Terbit: 3 Maret 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Menghadapi anak tantrum bukan hal yang mudah. Saat tantrum umumnya anak akan marah-marah, berteriak, membanting dan menendang barang-barang di sekitarnya. Tantrum sebenarnya adalah salah satu cara anak untuk mengekspresikan keinginannya, namun ia tidak dapat mengatakannya dengan baik sehingga memilih untuk mengamuk. Jika setiap tantrum kemudian Anda menuruti keinginannya, maka anak akan merasa bahwa dengan marah dan mengamuk ia akan mendapati keinginannya.

Tips Mencegah Anak Tantrum dalam Berbagai Situasi

Tantrum dapat terjadi di mana saja dan dalam situasi apa saja. Untuk mengatasi anak yang tantrum, Anda dapat mencegahnya sebelum tanda-tanda tersebut muncul. Dilansir dari laman youngparents, berikut ini tips mencegah tantrum dalam beberapa situasi:

1. Anda menolak membelikan mainan yang ia inginkan
Anda mengajak si kecil ke toko mainan dan ia memilih beberapa mainan yang ia sukai. Ketika di kasir, Anda menolak permintaan tersebut hingga akhirnya anak Anda marah-marah dan berteriak-teriak.

Untuk mengatasi situasi ini, Anda bisa mengatakan pada anak Anda sebelum masuk toko bahwa ia hanya boleh mengambil 1 mainan saja yang paling ia sukai. Kalau ia marah, ingatkan lagi kesepakatan tersebut. Jika ia masih tetap berontak, lebih baik pergi dari toko tersebut.

Memberi peringatan di awal dan hukuman membuat anak belajar tentang aturan, konsekuensi dan tanggung jawab. Pada awalnya mungkin anak-anak akan sulit mengikutinya, namun lama-kelamaan ia akan memahaminya.

2. Anak tidak mau berhenti bermain dan merapikan mainan
Anak-anak mungkin terlalu asyik bermain sehingga tidak mengindahkan perintah Anda. Yang bisa Anda lakukan untuk mencegah tantrum dalam kondisi ini adalah dengan memberi peringatan beberapa menit sebelum waktu bermainnya habis. Peringatan ini berfungsi untuk menyiapkan emosi anak ketika ia berhenti melakukan hal yang ia sukai. Jika setelah tiga kali peringatan ia masih bergeming, maka sebaiknya segera ajak anak Anda pindah ke tempat lain.

3. Anak tidak mau berbagi mainan

Sebelum bermain dengan teman atau kakaknya, ingatkan pada anak untuk berbagi mainan dan bersikap baik. Ketika ia merasa tidak nyaman dan mulai bertengkar, ingatkan kembali tentang aturan tersebut. Umumnya balita berusia 2-3 tahun mengalami masa-masa posesif terhadap orang atau mainan yang ia miliki. Seiring pertumbuhannya, sikap tersebut akan berkurang dengan sendirinya.

Dengan konsisten pada aturan, Anda dapat melatih anak untuk lebih bertanggung jawab dan mengendalikan diri. Meskipun kadang anak merespon dengan menangis semakin keras, namun Anda sebaiknya tidak goyah. Yang terpenting, Anda harus tetap tenang, tegas nanun jangan memarahi atau membentak anak-anak.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi