Terbit: 8 December 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Bagi seorang pria, memiliki penis dengan ukuran panjang cukup signifikan dan diameter cukup besar akan memberikan kebanggaan tersendiri. Dengan penis tersebut, pria berharap bisa memberikan seks yang hebat. Selain itu, dengan ukuran penis yang berada di atas rata-rata, pria akan merasa lebih percaya diri.

Mengenal Micropenis, Sindrom Kemaluan Kecil pada Pria yang Langka

Sayangnya ukuran penis terkadang menyesuaikan dengan ras, keturunan, dan ada tidaknya gangguan pada gen. Di Indonesia sendiri, rata-rata ukuran penis tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan masyarakat Eropa. Meski demikian, tidak semuanya memiliki kondisi bernama micropenis.

Sebenarnya apa itu miropenis?

Kondisi micropenis adalah gangguan pertumbuhan penis karena beberapa hal. Gangguan ini menyebabkan penis tidak bisa ereksi dengan maksimal meski sudah dewasa. Umumnya saat masa puber penis pria akan memiliki panjang sekitar 6,4 cm sementara itu pada penderita micropenis hanya memiliki panjang 3,7 cm.

Saat pria memasuki usia dewasa dan penis berhenti untuk tumbuh, ukuran ereksi rata-rata sekitar 13,3 cm. Sementara itu, pria dengan kondisi micropenis ini berada di bawah 9,3 cm. Kalau Anda merasa memiliki penis dengan panjang seperti ini padahal sudah dewasa, ada baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kelamin.

Seberapa umum kondisi micropenis?

Seperti yang dikatakan sebelumnya, kondisi micropenis ini cukup langka. Dari penelitian yang dilakukan di Amerika, dari 100.000 kelahiran bayi laki-laki ada sekitar 15 anak dengan kondisi micropenis. Kondisi ini bisa naik atau turun tergantung dengan lingkungan dari anak dan kondisi ibu saat hamil dan persalinan.

Karena dipengaruhi juga dengan faktor luar seperti paparan racun atau pestisida selama hamil, ada kemungkinan kondisi micropenis ini lebih spesifik di wilayah tertentu baik wilayah provinsi atau suatu negara.

Penyebab kondisi micropenis

Penyebab micropenis pada pria ada banyak dan saling berkaitan. Secara umum, kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini.

  1. Paparan zat beracun dari makanan

Adanya paparan racun selama persalinan. Ibu yang hamil tidak disarankan makan sesuatu yang mentah dan belum dicuci. Kalau sampai ada zat beracun seperti pestisida masuk ke dalam tubuh, kemungkinan besar akan memengaruhi janin. Kalau janin memiliki jenis kelamin laki-laki, kemungkinan besar mereka bisa mengalami micropenis.

Karena pestisida atau racun dari makanan kadang tidak terlihat dengan jelas, ada baiknya wanita tidak menyantap makanan yang dibeli. Memasak sendiri dengan memilih sayuran yang sesuai dengan kebutuhan akan membuat risiko micropenis menurun.

  1. Gangguan hormon testosteron

Tidak bisa dimungkiri lagi kalau testosteron yang tinggi saat masih anak-anak membantu pertumbuhan penis dengan maksimal. Puncaknya saat masa puber tiba. Penis akan terus membesar dengan signifikan. Kondisi ini menyebabkan jaringan di area penis tumbuh dan menentukan panjang penis secara permanen.

Kalau hormon seks laki-laki ini tidak diproduksi dalam jumlah banyak, kemungkinan terjadi gangguan pada pertumbuhan penis akan tinggi.

  1. Kondisi lain yang berkaitan dengan gangguan hormon

Beberapa kondisi micropenis yang terjadi pada pria tidak diketahui penyebabnya. Terkadang dokter kesulitan untuk menentukan apa yang menyebabkan kondisi tersebut. Meski kadang sudah diketahui, beberapa kondisi di bawah ini juga bisa memicu micropenis.

  • Sindrom Prader-Will
  • Sindrom Kallmann
  • Defisiensi hormon pertumbuhan
  • Abnormalitas pada kromosom
  • Sindrom Laurance-Moon

Diagnosis micropenis

Sebenarnya kondisi micropenis bisa dilihat dengan jelas tanpa harus ada pemeriksaan lebih lanjut. Namun, pemeriksaan harus dilakukan agar diketahui lebih jelas, kondisi apa saja yang sedang terjadi. Berikut beberapa jenis diagnosis micropenis.

  1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik adalah tahap awal untuk mengetahui ada atau tidaknya kondisi micropenis. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ukuran dari penis saat masih lemas atau flaccid dan saat ereksi. Pengukuran akan memunculkan dugaan awal. Kalau penis pria dewasa berada di bawah 9,3 cm, artinya kondisi micropenis bisa saja terjadi.

Oh ya, pada tahap ini dokter tidak bisa memastikan dengan jelas kondisi dari pasien. Ada kalanya pria dari rasa tertentu memang memiliki ukuran penis rata-rata yang cenderung kecil dari rata-rata dunia.

  1. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan kromosom dan juga level hormon. Pemeriksaan bisa dilakukan saat masih bayi atau saat sudah dewasa.

  1. Pemindaian organ

Pemindaian organ dilakukan untuk mengetahui struktur penis. Kalau ada kelainan akan terlihat dengan jelas sehingga penanganan bisa segera dilakukan.

Penanganan kondisi micropenis

Micropenis bukan akhir dari segalanya, penanganan masih bisa dilakukan dengan hasil yang berbeda-beda. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan kalau pria memiliki kelainan micropenis.

  • Terapi hormon. Terapi ini dilakukan untuk mengatasi defisiensi testosteron di dalam tubuh. Terapi ini cocok untuk anak-anak yang masih belum memasuki usia puber. Dengan melihat ukuran penisnya saat ereksi, orang tua bisa tahu apakah kondisi anaknya normal atau tidak. Oh ya, terapi hormon bisa meningkatkan ukuran penis hingga 3,5 cm.
  • Operasi untuk pemasangan implan. Kalau pria sudah terlalu dewasa untuk terapi hormon sehingga hasilnya tidak maksimal, operasi untuk memasangkan implan bisa dilakukan. Pemasangan ini akan menambah ukuran penis sesuai dengan keinginan pria meski cukup berisiko alami kegagalan dan juga infeksi.

Sebenarnya ukuran penis tidak begitu memengaruhi kemampuan pria dalam seks kalau kedua belah pihak saling memahami. Sayangnya, pria terkadang tidak percaya diri dengan apa yang mereka miliki.

Inilah sedikit ulasan tentang micropenis yang terjadi pada beberapa pria. Dari beberapa ulasan di atas, menurut Anda apakah kondisi micropenis ini berbahaya untuk kehidupan seksual serta fungsi reproduksi dari seorang pria?


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi