Terbit: 9 November 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sesekali vagina gatal setelah berhubungan seks mungkin tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika terjadi terus-menerus penting untuk diwaspadai. Selengkapnya ketahui penyebab hingga cara mencegahnya berikut ini!

Penyebab dan Cara Mengatasi Vagina Gatal setelah Berhubungan Seks

Penyebab Vagina Gatal setelah Berhubungan Seks

Pelumasan yang tidak cukup selama seks atau banyak gesekan bisa menyebabkan gatal pada vagina. Jika ini pemicunya, tanda dan gejala mungkin membaik dengan menghindari seks selama beberapa hari. Namun, jika gejalanya bertahan atau mengalami gejala lain, mungkin karena masalah kesehatan pada vagina.

Berikut ini penyebab vagina gatal setelah berhubungan intim:

1. Alergi lateks

Alergi lateks adalah reaksi terhadap protein yang terdapat dalam lateks. Jika alergi terhadap lateks, mungkin mengalami reaksi setelah bersentuhan dengan produk yang berbahan lateks, termasuk kondom.

Jika alergi terhadap kondom, gejalanya dapat berkisar dari ringan hingga berat tergantung pada seberapa sensitif dan jumlah kontak dengan lateks.

2. Alergi sperma

Wanita juga bisa alergi sperma, yang dinamakan hipersensitivitas plasma seminalis atau alergi air mani. Ini adalah reaksi alergi yang langka terhadap protein dalam air mani. Wanita mungkin mengalami gejala ketika pertama kali berhubungan seks.

Gejala alergi air mani dapat muncul pada bagian tubuh mana pun yang bersentuhan dengan air mani, termasuk vagina, mulut, dan kulit. Gejala biasanya mulai terjadi dalam 10-30 menit setelah kontak dengan air mani.

3. Vagina kekeringan

Kekeringan sering kali menjadi penyebab vagina gatal setelah berhubungan seks. Hal ini mungkin karena kulit kering pada vulva atau kekeringan vagina. Kondisi ini terjadi ketika sekresi vagina tidak cukup diproduksi untuk melumasi dinding vagina dengan benar.

Kulit kering dapat mengelupas dan terasa gatal, yang juga meningkatkan risiko iritasi dan lecet saat berhubungan seks. Penyebab yang paling umum dari vagina kering adalah perubahan hormonal, seperti yang dialami saat menopause dan melahirkan.

4. Ketidakseimbangan pH

pH adalah ukuran seberapa asam atau basa suatu zat, yang diukur pada skala 0 hingga 14. Keseimbangan pH vagina harus berada di antara 3,8 dan 4,5. Tingkat keasaman ini menghasilkan penghalang pelindung yang mencegah pertumbuhan berlebih dari bakteri dan jamur berbahaya.

Memiliki pH vagina yang tinggi meningkatkan risiko infeksi vagina yang menyebabkan gatal. Gejala lain yang mungkin terjadi akibat ketidakseimbangan pH, termasuk keluar cairan yang tidak biasa, bau busuk atau amis, sensasi terbakar saat buang air kecil.

5. Infeksi vagina

Gatal adalah gejala umum dari berbagai jenis infeksi vagina, termasuk infeksi jamur dan bakterial vaginosis (BV).

Infeksi vagina dapat berkembang dari bakteri, jamur seperti ragi, dan parasit. Meskipun beberapa infeksi vagina bisa ditularkan secara seksual, tetapi tidak semua infeksi vagina adalah penyakit menular seksual

6. Penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual (PMS) seringkali tidak menimbulkan gejala, tetapi terkadang menyebabkan gatal pada vagina. Gejalanya bergantung pada jenis PMS, mungkin memerlukan waktu beberapa hari untuk muncul.

Beberapa jenis penyakit menular seksual biasanya dapat menyebabkan gatal, termasuk klamidia, herpes, gonore (kencing nanah), trikomoniasis, herpes genital, dan kutil kelamin.

Pengobatan Vagina Gatal setelah Berhubungan Intim

Perawatan gatal pada vagina setelah berhubungan seks tergantung dari penyebabnya. Gatal ringan dapat diatasi dengan pengobatan rumahan atau dibiarkan hilang dengan sendirinya. Namun, gatal-gatal akibat infeksi terkait seksual membutuhkan pengobatan medis yang tepat.

Pengobatan rumahan

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu mencegah dan mengurangi rasa sakit. Pengobatan ini juga mengurangi gejala jika sering kali mengalami gatal pada vagina setelah berhubungan seks.

Berikut ini beberapa pengobatannya:

  • Menjaga area genital tetap bersih dan kering setelah dicuci.
  • Hindari berhubungan seks sampai gejalanya berkurang.
  • Berendam dalam air hangat yang dicampur oatmeal.
  • Menggunakan produk yang dibuat untuk kulit sensitif.
  • Menggunakan kondom nonlateks.
  • Mengoleskan salep dan kit perawatan yang dijual bebas jika mengalami infeksi jamur ringan.
  • Hindari douching.

Perawatan medis

Biasanya penyakit menular seksual dan infeksi memerlukan pengobatan secara medis. Perawatan tergantung pada penyebabnya, termasuk.

  • Obat antivirus.
  • Obat antijamur.
  • Antibiotik topikal, oral, dan injeksi.
  • Kortikosteroid topikal atau oral.
  • Pengobatan kutil topikal.
  • Operasi laser removal atau cryosurgery, untuk menghilangkan kutil kelamin.

Pencegahan Vagina Gatal setelah Berhubungan Intim

Mencegah sensasi vagina gatal setelah berhubungan dapat dilakukan dengan lengkah-langkah berikut ini:

  • Menghindari douching.
  • Menggunakan kondom nonlateks jika lateks memicu iritasi.
  • Menggunakan pelumas berbahan dasar air sebelum berhubungan seks.
  • Mengubah spermisida (salah satu alat kontrasepsi) atau beralih ke bentuk lain dari pengendalian kelahiran.

Berhenti menggunakan iritaan lain yang menyebabkan gatal pada kelamin juga bisa membantu. Sebaiknya hindari produk berikut:

  • Deodoran atau semprotan vagina.
  • Produk saniter beraroma.
  • Penggunaan sabun wangi dan produk mandi kimia di sekitar vagina.

Sebagai gantinya, Anda dapat mencuci alat kelamin dengan sabun lembut dan air hangat agar tetap bersih.

 

  1. Anonim. 2021. 10 Reasons you could be experiencing vaginal itching after sex. https://www.stdlabs.com/blog-detail/10-reasons-you-could-be-experiencing-vaginal-itching-after-sex (Diakses pada 9 November 2021)
  2. Sissons, Beth. 20219. What causes itching after sex?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326377 (Diakses pada 9 November 2021)
  3. Santos-Longhurst, Adrienne. 2020. What’s Causing My Itching After Intercourse, and How Do I Treat It?. https://www.healthline.com/health/itching-after-sex#vaginal-itching-causes (Diakses pada 9 November 2021)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi