Terbit: 2 September 2018 | Diperbarui: 8 Maret 2022
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Jika berbicara tentang paraben, biasanya kita akan langsung berpikir tentang zat berbahaya. Paraben adalah salah satu zat kimia yang umumnya terkandung dalam produk kosmetik hingga farmasi. Banyak yang percaya bahwa paraben pada kosmetik dan produk lainnya adalah zat berbahaya, salah satunya adalah dapat menyebabkan kanker.

Benarkah Paraben di Kosmetik Berbaya Hingga Dapat Memicu Kanker?

Tapi, apakah hal ini merupakan fakta yang sebenarnya? Jika memang paraben adalah zat berbahaya, lantas mengapa masih banyak produk mengandung paraben yang bisa kita temukan di pasaran? Sebelum kita menentukan bahaya atau tidaknya paraben untuk tubuh, berikut adalah berbagai hal tentang paraben yang perlu Anda ketahui.

Apa Itu Paraben?

Paraben adalah zat kimia yang biasanya terkandung pada produk kosmetik dan juga farmasi. Secara kimia, paraben adalah bagian dari parahidroksibenzoat atau ester dari asam parahidroksibenzoat yang dikenal juga dengan nama 4-hydroxybenzoic acid.

Paraben banyak ditemui diberbagai produk seperti make up seperti lipstik, skin care seperti lotion dan cream wajah, produk-produk toiletries seperti deodorant, sampo, dan sabun, dan juga produk farmasi.

Fungsi Paraben

Fungsi dari paraben adalah yang pertama sebagai pengawet. Selain itu, ternyata paraben juga ampuh untuk menjaga produk tersebut dari kontaminasi jamur dan bakteri. Hal ini pun membuat produk yang mengandung paraben menjadi lebih awet dan juga tidak mudah rusak.

Jenis paraben pada kosmetik dan juga produk farmasi yang sering muncul antara lain adalah methylparaben, isobutylparaben, dan propylparaben. Terdapat kemungkinan paraben digunakan bersama dengan zat pengawet lainnya. Selain itu, umumnya terdapat lebih dari satu satu jenis paraben yang digunakan dalam satu produk.

Paraben Berbahaya?

Munculnya klaim paraben pada kosmetik dapat memicu kanker tentunya bukan tanpa alasan. Hal ini disebabkan oleh munculnya sebuah penelitian yang berjudul ‘Concentracion of Parabens in Human Breast Tumor’ yang diterbitkan oleh Journal of Applied Toxicology pada tahun 2004.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Dr. Philippa D. Darbre tersebut menemukan bahwa terdapat jejak paraben dalam sampel jaringan tumor payudara yang berjumlah 20 sampel. Sejak saat itu, penggunaan paraben pada kosmetik pun mulai dikurangi dan juga ditakuti.

Selain itu, paraben juga dipercaya memiliki sifat seperti hormon estrogen yang sering kali dikaitkan dengan penyakit tumor payudara. Meskipun begitu, belum dapat dipastikan dengan jelas jika paraben yang berasal dari kosmetik dan obat memang bisa memicu kanker.

Selain tumor payudara, paraben juga sering dikaitkan dengan penyakit lainnya seperti gangguan kesuburan dan juga kanker kulit. Pada dasarnya paraben adalah zat yang memang bisa menjadi zat berbahaya, namun bahaya atau tidaknya paraben bergantung pada jumlah paraben.

Mengapa Produk Berparaben Lolos Uji BPOM?

Di samping penemuan tentang bahayanya paraben, mengapa masih banyak produk dengan izin edar BPOM yang mengandung paraben? Ternyata penelitain ‘Concentracion of Parabens in Human Breast Tumor’ bukan satu-satunya penelitian tentang paraben. Masih banyak lagi penelitain yang mencari tahu tentang keamanan paraben.

Salah satu yang bisa membuktikan bahwa paraben dalam kosmetik adalah penegasan dari Cosmetic Ingredient Review (CIR) yang merupakan perusahaan independen yang menilai komposisi dari berbagai bahan-bahan kosmetik menyatakan dan mempublikasina bahwa paraben adalah salah satu bahan kosmetik yang aman. Bahkan komposisi paraben pada kosmetik masih bisa dikatakan aman hingga kadarnya mencapai angka 25%. Sedangkan rata-rata komposisi paraben adalah sekitar 0,01% hingga 0,3% saja dalam kosmetik.

Namun kebijakan tentang penggunaan paraben pada kosmetik biasanya berbeda-beda di setiap negara. Di Indonesia sendiri, BPOM menentukan angka 250 mg/Kg sebagai kandungan aman paraben pada kosmetik. Jumlah ini termasuk sedikit jika dibandingkan aturan negara lain seperti Singapura, Kanada, dan Amerika yang menetukan angka 1000 mg/Kg dan juga Hongkong dengan angka 550 mg/Kg.

Anda bisa mengenali kecilnya kandungan paraben dari penulisan kompisisi dalam kemasan. Umumnya kandungan dalam komposisi kosmetik dsisebutkan dari yang komposisinya paling besar hingga paling kecil. Paraben biasanya disebutkan paling terakhir dalam komposisi.

Klaim produk paraben-free lebih baik dari produk yang mengandung paraben juga tidak sepenuhnya benar. Banyak perusahaan yang memanfatkan anggapan umum di masyarakat yang mengira paraben sudah pasti berbahaya bagi kesehatan.

Jadi, Paraben Sudah Pasti Aman?

Kandungan paraben dalam produk kosmetik ternyata sangatlah sedikit, sehingga cenderung aman untuk digunakan. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa paraben aman untuk digunakan dalam takaran tertentu. Tidak heran jika kita banyak menemukan banyak produk kosmetik dan obat mengandung paraben yang masih mendapat izin edar dari BPOM.

Tapi, meskipun pengguanan paraben dalam jumlah tertentu masih dianggap aman, bukan berarti Anda dapat mengabaikan penggunaan paraben. Paraben memang merupakan zat yang hilang dari tubuh dalam waktu 36 jam. Tentunya hal ini membuat Anda berpikir bahwa wajah Anda tidak akan pernah kelebihan paraben karena tidak terjadi penumpukan paraben.

Perlu Anda ketahui bahwa penumpukan paraben akibat produk kosmetik bukan terjadi akibat penggunaan satu kosmetik dalam waktu yang lama, namun bisa juga terjadi akibat dari penggunaan produk berparaben secara bersamaan.

Jika memang diperlukan, Anda bisa menghindari produk berparaben. Tapi jika memang hal tersebut masih sulit untuk dihindari, Anda bisa mulai lebih teliti dalam melihat komposisi produk yang Anda gunakan. Jika Anda menggunakan pelembab wajah mengandung paraben, ada baiknya untuk tidak menggunakan produk kosmetik berparaben lainnya dalam waktu yang sama.

Selain kandungan paraben, Anda tentunya juga harus memeriksa kandungan lainnya karena paraben bukan merupakan satu-satunya yang bisa menjadi zat berbahaya. Zat-zat seperti hidrokinon dan merkuri juga masih sering dijadikan sebagai produk kosmetik.  Setiap zat digunakan dengan berlebihan tentunya akan berbahaya.

Selain itu, pastikan produk yang Anda gunakan memang sudah lulus uji BPOM sehingga dapat dipastikan produk tersebut aman untuk digunakan atau dikonsumsi. Lebih baik lagi jika Anda menggunakan produk-produk yang berbahan alami, sehingga Anda bisa terbebas dari risiko penggunaan bahan kimia pada kosmetik.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Efek Samping dari Kosmetik Berbahaya?

Meskipun sudah menggunakan produk kosmetik yang diklaim aman, tentunya kita harus tetap selalu waspada. Kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau yang tidak cocok dengan kulit Anda umumnya akan memberikan efek samping ringan terlebih dahulu seperti alergi yang ditandai dengan ruam merah, gatal, hingga pembengkakan.

Jika terjadi reaksi seperti itu ketika menggunakan kosmetik, sebaiknya langsung hentikan pemakaian. Jika gejala tidak membaik setelah menghentikan penggunaan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Hal ini harus lebih diperhatikan terutama jika Anda memiliki kulit yang sensitif.

Selain memerhatikan pemilihan kosmetik dari segi kandungannya. Jangan lupa juga untuk selalu memilih perawatan wajah dan juga kosmetik yang sesuai dengan kebutuhan kulit Anda. Memilih kosmetik yang mengandung bahan aman namun tidak sesuai dengan kebutuhan kulit juga bisa berbahaya untuk kulit Anda.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi