Terbit: 30 June 2022 | Diperbarui: 4 July 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Pengidap kanker biasanya memerlukan donor apheresis karena membutuhkan banyak trombosit untuk mempercepat pembekuan darah ketika memiliki pendarahan. Berbeda dengan donor darah pada umumnya, prosedur ini hanya mengambil komponen darah yang diperlukan saja. Untuk informasi selengkapnya, simak dalam penjelasan di bawah ini.

Donor Apheresis: Syarat, Prosedur, dan Efek Sampingnya

Apa itu Donor Apheresis?

Donor apheresis adalah prosedur medis di mana pengambilan darah lengkap dari pendonor secara otomatis menggunakan alat khusus. Seperti donor darah biasa, jarum, selang, dan kit yang digunakan semuanya steril dan sekali pakai.

Setelah darah dikeluarkan dari tubuh, darah kemudian dipisahkan menjadi beberapa komponen sehingga komponen tertentu dapat dipisahkan atau dihilangkan. Komponen darah tertentu yang dibutuhkan kemudian disimpan. Sedangkan komponen darah yang tersisa dimasukkan kembali ke dalam aliran darah pendonor.

Darah sendiri terdiri beberapa komponen, termasuk:

  • Trombosit.
  • Plasma.
  • Sel darah merah.
  • Sel darah putih.

Pemisahan komponen darah ini bertujuan untuk pengobatan kondisi medis tertentu di mana bagian darah yang mengandung unsur penyebab penyakit dihilangkan.

Tergantung pada berat dan tinggi badan pendonor, proses donor apheresis akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Selama waktu ini, pendonor bisa sambil menonton televisi, mendengarkan musik, membaca buku, atau hanya duduk santai.

Apa Syarat untuk Menjadi Pendonor Apheresis?

Apabila ingin menjadi pendonor apheresis, seseorang harus memenuhi persyaratan tertentu. Beberapa syaratnya di antaranya:

  • Berusia 17-50 tahun.
  • Sehat jasmani dan rohani.
  • Berat badan minimum pria 55 kilogram dan wanita 60 kilogram.
  • Wanita tidak sedang menyusui, belum hamil, atau menstruasi.
  • Pernah mendonorkan darah sebelumnya.
  • Jumlah trombosit di atas 200 ribu/mm3.
  • Tekanan darah antara 110/70 mmHg sampai 180/100 mmHg.
  • Kadar hemoglobin 12,5-17,0 gr/dL%.
  • Tidak minum obat aspirin sebelum donor darah.

Baca Juga: 12 Manfaat Donor Darah bagi Kesehatan, Bisa Bikin Panjang Umur?

Donor Apheresis untuk Apa?

Donor darah apheresis dibutuhkan oleh pasien yang membutuhkan trombosit dalam jumlah banyak, hal ini bertujuan untuk mempercepat pembekuan darah ketika mengalami pendarahan.

Prosedur ini dibutuhkan pasien dengan kondisi berikut:

  • Kelainan darah.
  • Demam berdarah dengue (DBD).
  • Pasien yang menerima tindakan operasi.
  • Transplantasi.
  • Kanker.

Prosedur Donor Apheresis

Prosedur apheresis aman dan tidak menyebabkan rasa sakit karena hanya sedikit trombosit pendonor yang dikumpulkan, sehingga tidak memicu perdarahan.

Berikut ini prosedur untuk donor apheresis:

  1. Mendaftar. Proses pertama adalah dengan mengisi formulir pendaftaran dan kuesioner kesehatan.
  2. Skrining. Proses kedua adalah pendonor menjalani skrining untuk mendeteksi Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) sampai dinyatakan layak untuk bisa diambil darah. Biasanya skrining berlaku untuk jangka waktu satu bulan.
  3. Pengambilan sampel darah. Sampel darah diambil sekitar 3-5 ml kemudian dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan hematologi. Ketika hasil pemeriksaan sampel darah keluar, pendonor kembali mengisi formulir penjelasan dan persetujuan (informed consent).
  4. Pemeriksaan medis. Pendonor harus melakukan pemeriksaan medis dan kemudian mendapatkan penjelasan tentang bagaimana persiapan untuk menjalani proses donor.
  5. Pengambilan darah. Pendonor menjalani pengambilan darah selama sekitar 1,5 hingga 2 jam di ruang khusus. Darah yang keluar melalui jarum kemudian masuk ke dalam dalam mesin khusus. Darah merah dikembalikan ke dalam tubuh pendonor, dan komponen darah yang dibutuhkan akan diberikan kepada pasien.
  6. Istirahat. Setelah selesai menjalani pengambilan darah, pendonor disarankan untuk istirahat dengan berbaring selama 10 menit. Setelah itu kemudian dianjurkan untuk makan makanan bergizi.
  7. Hasil donor diserahkan. Tergantung pada kebutuhan medis, komponen yang disimpan diberikan kepada pasien setelah menjalani operasi, kecelakaan, penyakit, atau setelah kemoterapi.

Baca Juga: Bolehkah Donor Darah saat COVID-19? Ini yang Perlu Diketahui!

Efek Samping Donor Apheresis

Pengumpulan darah otomatis sangat aman dan tidak menimbulkan rasa sakit. Adapun efek samping serius dari apheresis donor jarang terjadi. Efek samping kecil dapat mencakup pendarahan di area suntikan dan perasaan pusing yang biasanya sembuh dengan cepat.

Efek samping lainnya dari donor darah apheresis, di antaranya:

  • Ketidaknyamanan selama proses pengumpulan darah.
  • Sedikit kedinginan selama prosedur.
  • Tekanan darah rendah saat darah dikeluarkan.
  • Kram otot karena kalsium dalam darah rendah dan kadar elektrolit tubuh tidak seimbang.
  • Kesemutan di sekitar bibir dan hidung saat prosedur, reaksi ini disebabkan oleh antikoagulan yang digunakan dalam prosedur.
  • Perdarahan dan kecenderungan untuk berdarah karena faktor pembekuan telah dihilangkan.
  • Mengalami infeksi karena sistem kekebalan tubuh agak ditekan ketika antibodi dikeluarkan.

 

  1. Anonim. 2022. Donor Aferesis. https://aferesis.or.id/donor-aferesis/. (Diakses pada 30 Juni 2022)
  2. Anonim. 2022. Apheresis Donation. https://www.leehealth.org/our-services/blood-centers/apheresis-donation. (Diakses pada 30 Juni 2022)
  3. Anonim. Apheresis Donation. https://uchealth-wp-uploads.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/sites/4/2021/05/27183618/UCHealth-Garth-Englund-Apheresis-Brochure-052521.pdf. (Diakses pada 30 Juni 2022)
  4. Anonim. Donate Platelets. https://www.uclahealth.org/gotblood/donate-platelets (Diakses pada 30 Juni 2022)
  5. Stöppler, Melissa C. 2021. Apheresis (Hemapheresis, Pheresis). https://www.medicinenet.com/hemapheresis/article.htm#how_is_apheresis_performed. (Diakses pada 30 Juni 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi