Terbit: 31 January 2022 | Diperbarui: 7 February 2022
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

COVID-19 BA.2 atau dijuluki son of omicron adalah varian yang berasal dari nenek moyang virus Corona varian Omicron. Apakah varian ini lebih berbahaya dari varian Omicron yang sudah tersebar luas yang dikenal sebagai BA.1? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Varian COVID-19 BA.2, Subvarian Omicron yang Perlu Diwaspadai

Apakah COVID-19 BA.2 Lebih Berbahaya?

COVID-19 BA.2 adalah subvarian Omicron yang menurut World Health Organization (WHO) bukan termasuk ‘variant of concern’ yang berarti belum ada bukti yang menunjukkan bahwa varian ini akan memperburuk penularan COVID-19, keparahan penyakit, atau kemanjuran vaksin.

Meski varian ini sudah ada sejak November 2021 dan lebih dari 8.000 kasus BA.2 telah diidentifikasi, tidak jelas dari mana asal BA.2. Meski sekuens pertama berasal dari Filipina, banyak kasus telah terdeteksi di berbagai tempat, mulai dari Eropa hingga Asia Selatan.

Sudah menjadi sifat virus untuk berevolusi dan bermutasi, hal itulah yang membuat penelitian tentang varian baru ini masih terus berlangsung. Menurut Dr. Meera Chand dari UK Health Security Agency, sejauh ini tidak cukup bukti untuk menentukan apakah BA.2 menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada varian Omicron BA.1.

Data awal yang berasal dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa suntikan ketiga vaksin COVID-19 mampu melindungi  tubuh dari infeksi BA.2 seperti halnya terhadap BA.1. Temuan ini mengungkapkan, vaksin dosis ketiga mampu mengurangi risiko infeksi simtomatik sekitar 60 hingga 70 %.

Baca Juga: 7 Perbedaan Varian Omicron dan Delta, Mana yang Paling Berbahaya?

Omicron ‘Siluman’ BA.2

Evolusi subvarian COVID-19 bukanlah hal baru. Varian Delta juga memiliki beberapa subvarian, tetapi para ilmuwan menyebut semuanya sebagai Delta. Sedangkan Omicron BA.2 telah mendapatkan sebutannya sendiri karena meningkatnya jumlah kasus di beberapa negara.

Meski tes antigen atau PCR dapat mendeteksi keberadaan virus Corona pada tubuh, akan tetapi tes tersebut tidak dapat menentukan jenis varian.

Oleh karena itu, para ilmuwan perlu melakukan genetic sequencing untuk melihat ciri genetik tertentu untuk menentukan apakah sampel tersebut Omicron atau bukan.

Sedangkan subvarian Omicron ini memiliki sifat genetik yang membuatnya lebih sulit untuk mengidentifikasi bentuk virus Omicron pada tes PCR. Hal inilah yang membuat subvarian BA.2 terkadang disebut sebagai varian siluman.

COVID-19 BA.2 Sulit Terdeteksi?

Hal senada disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, ia mengungkapkan bahwa COVID-19 BA.2 sulit terdeteksi sehingga dapat terdeteksi sebagai varian lain. Hal inilah yang membuat subvarian Omicron dapat menyebabkan perbedaan hasil PCR.

Wiku mengungkapkan, pada Omicron lainnya, adanya mutasi berupa hilangnya susunan tertentu pada Gen S dapat memunculkan deteksi gen lainnya. Namun, gen S tidak terdeteksi (SGTF) pada tes PCR.

Pada Omicron BA.2, susunan ini tidak hilang sehingga PCR tidak memunculkan hasil SGTF atau hasilnya sama dengan varian lain yang bukan Omicron. Padahal, BA.2 merupakan salah satu jenis Omicron.

Baca Juga: Benarkah Delmicron Varian Baru COVID-19? Begini Faktanya!

Seberapa Cepat Penularan COVID-19 BA.2?

Selama beberapa minggu terakhir, Omicron BA.2 mengejutkan sejumlah ilmuwan karena mengungguli saudaranya yaitu omicron BA.1 dan varian lainnya. Di Denmark, BA.1 menyebabkan lonjakan kasus namun sesaat kemudian mulai melandai. Saat kasus mulai menurun, BA.2 mulai menyebar dengan sangat cepat sehingga memperpanjang lonjakan kasus.

Hal ini menyebabkan kasus varian BA.2 di Denmark meningkat tajam, lebih dari 40.000 orang positif setiap harinya. Selain itu, subvarian Omicron ini juga tumbuh secara eksponensial di Inggris dan Jerman, sehingga menyebabkan setidaknya 5 % kasus di kedua tempat.

Beberapa temuan di negara-negara tersebut menunjukkan bahwa BA.2 bukanlah saudara kandung BA.1 yang lebih lemah, melainkan lebih kuat dan mungkin lebih menular.

 

  1. Abdulah, Arif Tio Buqi. Kata Satgas Covid-19 soal BA.2 Subvarian Omicron, Bisa Sebabkan Perbedaan Hasil PCR. https://www.tribunnews.com/corona/2022/01/28/kata-satgas-covid-19-soal-ba2-subvarian-omicron-bisa-sebabkan-perbedaan-hasil-pcr. (Diakses pada 31 Januari 2022).
  2. Bernstein, Lenny. 2022. There’s a new version of omicron but so far it doesn’t appear to be more dangerous. https://www.washingtonpost.com/health/2022/01/24/covid-omicron-ba2/. (Diakses pada 31 Januari 2022).
  3. Doucleff, Michaellen. 2022. A second version of omicron is spreading. Here’s why scientists are on alert. https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2022/01/27/1076123109/new-covid-variant-omicron-ba-2. (Diakses pada 31 Januari 2022).
  4. Rajeshuni, Nitya. 2022. Scientists monitoring new omicron subvariant BA.2. https://abcnews.go.com/Health/scientists-monitoring-omicron-subvariant-ba2/story?id=82472629. (Diakses pada 31 Januari 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi