Terbit: 9 March 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Anestesi adalah obat yang diberikan dalam bentuk injeksi atau lainnya dengan tujuan menurunkan kesadaran. Obat ini digunakan sebelum operasi agar pasien tidak merasakan sakit. Pasalnya saat terjadi operasi seperti pembedahan besar, rasa sakit akan terasa intens. Sementara itu tidak semua orang tahan dengan rasa sakit yang muncul.

Memahami Anestesi, Obat yang Digunakan untuk Bius saat Operasi

Nah, anestesi sendiri juga bisa digunakan untuk pembedahan kecil sebagai bius lokal. Misal saat melakukan sunat secara manual, biasanya bius lokal akan diberikan. Hal lain terkait dengan anestesi bisa Anda simak di bawah ini

Fakta tentang anestesi yang digunakan untuk operasi

Anestesi sudah digunakan sejak ratusan tahun silam. Selama setahun, jutaan orang di seluruh dunia mendapat anestesi untuk menjalani berbagai operasi untuk tujuan kesehatan hingga kosmetik.

  1. Perokok aktif butuh dosis tinggi

Dari beberapa penelitian yang dilakukan, seseorang yang rutin merokok mengalami resistensi atau ketahanan dengan obat bius. Setidaknya dari penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 lalu didapatkan fakta kalau wanita perokok membutuhkan 33 persen bius lebih banyak dari mereka yang tidak merokok. Selain itu perokok pasif membutuhkan obat bius hingga 20 persen lebih banyak.

Semakin intens Anda merokok setiap harinya, kemungkinan terjadi masalah pada pembiusan akan besar. Dokter yang akan melakukan operasi biasanya akan bertanya masalah merokok ini untuk rekomendasi penambahan dosis. Sebelum operasi akan dilakukan pengecekan agar bius tidak terlalu banyak atau sedikit.

  1. Beberapa bisa bangun dalam kondisi terbius

Pembiusan total dilakukan saat operasi besar di tubuh. Pembiusan ini dilakukan untuk menurunkan kesadaran dan menghilangkan rasa sakit. Sayangnya, pada beberapa orang, bius seperti susah memberikan efek, bahkan mereka bisa bangun mendadak ketika masih berada di tengah-tengah operasi.

Kondisi bangun dari bius yang terjadi ini diberi nama anesthesia awareness. Saat seseorang bangun mereka sebenarnya tidak merasakan sakit. Mereka hanya sadar saja, tapi efek bius tetap ada sehingga rasa sakit yang dialami tidak akan terasa atau terasa sedikit saja.

Dokter yang melakukan operasi biasanya mewaspadai masalah anesthesia awareness. Dalam proses operasi akan ada alat yang digunakan untuk mengukur kesadaran dari seseorang. Kalau kesadaran terus meningkat, dosis bius mungkin akan akan dinaikkan.

  1. Obesitas bisa memicu risiko komplikasi saat menerima anestesi

Seseorang dengan kondisi obesitas akan memiliki risiko komplikasi saat menerima bius atau anestesi. Hal ini bisa terjadi karena seseorang dengan kondisi obesitas sering membutuhkan bius lebih banyak dari mereka yang memiliki badan jauh lebih kecil dan normal.

Lebih lanjut, kondisi obesitas juga memunculkan risiko pernapasan saat operasi. Karena pergerakan tubuh jadi menurun, fungsi pernapasan juga akan mengalaminya. Kalau ada banyak lemak di tubuh, gangguan pernapasan bisa saja terjadi.

Kalau seseorang memiliki berat badan yang sangat besar, diet terlebih dahulu biasanya cukup direkomendasikan. Kecuali penyakit yang dialami kronis dan butuh operasi cepat, mengubah gaya hidup bisa disarankan lebih dahulu.

  1. Anestesi bisa membolade memori

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau seseorang yang mengalami anestesi akan mengalami gangguan ingat selama beberapa saat. Karena tubuh terasa lebih relaks dan tidak terasa sakit, memori akan sedikit terblokade. Dampaknya, amnesia singkat bisa saja terjadi.

Meski tidak semua orang dengan bius total akan mengalaminya, dokter tetap mewaspadai efeknya. Oleh karena itu dosis dari anestesi tetap harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi masalah pada tubuh di kemudian hari

  1. Orang dengan rambut merah tahan anestesi

Selama ini banyak beredar kabar kalau orang dengan rambut merah sangat tahan dengan pembiusan. Mereka membutuhkan lebih banyak obat bius agar tubuhnya bisa menerima bius dengan sempurna. Sayangnya mitos ini tidak benar setelah dilakukan penelitian.

Orang dengan rambut apa pun dan berada dari ras mana pun akan melakukan respons yang sama terkait dengan penggunaan obat bius. Oleh karena itu, mitos terkait ketahan pada obat bius sangat salah. Ketahanan terkait dengan obat bius hanya dialami oleh mereka yang gemar merokok seperti yang telah dibahas sebelumnya.

  1. Kemungkinan gangguan saraf pada anak

Anak yang sering mengalami operasi sebelum usianya mencapai 3 tahun akan mendapatkan bius berkali-kali. Kondisi ini ternyata sangat tidak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan beberapa masalah pada saraf di otak.

Anak dengan kondisi ini biasanya akan sedikit susah untuk belajar dengan baik. Mereka akan susah memahami dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk belajar. Selain itu fungsi motorik dari anak juga akan mengalami penurunan dan mengganggu anak dalam bergerak dengan lebih bebas.

  1. Beberapa orang mengalami alergi

Anestesi yang diberikan pada seseorang yang akan menjalani operasi ada beberapa jenisnya. Ada yang bentuk oleh yang langsung diaplikasikan ke kulit. Ada dalam bentuk uap yang diisap dengan cepat. Selanjutnya dalam bentuk injeksi yang selama ini banyak kita ketahui bersama-sama.

Secara umum anestesi yang diterima oleh pasien aman. Namun, pada kondisi tertentu, masyarakat juga akan mengalami beberapa gangguan seperti alergi bernama malignant hyperthermia.

Alergi ini terjadi kalau seseorang menghirup bius yang membuat kehilangan sebagian besar kesadarannya. Tanda dari alergi ini adalah perdarahan pada tubuh, urine berwarna kecokelatan, dan otot mengalami nyeri berlebihan tanpa sebab yang jelas

Demikian ulasan singkat tentang anestesi yang sering dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Pernahkah Anda mengalami anestesi sebelumnya untuk operasi? Proses pembiusan ini hanya bisa dilakukan oleh dokter agar dosis yang diberikan tidak berlebihan dan membahayakan tubuh.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi