Terbit: 21 Mei 2022 | Diperbarui: 22 Mei 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pada sistem reproduksi wanita, terdapat korpus luteum yang ikut memegang andil di dalamnya. Perannya cukup besar dalam proses ovulasi, menstruasi, hingga kehamilan. Masih asing dengan namanya? Yuk, simak penjelasan berikut ini!

Mengenal Korpus Luteum, Sel Penting bagi Reproduksi Wanita

Apa itu Korpus Luteum?

Corpus luteum atau korpus luteum adalah sel yang terbentuk pada indung telur (ovarium) selama proses pembuahan atau pelepasan sel telur (ovulasi). Ukuran sel ini bervariasi dan akan terbentuk rutin setiap bulan, yaitu selama siklus menstruasi berlangsung.

Saat seorang wanita ovulasi, folikel di dalam ovarium melepaskan sel telur alias ovum. Setelah ovum berhasil dilepaskan, maka folikel akan menutup, lalu membentuk diri menjadi sebuah sel yang dikenal sebagai korpus luteum.

Ini artinya, corpus luteum baru akan terbentuk ketika sel telur yang matang berhasil keluar dari folikel.

Fungsi Korpus Luteum

Corpus luteum merupakan sel yang memainkan peran penting bagi sistem reproduksi wanita. Berikut ini merupakan fungsi dari korpus luteum:

1. Pembentukan hormon

Corpus luteum akan mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron untuk mempersiapkan tubuh terhadap kemungkinan pembuahan.

Progesteron adalah hormon yang berperan penting di masa awal kehamilan serta dalam siklus menstruasi. Sementara itu, estrogen terkenal berperan dalam kesehatan seksual dan reproduksi wanita bersama progesteron.

2. Siklus menstruasi

Korpus luteum ikut berperan dalam siklus menstruasi wanita. Namun sebelumnya, Anda perlu memahami bahwa terdapat beberapa fase dalam siklus menstruasi. Nah, sel ini berperan besar terhadap fase luteal atau fase ketiga siklus menstruasi. Berikut penjelasannya:

  • Folikuler: pada fase ini, folikel melepas sel telur yang telah matang.
  • Ovulasi: hormon luteinizing (hormon yang membantu sistem reproduksi) menyebabkan folikel dominan melepaskan sel telur. Lamanya sel telur meninggalkan folikel adalah 1 hingga 2 hari.
  • Luteal: fase setelah ovulasi. Pada fase ini, tubuh akan mempersiapkan rahim agar siap untuk dibuahi.

Baca JugaCiri-Ciri Tuba Falopi Tersumbat dan Hubungananya dengan Kesuburan Wanita

3. Kehamilan

Jika sel telur dibuahi, maka embrio akan membentuk plasenta. Plasenta awal ini kemudian melepaskan hormon kehamilan hCG. Hormon ini yang dideteksi oleh tes kehamilan.

Kehadiran hCG ini akan memberi sinyal pada korpus luteum untuk terus mensekresi progesteron. Hormon ini juga akan mencegah ovulasi lebih lanjut.

Sebaliknya, bila sel telur tidak dibuahi dan kehamilan tidak terjadi, maka korpus luteum perlahan akan hancur. Kondisi ini berlangsung sekitar 10-12 hari setelah ovulasi, atau 2-3 hari sebelum periode menstruasi dimulai.

Saat corpus luteum rusak, produksi progesteron terhenti. Pada akhirnya, kondisi ini akan menyebabkan endometrium rusak. Menstruasi kemudian akan terjadi.

Gangguan yang Dapat Terjadi

Terkadang korpus luteum dapat mengalami gangguan dan  dapat memicu berbagai kondisi berikut:

1. Kista korpus luteum

Pada suatu kondisi, corpus luteum tidak hancur seperti yang semestinya sehingga menimbulkan penumpukan cairan. Kondisi ini kemudian dikenal sebagai kista korpus luteum.

Kista kecil umumnya tidak menimbulkan gejala, kecuali jika pecah, menjadi hemoragik (berdarah), atau terjadi torsi (memutar).

Kondisi tersebut akan menyebabkan gejala-gejala berikut:

  • Nyeri panggul yang parah.
  • Mual atau muntah parah.
  • Kepala terasa ringan atau lemah.

Segera periksakan diri ke dokter jika kista pecah dan menyebabkan rasa sakit yang parah.

2. Cacat pada korpus luteum

Selain kista, corpus luteum juga bisa tidak menghasilkan cukup progesteron. Produksi hormon progesteron yang menurun disebut sebagai cacat korpus luteum atau cacat fase luteal.

Berikut adalah beberapa gejala cacat fase luteal yang sebaiknya Anda waspadai:

  • Bercak di antara periode menstruasi.
  • Sulit hamil.
  • Keguguran.
  • Perut kembung.
  • Sakit kepala.
  • Pembengkakan payudara atau payudara terasa nyeri.
  • Berat badan bertambah.
  • Perubahan suasana hati.
  • Mengidam makanan.
  • Perubahan hasrat seksual.
  • Sulit tidur.

Jika mengalami kondisi ini, wanita juga akan mengalami pemendekan waktu antara periode ovulasi dengan menstruasi. Konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Berbagai pilihan perawatan yang akan direkomendasikan dapat berupa suplementasi progesteron atau penggunaan obat kesuburan, seperti suntikan Clomid (clomiphene) atau hCG.

Sayangnya, diagnosis yang tepat pada kondisi ini masih memicu kontroversi dan belum jelas.

Terkait dengan hal itu, American Society for Reproductive Medicine tidak mengakui cacat fase luteal sebagai penyebab pasti infertilitas (tidak subur).

Baca JugaMengenal Relaksin, Hormon Penting bagi Wanita

Tes untuk Mendeteksi Gangguan Korpus Luteum

Sejumlah tes untuk mendeteksi adanya gangguan pada corpus luteum, di antaranya:

  • Ultrasonografi transvaginal. Tindakan ini dilakukan untuk mengukur ketebalan lapisan rahim.
  • Tes untuk mengukur kadar hormon, terutama hormon perangsang folikel (FSH), hormon luteinisasi (LH), dan progesteron.

Tips Menjaga Kesehatan Korpus Luteum

Fokuslah untuk menyeimbangkan hormon-hormon di dalam tubuh sehingga corpus luteum tetap sehat. Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan:

  • Istirahat yang cukup.
  • Olahraga secara teratur.
  • Konsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang, terutama protein dan lemak baik.
  • Kelola stres dengan baik.

Korpus luteum memegang peran penting dalam sistem reproduksi wanita. Oleh karena itu, pastikan untuk menjaga kadar hormon di dalam tubuh tetap seimbang sehingga fungsi sel ini tidak terganggu.

 

  1. Anonim. Corpus Luteum. https://my.clevelandclinic.org/health/body/21849-corpus-luteum#. (Diakses pada 21 Mei 2022).
  2. Anonim. Corpus Luteum Cyst. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22340-corpus-luteum-cyst#. (Diakses pada 21 Mei 2022).
  3. Anonim. Luteal Phase Defect (LPD). https://www.pfcla.com/luteal-phase-defect#. (Diakses pada 21 Mei 2022).
  4. Anonim. Progesterone.https://www.yourhormones.info/hormones/progesterone/. (Diakses pada 21 Mei 2022).
  5. Gurevich, Rachel. 2020. Overview of the Corpus Luteum. https://www.verywellfamily.com/corpus-luteum-1960062. (Diakses pada 21 Mei 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi