Bronkodilator adalah obat untuk mengobati gejala penyempitan saluran pernapasan seperti asma. Lebih lanjut ketahui tentang obat ini mulai dari manfaat, dosis, efek samping dan lainnya di bawah ini!

Ringkasan Informasi Obat Bronkodilator
Nama Obat | Bronkodilator |
Kelas Obat | Nonsteroid |
Kategori | Obat resep |
Manfaat Obat | Mengobati masalah pernapasan, termasuk:
|
Sediaan Obat | Inhaler dan nebulizer |
Harga obat | Rp99.000 – Rp250.000 |
Bronkodilator Obat Apa?
Bronkodilator adalah golongan obat nonsteroid untuk mengatasi gejala akibat penyempitan saluran pernapasan. Gejalanya termasuk sesak napas, batuk, dan mengi. Obat ini biasa untuk mengobati asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Bronkodilator bekerja dengan cara membuka (melebarkan) saluran pernapasan dan mengendurkan otot polos bronkus. Ini membuat pernapasan lebih mudah bagi penderita asma atau kondisi paru-paru lainnya.
Bronkodilator termasuk agonis beta-2 kerja cepat seperti albuterol, beta2-agonis kerja lambat (seperti salmeterol, formoterol), agen antikolinergik (misalnya, ipratropium) dan theophylline. Sedangkan kerja cepat berguna untuk mengatasi gejala asma dengan cepat dan penggunaan kerja lambat secara teratur untuk mengontrol gejala asma.
Jenis-Jenis Bronkodilator
Ada beberapa jenis bronkodilator yang tersedia dalam bentuk kerja lambat (long acting beta agonist/LABA) dan kerja cepat (short acting beta agonist/SABA). Kedua jenis tersebut bermanfaat dalam mengobati penyakit paru-paru umum, seperti asma dan emfisema. Baik agonis beta-2 dan antikolinergik tersedia dalam bentuk long-acting dan short-acting.
Berikut ini penjelasan beberapa jenis bronkodilator yang paling umum digunakan:
1. Agonis Beta-2
Jenis yang satu ini biasanya digunakan untuk asma dan PPOK, meskipun beberapa jenis hanya tersedia untuk PPOK. Agonis beta-2 biasanya menggunakan inhaler genggam kecil, tetapi mungkin juga tersedia dalam tablet atau sirup.
Untuk mengatasi gejala yang tiba-tiba dan parah, pemberian jenis ini juga bisa melalui suntikan atau nebulisasi. Nebuliser adalah kompresor yang mengubah obat cair menjadi uap, yang memungkinkan untuk menghirup obat dalam dosis besar melalui corong atau masker oksigen.
Agonis beta-2 bekerja dengan merangsang reseptor bernama reseptor beta-2 di otot yang melapisi saluran udara. Ini mampu menenangkan otot dan memungkinkan saluran udara membuka (melebar).
Beberapa obat golongan agonis beta-2, termasuk:
- Salbutamol
- Salmeterol
- Formoterol
- Vilanterol
Menggunakan agonis beta-2 harus hati-hati bagi orang dengan kondisi berikut:
- Tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme).
- Penyakit kardiovaskular.
- Detak jantung tidak teratur (aritmia).
- Tekanan darah tinggi (hipertensi).
- Diabetes.
Meskipun jarang terjadi, agonis beta-2 dapat memperburuk beberapa gejala dan risiko komplikasi dari kondisi ini.
2. Antikolinergik
Jenis obat bronkodilator ini dapat mengobati PPOK, tetapi beberapa juga untuk mengobati asma. Pemberian obat ini umumnya menggunakan inhaler, tetapi mungkin mengubah obat cair ke uap (nebulisasi) untuk mengobati gejala yang tiba-tiba dan parah.
Jenis antikolinergik ini dapat membantu saluran udara melebar dengan menghalangi saraf kolinergik. Saraf ini dapat melepaskan bahan kimia yang dapat menyebabkan otot-otot pada saluran udara mengencang.
Beberapa obat golongan antikolinergik termasuk berikut:
- Ipratropium
- Tiotropium
- Aclidinium
- Glycopyrronium
Menggunakan antikolinergik harus hati-hati pada orang dengan kondisi berikut:
- Pembesaran prostat jinak.
- Obstruksi aliran keluar kandung kemih.
- Glaukoma.
Jika memiliki pembesaran prostat jinak atau obstruksi aliran keluar kandung kemih, antikolinergik dapat menyebabkan masalah, seperti kesulitan buang air kecil dan tidak dapat mengosongkan kandung kemih sepenuhnya. Sedangkan glaukoma bisa bertambah parah apabila obat antikolinergik secara tidak sengaja masuk ke mata.
3. Theophylline
Jenis ini biasanya tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul, tetapi bentuk berbeda (seperti aminofilin) bisa diberikan secara langsung ke pembuluh darah (intravena) jika gejalanya parah.
Tidak jelas bagaimana theophylline bekerja, tetapi mungkin dapat mengurangi peradangan (pembengkakan) di saluran udara, selain mengendurkan otot-otot yang melapisinya. Efek dari theophylline lebih lemah daripada obat bronkodilator dan kortikosteroid lainnya.
Gunakan theophylline dengan hati-hati pada orang dengan kondisi berikut ini:
- Tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme).
- Penyakit kardiovaskular.
- Masalah hati, seperti penyakit hati.
- Tekanan darah tinggi (hipertensi).
- Luka terbuka yang berkembang pada lapisan perut (tukak lambung).
- Suatu kondisi yang memengaruhi otak dan menyebabkan serangan berulang (epilepsi).
Obat ini dapat memperburuk kondisi tersebut. Pada penderita masalah hati, terkadang dapat menyebabkan penumpukan obat yang berbahaya di dalam tubuh.
Obat-obatan lain juga dapat menyebabkan penumpukan theophylline yang tidak normal di dalam tubuh. Ini harus selalu mendapatkan perhatian dari dokter. Orang tua mungkin juga memerlukan pemantauan tambahan saat menggunakan obat ini.
Manfaat Bronkodilator
Bronkodilator adalah obat untuk memperlancar pernapasan dengan cara mengendurkan otot-otot di paru-paru dan melebarkan saluran pernapasan (bronkus).
Obat ini umumnya digunakan untuk mengobati kondisi jangka panjang di mana saluran udara menjadi sempit dan meradang, berikut di antaranya:
- Asma. Suatu kondisi paru-paru umum yang disebabkan oleh peradangan di saluran udara.
- Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).sekelompok kondisi paru-paru dan ini yang biasanya disebabkan oleh merokok yang menyebabkan sulit bernapas.
Bronkodilator juga dapat digunakan untuk mengobati kondisi paru-paru lainnya, seperti membantu membersihkan lendir dari paru-paru. Saluran udara yang terbuka membuat lendir bergerak lebih bebas, sehingga dapat mengeluarkan lendir dari tubuh dengan mudah.
Dosis Bronkodilator
Bronkodilator terutama tersedia dalam bentuk inhaler dan nebulizer (mesin bertenaga baterai yang menghasilkan semprotan halus). Seberapa banyak dosis untuk setiap orang berbeda, sehingga penggunaannya harus berdasarkan resep dokter.
Berikut ini dosis umum untuk bronkodilator yang dapat digunakan:
- Terapi serangan akut: 1 unit dosis, untuk kondisi yang parah. Jika kondisi tidak segera mereda dengan pemberian 1 unit dosis, mungkin memerlukan 2 unit dosis. Pasien harus segera berkonsultasi dengan dokter atau segera ke rumah sakit terdekat.
- Terapi pemeliharaan: 1 unit dosis sebanyak tiga atau empat kali dalam sehari.
- Overdosis: Pemberian sediaan obat penenang untuk overdosis parah, penghambat reseptor beta (terutama selektif beta-1) cocok sebagai antidot spesifik. Namun, kemungkinan terjadinya peningkatan obstruksi bronkus harus memperhitungkan dan dosis harus sesuai dan harus berhati-hati pada penderita asma bronkial.
Dosis inhalasi albuterol yang biasa digunakan adalah 2 inhalasi setiap 4-6 jam. Untuk mencegah bronkospasme akibat olahraga, gunakanlah 2 inhalasi selama 15-30 menit sebelum berolahraga. Efek inhalasi albuterol harus berlangsung sekitar 4-6 jam.
Petunjuk Penggunaan Bronkodilator
Jika Anda atau orang sekitar Anda mendapatkan resep bronkodilator, penting untuk mempelajari bagaimana cara menggunakannya dengan benar sehingga obat dapat menyerap ke dalam paru-paru dengan baik. Menggunakan inhaler dosis terukur atau metered-dose inhaler (MDI) bisa menjadi rumit pada awalnya. Namun akan mudah dan terbiasa seiring waktu.
Anda dapat berkonsultasi ke tenaga medis atau apoteker untuk membantu mempelajari cara menggunakannya atau mengawasi Anda saat pertama kali menggunakannya.
Berikut ini adalah langkah-langkah menggunakan inhaler yang benar:
- Kocok inhaler secara menyeluruh sebelum menggunakannya untuk memastikan tidak mendapatkan terlalu banyak atau tidak cukup obat.
- Lepaskan tutup dari corong inhaler.
- Tarik napas dan embuskan sepenuhnya.
- Dengan tabung mengarah ke atas dan mengarahkan corong ke mulut, masukkan corong ke dalam mulut dan tutup bibir di sekitarnya.
- Ambil napas cepat dan dalam melalui mulut, sambil secara bersamaan menekan bagian bawah tabung dengan kuat.
- Tahan napas selama 5-10 detik, dan biarkan obat masuk ke paru-paru.
- Lepaskan corong dari mulut dan bernapaslah dengan normal.
- Jika dokter menganjurkan dosis obat kedua, sebiknya tunggu selama satu hingga dua menit, kocok kembali inhaler, dan ulangi langkah 3-7.
- Ganti tutup corong setelah digunakan untuk mencegah debu dan kotoran masuk ke dalamnya.
- Bilaslah mulut Anda dengan air setelah menggunakan inhaler.
Petunjuk Penyimpanan Bronkodilator
Simpan bronkodilator di tempat yang benar untuk mencegah obat dari kerusakan dan menjaga kualitas obat ini. Berikut adalah petunjuk menyimpan obat yang benar, antara lain:
- Pastikan untuk menyimpan inhaler albuterol pada suhu kamar.
- Jauh dari panas, cahaya, dan kelembapan.
- Tutup kembali corong inhaler untuk membantu menjaga obat agar tidak kedaluwarsa lebih awal.
- Jauhkan dari pandangan atau jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Efek Samping Bronkodilator
Penggunaan bronkodilator dapat menimbulkan efek samping yang berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis yang digunakan. Berikut ini beberapa efek samping bronkodilator yang mungkin terjadi, antara lain:
- Gemetar, terutama di tangan.
- Sakit kepala.
- Mulut kering.
- Batuk
- Detak jantung berdetak kencang (palpitasi).
- Kram otot.
- Mual dan muntah.
- Diare.
Interaksi Bronkodilator
Interaksi obat adalah reaksi antara dua obat atau antara obat dan makanan, minuman, atau suplemen. Bronkodilator dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu lainnya. Interaksi obat dapat memengaruhi cara kerja obat atau meningkatkan risiko terjadi efek samping.
Beberapa obat yang dapat berinteraksi dengan obat bronkodilator (terutama theophylline), termasuk berikut ini:
- Diuretik, sejenis obat untuk membantu mengeluarkan cairan dari tubuh.
- Beberapa antidepresan, termasuk monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) dan tricyclic antidepressants (TCAs).
- Digoxin, obat untuk mengobati aritmia.
- Benzodiazepines, obat penenang yang terkadang juga digunakan untuk kecemasan atau masalah tidur (insomnia).
- Lithium, obat untuk mengobati depresi berat dan gangguan bipolar.
- Quinolones, sejenis obat antibiotik.
Peringatan dan perhatian Bronkodilator
Sebelum menggunakan bronkodilator, ada beberapa hal yang menjadi peringatan dan perhatian yang harus Anda ketahui berikut ini:
- Beri tahu dokter apabila Anda memiliki riwayat alergi. Hal ini karena bronkodilator tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi pada obat ini.
- Beri tahu dokter apabila Anda memiliki riwajat atau sedang mengalami penyakit tertentu, termasuk penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertiroidisme, hipertensi, aritmia, penyakit liver, diabetes, sumbatan di saluran kemih, benign prostate hyperplasia, tukak lambung, glaukoma, dan epilepsi.
- Beri tahu dokter jika Anda menggunakan obat tertentu lainnya seperti obat resep, nonresep, atau obat herbal. Hal ini karena bronkodilator dapat berinteraksi dengan obat lainnya yang mungkin menimbulkan efek samping.
- Bronkodilator dapat digunakan seperti biasa saat hamil atau menyusui. Namun sebaiknya bicarakan dengan dokter jika Anda rutin menggunakan bronkodilator dan Anda sedang berencana untuk hamil atau sedang hamil.
Harga Bronkodilator
Bronkodilator bisa didapatkan di berbagai apotek dan toko obat baik secara online maupun offline. Harga obat ini di setiap toko obat dan apotek mungkin berbeda-beda bergantung lokasi. Biasanya obat ini dijual dengan kisaran harga Rp99.000 – Rp250.000.
Demikian ulasan lengkap mengenai bronkodilator, obat yang umumnya digunakan mengobati masalah pernapasan seperti asma. Informasi kesehatan ini tidak menggantikan konsultasi langsung dengan apoteker atau dokter.
Dapatkan obat Arcoxia dan vitamin lainnya di apotek online Farmaku dengan harga terjangkau dan promo tambahan. Gratis ongkir di wilayah Jakarta untuk pembelian paket vitamin dan obat untuk isolasi mandiri COVID-19.