Terbit: 11 April 2018 | Diperbarui: 18 Mei 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Baru-baru ini, ada sebuah studi baru mengenai gangguan tidur yang cukup viral di dunia kesehatan. Studi tersebut dipublikasikan pada Journal of Clinical Sleep Medicine yang menyebutkan bahwa ada sebuah gangguan tidur jenis baru selain insomnia, yaitu orthosomnia. Munculnya hasil studi tersebut menjadi buah bibir warganet dan tak membutuhkan waktu lama untuk menjadi trending topik bab kesehatan.

Mengenal Orthosomnia, Gangguan Tidur yang Lebih Parah Daripada Insomnia

Photo Credit : pexels.com

Apa itu orthosomnia?

Sebelumnya, Anda perlu tahu terlebih dahulu jika orthosomnia berasal dari kata ortho yang artinya sempurna dan kata somnia yang artinya tidur. Jika dipadukan, orthosomnia bukan berarti gangguan tidur yang sempurna. Tapi, gangguan kognitif seseorang atau obsesi yang tinggi pada seseorang untuk mendapatkan kualitas tidur yang sempurna. Padahal, hal tersebut justru berdampak buruk bagi kesehatannya sendiri.

Tidak sedikit orang yang mengalami masalah pada kualitas tidur mereka, maka tak heran jika begitu banyak yang ingin mendapatkan kualitas tidur maksimal atau sempurna. Pada kasus ini, mereka yang menginginkan kualitas tidur sempurna akan menggunakan berbagai cara yang diketahuinya. Tanpa bekal ilmu dan pengetahuan yang cukup, obsesi itu bisa merusak kualitas tidur seseorang, bahkan terbilang lebih parah dari penderita insomnia.

Salah satu metode yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan sleep tracker, yaitu alat pemantau kualitas tidur seseorang. Menurut hasil penelitian, setidaknya ada 10 persen orang dewasa di Amerika yang menggunakan sleep tracker sebagai pemantau kualitas tidur mereka. Nah, jika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, justru membuat seseorang menjadi lebih depresi dan tentunya akan lebih terobsesi untuk meningkatkn kualitas tidur mereka.

Padahal sudah dijelaskan sebelumnya oleh tim medis, bahwa waktu ideal tidur seseorang tidak sama. Umumnya memang 8 jam sehari, tapi itu tergantung dari kondisi tubuh serta kualitas tidur seseorang yang berbeda dari setiap individunya.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi