Terbit: 28 January 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kusta adalah infeksi jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan akibat bakteri Mycobacterium leprae. Sayangnya, masyarakat banyak mempercayai mitos penyakit kusta dan menyebabkan kesalahpahaman mengenai penyakit ini. Simak fakta penyakit kusta di tengah semua mitos yang ada.

10 Mitos dan Fakta Kusta yang Berkembang di Masyarakat

Mitos dan Fakta Kusta yang Berkembang di Masyarakat

Berikut ini berbagai macam fakta dan mitos penyakit kusta yang masih banyak ditemui di masyarakat di seluruh dunia.

1. Kusta adalah penyakit kiriman sebagai hukuman atas dosa

Ini dia mitos kusta yang salah namun masih banyak dipercaya. Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang mengakibatkan infeksi kronis.

Infeksi tersebut muncul dalam bentuk otot lemas, lesi pada kulit, serta mati rasa di bagian lengan, kaki, dan tangan.

Masa inkubasi bakteri berlangsung selama sekitar 5 tahun, sehingga gejala kusta ditunjukkan selama beberapa tahun setelah terjangkit untuk pertama kalinya. Jelas bahwa kusta bukanlah penyakit yang didatangkan sebagai hukuman atau karma.

2. Kusta sudah hilang dari muka bumi

Tiap tahunnya, masih banyak orang yang terjangkit penyakit kusta. Mitos kusta ini berasal dari rasa malu penderita kusta untuk mengakui penyakit tersebut dan mencari pengobatan, sehingga dianggap bahwa penyakit tersebut telah hilang. Akibatnya, diagnosis dan pengobatan kusta juga ikut tertunda.

Fakta kusta yang harus diketahui adalah bahwa penyakit ini menjadi salah satu penyebab disabilitas mayor di seluruh dunia karena tidak ada penanganan atau dianggap sudah sembuh sendiri.

Baca Juga: 7 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Penyakit Menular

3. Kusta tidak bisa disembuhkan

Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan antibiotik yang telah tersedia untuk mengobati penyakit ini. Antibiotik kusta dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) pertama kali di tahun 1995.

Antibiotik dengan dosis yang tinggi bisa membunuh bakteri penyebab kusta dan mencegah terjadinya komplikasi kusta seperti kerontokan rambut, disabilitas, kebutaan, kemandulan, gagal ginjal, dan masih banyak lagi.

4. Hanya orang tua saja yang bisa terkena penyakit kusta

Kusta bukanlah penyakit yang spesifik dengan usia. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan kapan saja.

Mitos kusta ini dipercaya masyarakat mungkin karena lamanya proses inkubasi bakteri penyebab kusta, sehingga gejala dan tanda yang terlihat muncul sedikit terlambat, jauh setelah awal pertama infeksi.

Pada beberapa kasus, penderita terinfeksi bakteri ketika usia dewasa, namun gejalanya baru terlihat di usia senja.

5. Kusta sangat menular, bahkan dengan sentuhan

Fakta kusta adalah penularan penyakit kusta melalui sentuhan sangatlah sulit. Sebanyak 95% persen orang dewasa memiliki sistem imun bawaan yang mencegah penularan melalui cara seperti ini.

Seseorang tidak akan tertular penyakit kusta hanya melalui jabat tangan atau sentuhan saja. Contoh nyatanya adalah Bunda Teresa yang tinggal bersama banyak penderita selama bertahun-tahun, namun tidak pernah tertular penyakit ini.

6. Kusta bisa menyebabkan jari tangan dan kaki patah

Kusta tidak secara langsung menyebabkan patahnya jari tangan, jari kaki, atau anggota tubuh lain seperti mitos yang berkembang di masyarakat. Meskipun demikian, jika seseorang menderita peradangan yang sangat parah akibat penyakit kusta, maka bisa menyebabkan luka yang tidak bisa diobati sehingga harus dilakukan amputasi.

Sensati mati rasa yang sering menyerang anggota tubuh penderita kusta juga bisa menyebabkan infeksi lebih lanjut dan kerusakan, sehingga anggota tubuh yang terkena tidak bisa berfungsi lagi.

7. Kusta hanya bisa menyerang penduduk miskin

Kusta memang menjadi wabah dan banyak berkembang di negara dunia ketiga seperti negara-negara Afrika. Namun bukan berarti kusta hanya menyerang orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan saja.

Kusta bisa menyerang siapa saja yang sistem imun tubuhnya lemah. Penyakit ini dengan mudah menyebar di area-area kumuh dan kekurangan gizi.

Namun demikian, semua kembali lagi pada kondisi imun tubuh seseorang. Jika seseorang dikatakan mampu secara finansial namun memiliki imun yang lemah, maka ia juga bisa terserang penyakit kusta.

Baca Juga: Mitos dan Fakta Insomnia yang Jarang Diketahui

8. Penderita kusta harus diasingkan dan diisolasi

Masih berkaitan dengan mitos penularan kusta yang sangat mudah, orang beranggapan bahwa penderita kusta tidak boleh dibiarkan berbaur dengan masyarakat.

Padahal yang dibutuhkan penderita penyakit kusta adalah pengobatan antibiotik untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Mereka tetap bisa hidup di tengah keluarga dan kerabatnya seperti seharusnya.

9. Kusta tetap bisa menular meski sudah diberi obat

Pengobatan penyakit kusta bisa memakan waktu selama 1 tahun hingga 2 tahun melalui multidrug therapy yang melibatkan 3 jenis obat berbeda sekaligus.

Mitos kusta yang berkembang di masyarakat adalah penyakit kusta tetap bisa menular ketika proses pengobatan sedang berlangsung.

Faktanya, kusta tidak lagi menular dalam beberapa hari setelah pengobatan dengan antibiotik dimulai. Tetapi proses pengobatan harus dijalani hingga selesai untuk mencegah terjadinya infeksi kembali.

10. Kusta di masa modern tidak sama dengan kusta di masa lalu

Nama medis dari penyakit kusta di masa modern adalah penyakit Hansen. Buku-buku sejarah dan kitab suci juga menyebutkan kata “lepra” di dalamnya, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah lepra yang disebutkan dalam literatur sejarah sama dengan lepra yang dikenal sekarang.

Jawabannya adalah tidak sama. Lepra di masa lampau dijelaskan sebagai berbagai macam penyakit kulit mulai dari ruam hingga sisik dan pembengkakan. Penyakit tersebut dikenal sangat mudah menular, tidak seperti kusta yang tidak menular.

Sementara itu, lepra di masa lalu juga tidak memiliki tanda-tanda yang jelas terlihat seperti penyakit Hansen di masa modern seperti sensasi mati rasa dan kebutaan.

Itulah pembahasan tentang fakta mitos kusta. Masih ada banyak mitos tentang penyakit kusta dan berkembang di masyarakat, yang sebagian besar tidak benar secara medis. Untuk bisa menekan angka penyakit kusta, maka yang harus dilakukan adalah memberikan fakta kusta dan edukasi tentang kesehatan yang memadai sehingga proses pengobatan penyakit kusta bisa berjalan dengan lancar.

 

  1. Centers for Disease Control and Prevention. 2021. Hansen’s Disease (Leprosy). https://www.cdc.gov/leprosy/world-leprosy-day/index.html. (Diakses pada 17 Januari 2022).
  2. Kumari, Juhi. 2020. Leprosy: Top Myths And Misconceptions Surrounding The Condition, Busted For You. https://www.india.com/lifestyle/leprosy-top-myths-and-misconceptions-surrounding-the-condition-busted-for-you-3927334/. (Diakses pada 17 Januari 2022).
  3. MetroHealth. 2021. NOW YOU KNOW: FACTS AND MYTHS ON LEPROSY. https://www.metrohealthhmo.com/leprosy-2/. (Diakses pada 17 Januari 2022).
  4. The Leprosy Mission. 2021. Exposing the myths around leprosy. https://www.leprosymission.org/leprosy-champions/exposing-the-myths-around-leprosy/. (Diakses pada 17 Januari 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi