Terbit: 19 January 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Akhir pekan seperti sekarang ini sangatlah cocok untuk dimanfaatkan sebagai waktu beristirahat demi menghilangkan rasa lelah, stres, dan penat. Hanya saja, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Jika sampai kita kesulitan untuk menghilangkan rasa lelah, dampaknya bisa sangat buruk bagi kesehatan, termasuk dalam hal menyebabkan gangguan pada jantung.

Tubuh Kelelahan Bisa Membahayakan Jantung?

Dampak Kelelahan bagi Kondisi Jantung

Dalam dunia medis, kelelahan yang berlebihan dan disebabkan oleh pekerjaan disebut sebagai burnout syndrome. Tak hanya membuat kita tak lagi bisa bekerja dengan maksimal dan sulit berkonsentrasi, hal ini ternyata bisa memberikan pengaruh buruk bagi denyut jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut burnout syndrome tidak termasuk dalam kondisi medis. Hal ini lebih ke fenomena yang terjadi pada mereka yang bekerja. Dampak dari kondisi ini adalah stres parah yang membuat tubuh dan pikiran terasa sangat lelah. Selain itu, rasa lelah ini juga bisa berdampak pada ketidakpuasan pada diri sendiri yang tidak bisa meraih ekspektasi.

Masalahnya adalah hal ini bisa menurunkan performa dan motivasi untuk bekerja dengan siginfikan. Beruntung, pakar kesehatan memastikan bahwa hal ini tidak akan memicu peningkatan risiko terkena depresi. Hanya saja, bisa jadi hal ini akan membuat sistem kekebalan tubuh menurun sehingga kita akan mudah terkena flu atau demam.

Selain itu, penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa burnout syndrome bisa saja menyebabkan gangguan denyut jantung. Kondisi ini tidak bisa disepelekan, apalagi jika kita memiliki faktor risiko terkena masalah kardiovaskular. Fakta ini terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam European Journal of Preventive Cardiology.

Dalam penelitian ini, sekitar 11 ribu peserta dilibatkan untuk mengetahui bagaimana dampak dari rasa lelah, emosi atau amarah, penggunaan obat yang bisa mengatasi depresi, hingga kondisi sosial di sekitar para partisipan. Para partisipan juga dicek irama denyut jantungnya selama 25 tahun.

Hasilnya adalah, partisipan yang cenderung mudah mengalami burnout syndrome karena sangat kelelahan memiliki risiko lebih besar 20 persen terkena gangguan irama jantung atrial fibrilasi dibandingkan dengan partisipan yang tidak mudah mengalami masalah tersebut.

Atrial Fibralasi Bisa Membahayakan Jantung

Tak hanya menyebabkan sensasi tidak nyaman pada jantung, masalah atrial fibralasi ini bisa membuat denyut jantung menjadi tidak beraturan atau terlalu cepat. Jika tak kunjung ditangani dengan baik, bisa jadi akan menyebabkan datangnya stroke, gagal jantung, dan masalah lain yang tak kalah serius.

Pakar kesehatan menyebut hal ini terkait erat dengan kelelahan sebagai dampak dari respons tubuh menhadapi stres fisiologis. Jika hal ini sering terjadi, bisa jadi akan menyebabkan gangguan irama jantung lain yang tak kalah berbahaya, yakni aritmia.

Burnout Syndrome Bisa Disebabkan oleh Berbagai Hal Lainnya

Selain disebabkan oleh kelelahan kronis, pakar kesehatan menyebut burnout syndrome juga bisa disebabkan oleh hal lainnya, yakni insomnia atau susah tidur, gangguan pengendalian emosi, kecanduan alkohol, memiliki risiko penyakit jantung tinggi, menderita diabetes tipe 2, menderita hipertensi, hingga menggunakan obat-obatan dengan sembarangan.

Jika penyebab utama dari masalah burnout syndrome adalah kelelahan, sebaiknya kita menata ulang pola kerja kita agar bisa mengelola stres dengan lebih baik dan memberikan waktu beristirahat bagi tubuh.

Sebagai contoh, kita bisa mengatur kembali cara bekerja kita agar lebih efektif dan bisa diselesaikan tepat waktu. Kita juga sebaiknya rutin melakukan olahraga, mendapatkan waktu tidur cukup, dan melakukan pengendalian stres seperti dengan menikmati akhir pekan dengan lebih baik.

 

Sumber:

  1. Anonim. 2020. Burnout linked with irregular heartbeat. www.escardio.org/The-ESC/Press-Office/Press-releases/Burnout-linked-with-irregular-heartbeat. (Diakses pada 19 Januari 2020).

DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi