Terbit: 16 November 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pengobatan sendiri atau swamedikasi merupakan salah satu tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan sebelum berobat ke pusat pelayanan kesehatan. Simak penjelasan lengkap mengenai apa itu swamedikasi batuk dan flu, selengkapnya di bawah ini.

Aturan Memilih Obat untuk Swamedikasi Batuk dan Flu

Pentingnya Memahami Swamedikasi Batuk dan Flu

Swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat yang dilakukan secara mandiri untuk mengobati penyakit atau gejala yang sudah diketahui. Salah satu penyakit ringan yang sering diobati adalah batuk dan flu.

Meski begitu, penanganan keluhan batuk dan flu secara mandiri juga perlu memperhatikan beberapa hal penting yaitu jenis penyakit yang dialami, kondisi tubuh (sedang hamil, menyusui, atau memiliki penyakit kronis), memahami kemungkinan terjadinya interaksi obat, efek samping yang mungkin muncul, cara penggunaan obat, hingga cara penyimpanan obat yang benar.

Jika swamedikasi tidak memerhatikan hal-hal di atas, maka tindakan tersebut dapat meningkatkan efek samping dan interaksi obat. Beberapa penelitian mengungkapkan, swamedikasi yang tidak tepat dapat disebabkan karena adanya keterbatasan informasi mengenai obat dan penggunaannya.

Baca Juga: Jeruk Nipis dan Kecap Mengobati Batuk, Mitos atau Fakta?

Mengenali Obat yang Dikonsumsi saat Swamedikasi Batuk dan Pilek

Obat batuk dan pilek biasanya mudah didapatkan karena bisa dibeli tanpa menggunakan resep dokter. Meski begitu, sebagian besar masyarakat tidak mengenali kandungan yang terdapat di dalamnya.

Padahal, dengan mengenali kandungan yang terdapat di dalamnya konsumen dapat menghindari obat yang tidak dibutuhkan. Memahami berbagai bahan aktif dan gejala yang muncul dapat membantu menemukan pengobatan yang paling sesuai.

Berikut adalah bahan aktif utama yang digunakan untuk meredakan gejala flu dan batuk, di antaranya:

  • Analgesik. Obat ini termasuk acetaminophen dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) aspirin, ibuprofen, dan naproxen sodium.
  • Dekongestan. Obat ini sering digunakan untuk mengatasi hidung tersumbat dan sesak napas. Pseudoephedrine dan phenylephrine adalah contohnya.
  • Expectorant. Obat ini umumnya berguna mengencerkan dahak di dada. Salah satu contoh obat ini adalah guaifenesin.
  • Antihistamin. Ini adalah obat yang bisa digunakan dalam pengobatan untuk alergi, yang mungkin memiliki gejala yang mirip dengan pilek. Contohnya termasuk chlorpheniramine maleate, diphenhydramine, dan doxylamine succinate.
  • Penekan batuk (cough suppressant). Ini adalah obat untuk memblokir refleks batuk, sehingga membuat batuk lebih jarang terjadi. Salah satu contohnya adalah dekstrometorfan. Obat ini tidak boleh digunakan jika batuk disebabkan karena merokok, emfisema, asma, pneumonia, atau bronkitis kronis. Antihistamin atau dekongestan juga dapat mengeringkan tenggorokan, membuat lendir lebih kental dan lebih sulit untuk bergerak sehingga menyebabkan batuk yang lebih parah.
  • Obat kombinasi. Obat ini mengandung lebih dari satu bahan dan mengobati lebih dari satu gejala.

Nah, itulah berbagai obat swamedikasi batuk dan flu yang penting untuk Anda tahu. Anda harus tahu obat apa yang Anda konsumsi, termasuk dosis, fungsi, dan efek samping yang mungkin terjadi.

Baca Juga: 11 Penyebab Hidung Meler selain Flu yang Perlu Diketahui

Perhatikan Aturan Obat Swamedikasi

Setiap kali Anda membeli obat batuk dan flu yang dijual bebas, baca labelnya dengan cermat. Hal penting yang harus diperhatikan adalah:

  • Kandungan. Misalnya, jika Anda mengonsumsi obat flu multi-gejala dan obat sakit kepala yang keduanya mengandung acetaminophen, Anda mungkin mengonsumsi lebih banyak dari yang seharusnya, di mana hal ini dapat mengganggu kesehatan organ hati. Anda juga harus memeriksa kandungan lainnya, terutama jika Anda alergi terhadap warna atau perasa.
  • Kegunaan. Pelajari gejala apa yang ditargetkan obat. Hanya minum obat yang mengobati gejala yang Anda alami.
  • Petunjuk. Cari tahu berapa banyak obat yang harus diminum dan seberapa sering Anda perlu meminumnya. Jangan mengonsumsi lebih dari yang direkomendasikan.
  • Peringatan. Lihat efek samping apa yang mungkin terjadi dan siapa yang tidak boleh menggunakannya.

Jika Anda tidak yakin apa yang Anda butuhkan, mintalah petunjuk dari dokter atau apoteker. Selain itu, beri tahu juga mengenai obat resep apa pun yang sedang Anda konsumsi, karena beberapa obat bebas dapat berinteraksi dengan obat resep.

 

  1. Anonim. 2020. What Are “OTC” Cough and Cold Medicines?. https://www.webmd.com/cold-and-flu/otc-cold-medicines. (Diakses pada 16 November 2021).
  2. Brazier, Yvette. 2017. Cough and cold medications: Use them safely. https://www.medicalnewstoday.com/articles/16181. (Diakses pada 16 November 2021).
  3. Khuluqiyah, Ikrimatul, Nandia Nurrahmah, dll. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Mengenai Penggunaan Obat Batuk Secara Swamedikasi. http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jfkb5cd4fd7dafull.pdf. (Diakses pada 16 November 2021).
  4. Nugraha, Wildan dan Suwendar. Studi Pengetahun tentang Pola Swamedikasi Masyarakat dalam Mengatasi Gejala Batuk di Dusun Cibeber Kecamatan Cikalong
    Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/viewFile/26178/pdf. (Diakses pada 16 November 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi