Terbit: 10 Mei 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Antikonvulsan adalah obat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati kejang dan epilepsi. Obat ini membantu menormalkan cara impuls saraf berjalan di sepanjang sel saraf. Simak penjelasan lengkap mengenai manfaat, efek samping, hingga aturan penggunaannya.

Antikonvulsan: Manfaat, Efek Samping, Aturan Pakai, dll

Antikonvulsan Obat Apa?

Obat antikonvulsan digunakan untuk mengontrol kejang atau menghentikan rangkaian kejang yang sedang berlangsung.

Selama kejang, terjadi perubahan tingkat sinyal listrik sel saraf dari tingkat normal ke jumlah sinyal saraf yang berlebihan atau tidak normal. Aktivitas saraf yang meningkat ini bertanggung jawab atas tanda dan gejala kejang.

Apa yang menyebabkan perubahan tersebut adalah gangguan impuls saraf yang dapat disebabkan oleh cedera pada bagian otak, stroke, tumor otak, penyebab genetik, masalah metabolisme, atau masalah toksisitas.

Selain itu, antikonvulsan adalah obat yang juga dapat digunakan untuk mengobati nyeri saraf dan gangguan bipolar.

Jenis Antikonvulsan

Berikut ini adalah berbagai jenis antikonvulsan, antara lain:

  • AMPA receptor antagonists.
  • Barbiturate anticonvulsants.
  • Benzodiazepine anticonvulsants.
  • Carbamate anticonvulsants.
  • Carbonic anhydrase inhibitor anticonvulsants.
  • Dibenzazepine anticonvulsants.
  • Fatty acid derivative anticonvulsants.
  • Gamma-aminobutyric acid analogs.
  • Gamma-aminobutyric acid reuptake inhibitors.
  • Hydantoin anticonvulsants.
  • Miscellaneous anticonvulsants.
  • Neuronal potassium channel openers.
  • Oxazolidinedione anticonvulsants.
  • Pyrrolidine anticonvulsants.
  • Succinimide anticonvulsants.
  • Triazine anticonvulsants.

Fungsi Antikonvulsan

Antikonvulsan adalah obat untuk menjaga impuls saraf ke tingkat normal dan terkontrol, itulah sebabnya obat ini digunakan untuk mengatasi gangguan kejang dan epilepsi. Meski begitu, cara obat ini mengontrol impuls saraf tidak sepenuhnya dipahami, namun beberapa pakar menduga obat ini memengaruhi neurotransmiter seperti GABA, bekerja pada reseptor seperti glutamate, atau mengubah saluran listrik di sel saraf.

Pengobatan Antikonvulsan untuk Gangguan Bipolar

Beberapa antikonvulsan dikenal sebagai penstabil suasana hati untuk mengobati atau mencegah episode suasana hati pada gangguan bipolar. Pada awalnya, obat ini hanya diresepkan untuk orang yang tidak merespons lithium. Namun saat ini, antikonvulsan adalah obat yang sering diresepkan sendiri, dengan lithium, atau dengan obat antipsikotik untuk mengendalikan masalah kejiwaan.

Dikarenakan kemampuan obat untuk menenangkan hiperaktif di otak dengan berbagai cara, obat ini juga digunakan untuk mencegah migrain dan mengobati gangguan otak lainnya. Obat ini sering diresepkan untuk orang yang mengalami empat atau lebih episode mania dan depresi dalam setahun.

Sedangkan, jenis antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar meliputi:

  • Carbamazepine (Tegretol).
  • Divalproex sodium, valproic acid, atau valproate sodium (Depakote, Depakene).
  • Lamotrigine (Lamictal).

Perlu Anda ketahui, pada dasarnya penggunaan obat-obatan ini harus sesuai dengan gejala yang dialami.  Depakote dan Tegretol, misalnya, cenderung lebih efektif dalam mengobati episode mania daripada gejala depresi.

Sementara Lamictal tampaknya memiliki antidepresan yang lebih kuat daripada efek antimanik/antimania. Lamictal juga digunakan lebih sering untuk mencegah episode masa depan (daripada mengobati episode saat ini). Depakote dan Tegretol digunakan untuk mengobati episode akut lebih dari sebagai perawatan pencegahan.

Antikonvulsan lain yang tidak efektif untuk mengobati gejala suasana hati pada gangguan bipolar seperti Lyrica, Neurontin, atau Topamax juga digunakan ‘di luar label’ untuk jenis gangguan lain seperti masalah tidur, manajemen nyeri, kecemasan, atau penurunan berat badan

Setiap antikonvulsan bekerja di otak dengan cara yang berbeda-beda, hal tersebut membuat pengalaman Anda mungkin berbeda tergantung pada obat yang Anda minum. Secara umum, obat ini memiliki efektivitas maksimal setelah meminumnya selama beberapa minggu.

Baca Juga: Kejang Demam: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Efek Samping Antikonvulsan

Sebelum menggunakan obat ini, biasanya dokter menyarankan Anda untuk melakukan tes darah. Beberapa antikonvulsan dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal, atau menurunkan jumlah trombosit dalam darah.

Meski setiap jenis memiliki efek samping yang berbeda, efek samping yang umum terjadi, antara lain:

  • Pusing.
  • Kantuk.
  • Kelelahan.
  • Mual.
  • Tremor.
  • Ruam.
  • Penambahan berat badan.

Sebagian besar efek samping di atas akan berkurang seiring waktu. Sementara efek jangka panjangnya bervariasi dari satu obat dengan obat lain.

Secara umum, hal penting yang harus Anda ketahui sebelum mengonsumsi obat ini adalah:

  • Wanita hamil tidak boleh mengonsumsi obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena beberapa obat dapat meningkatkan risiko cacat lahir.
  • Beberapa jenis obat ini dapat menyebabkan masalah pada hati dalam jangka panjang, hal itu mengharuskan Anda memantau kesehatan organ hati secara berkala.
  • Antikonvulsan dapat berinteraksi dengan obat lain seperti aspirin dan menyebabkan masalah serius. Pastikan untuk memberi tahu dokter tentang obat, herbal, atau suplemen yang Anda konsumsi.

Konsultasi dengan dokter juga diperlukan sebelum menghentikan obat ini. Terkadang, menghentikannya terlalu cepat dapat meningkatkan risiko kejang.

Efek Samping pada Kulit

Obat Reaksi Kulit Catatan
Carbamazepine           
  • Sariawan
  • Urtikaria
  • Sindrom Stevens-Johnson
  • Sensitif pada cahaya
  • Efek samping kulit adalah efek samping paling umum yang menyebabkan penghentian carbamazepine
  • Reaksi silang terjadi antara carbamazepine dan amitriptyline
Phenytoin
  • Eritroderma
  • Jerawat pustula
  • Hiperpigmentasi
  • Hypertrichosis
  • Gejala mirip lupus
  • Sindrom hipersensitivitas antikonvulsan
  • Sekitar 5–10% pasien yang menggunakan phenytoin mengalami reaksi kulit
  • Hypertrichosis mungkin tidak dapat disembuhkan
  • Penyebab paling umum dari sindrom hipersensitivitas antikonvulsan
Fosphenytoin
  • Ruam bulosa (melepuh)
  • Dermatitis eksfoliatif / eritroderma
  • Pruritus
  • Gingival hyperplasia
  • Gejala mirip lupus
  • Eritema multiformis
  • Pruritus terjadi pada 49% pasien dan berhubungan dengan dosis
  • Selangkangan adalah bagian tubuh yang paling terpengaruh
Phenobarbital
  • Ruam morbilliform
  • Urtikaria
  • Eritema multiformis
  • Sensitif pada cahaya
  • Acneform rash (seperti jerawat)
  • Purpura
Lamotrigine    
  • Ruam morbiliform (pada 10 %)
  • Angioedema
  • Pruritus
  • Sindrom Stevens-Johnson
  • Sindrom hipersensitivitas antikonvulsan
  • Reaksi kulit yang mengancam jiwa terjadi pada 1 dari 100 anak-anak dan 1 dari 1000 orang dewasa yang diobati dengan lamotrigine
  • Wanita memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pria
Valproic acid  
  • Diaphoresis (keringat berlebih, hiperhidrosis)
  • Eritema multiformis
  • Alopecia transien (rambut rontok)
  • Petechiae
  • Sensitif pada cahaya
  • Pruritus
  • Obat jenis ini berinteraksi dengan antikonvulsan lain seperti lamotrigine, sehingga meningkatkan kemungkinan efek samping

Pada akhirnya, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk memastikan apakah obat ini sesuai dengan keadaan yang Anda alami.

 

  1. Anonim. Anticonvulsants. https://www.drugs.com/drug-class/anticonvulsants.html. (Diakses pada 10 Mei 2021).
  2. Shiel, William C. Definition of Anticonvulsant. https://www.rxlist.com/anticonvulsant/definition.htm. (Diakses pada 10 Mei 2021).
  3. Scorer, Matthew. 2011. Cutaneous adverse effects of anticonvulsant drugs. https://dermnetnz.org/topics/cutaneous-adverse-effects-of-anticonvulsant-drugs/. (Diakses pada 10 Mei 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi