaris dengan garis yang lebar agar anak terbantu saat menulis
  • Menggunakan alat bantu saat memegang pensil. Alat ini dapat dibeli di toko yang menjual perlengkapan terapi, atau di klinik tumbuh kembang.
  • Menggunakan pensil yang berukuran besar atau berbentuk segitiga agar anak mudah memegangnya.
  • Ajarkan kemampuan mengetik sejak dini menggunakan komputer (bukan ponsel).
  • Jangan mengkritik anak jika dia lambat dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Ketahuilah, bahwa usaha untuk menulis dengan benar sangat membebani anak.
  • Hargai setiap usaha anak dalam menulis, bangun lingkungan dan suasana belajar yang positif untuk mendukung perkembangannya.
  • Ajak anak untuk melepas penat setelah menulis beberapa saat. Misalnya, dengan mengibaskan tangan, stretching, mengepalkan dan membuka telapak tangan.
  • Gunakan stress ball untuk meningkatkan kemampuan otot lengan dan meningkatkan koordinasi.
  • Beritahu gurunya di sekolah agar mereka dapat mendukung proses belajar anak.
  • Ajak anak bermain plastisin, berenang atau memanah untuk memperkuat otot lengan dan jarinya.

Di sekolah, jika anak sangat kesulitan untuk mengikuti pelajaran, orang tua dapat berkoordinasi dengan pihak sekolah. Hal-hal di bawah ini dapat dilakukan agar anak disgrafia dapat mengikuti pelajaran:

  • Anak menjalani ujian oral alih-alih tertulis.
  • Mendapat tugas menulis yang lebih singkat atau berbeda dari teman sekelasnya.
  • Menggunakan komputer atau laptop alih-alih menulis dengan tangan.
  • Boleh meng-copy catatan teman, merekam penjelasan guru, atau memotret catatan guru di papan tulis.
  • Melaporkan pekerjaan rumah dengan video atau rekaman suara.
  • Menggunakan aplikasi voice to note saat harus mengerjakan esai.

Keringanan atau toleransi tersebut mungkin tidak bisa didapatkan anak di semua sekolah. Sekolah inklusi biasanya adalah pilihan yang tepat agar anak dapat berbaur dengan temannya yang ‘normal’ sekaligus memfasilitasi kebutuhan khususnya.

Walaupun sulit menulis, anak disgrafia tetap mampu sukses di masa depan. Dukungan orang tua, guru, dan lingkungan sangat menentukan dalam hal ini.

 

  1. Fyre, Devon. 2021. What Does Dysgraphia Look Like in Children? https://www.additudemag.com/dysgraphia-in-children-recognize-symptoms-at-any-age/. (Diakses pada 21 Januari 2022).
  2. Miller, Kelli. 2020. What Is Dysgraphia? What Should I Do If My Child Has It? https://www.webmd.com/add-adhd/childhood-adhd/dysgraphia-facts. (Diakses pada 21 Januari 2022).
  3. Roland, James. 2018. What Is Dysgraphia? https://www.healthline.com/health/what-is-dysgraphia. (Diakses pada 21 Januari 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi