Terbit: 11 Mei 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Vagina sakit setelah melahirkan termasuk kondisi yang normal terjadi. Namun, aktivitas sehari-hari bisa terhambat karena rasa nyeri yang muncul. Lantas, adakah cara mengatasi sakit vagina setelah melahirkan? Temukan jawabannya lewat ulasan berikut!

10 Cara Mengatasi Vagina Sakit Setelah Melahirkan

Cara Mengatasi Vagina yang Sakit Setelah Melahirkan

Rasa sakit pada vagina setelah melahirkan dapat berlangsung selama beberapa minggu setelah melahirkan. Sayangnya, kondisi ini terkadang diabaikan begitu saja.

Menurut para ahli, kebanyakan upaya meredakan nyeri setelah melahirkan hanya berfokus pada nyeri setelah operasi caesar. Sementara itu, vagina sakit setelah melahirkan kerap kali terlupakan.

Penelitian yang dilakukan di Kanada menemukan sebanyak 92 persen wanita mengalami rasa nyeri pada daerah vulva dan anus (perineum) sehari setelah melahirkan normal.

Kendati begitu, jumlah tersebut menurun hingga 61% di hari ke-7 dan 7%  setelah 6 minggu pascapersalinan.

Meskipun dapat pulih sendiri, sakit vagina setelah melahirkan yang dibiarkan begitu saja bisa menghambat aktivitas harian.

Tidak perlu khawatir, Anda bisa mengikuti tips-tips berikut untuk meredakan rasa nyeri tersebut:

1. Lakukan sitz bath

Sitz bath adalah terapi air hangat untuk merawat area perineum (area di antara anus dan vulva). Terapi ini juga baik untuk meringankan vagina yang sakit setelah melahirkan.

Metode ini diketahui dapat meningkatkan aliran darah ke area perineum, membantu menyembuhkan, dan memperbaiki jaringan lebih cepat.

Anda bisa merendam vagina dengan air hangat di rumah dengan langkah-langkah berikut:

  • Siapkan baskom khusus sitz bath.
  • Isi baskom tersebut dengan air hangat. Anda juga bisa menambahkan minyak esensial, seperti minyak lavender.
  • Simpan baskom tersebut di toilet. Anda bisa mendudukinya sekitar 20 sampai 30 menit.

Baca JugaMelahirkan Bayi Laki-Laki Lebih Sakit, Benarkah? Cek Fakta Medis!

2. Gunakan botol semprot

Selain merendam vagina di air hangat, Anda juga bisa mencoba penggunaan botol semprot khusus alias peri bottle. Isi botol semprot dengan air bersuhu suam-suam kuku, lalu semprotkan saat buang air kecil.

Perlu Anda ingat, hindari menyemprotkan air langsung ke vagina untuk mencegah rasa tidak nyaman.

3. Kompres dingin

Cara meredakan vagina sakit setelah melahirkan yang satu ini direkomendasikan oleh dr. Kelly Kasper, seorang OB-GYN (Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi) di Indiana University Health di Indianapolis.

Berikut langkah-langkah melakukan kompres dingin untuk membantu mengurangi rasa sakit:

  • Bungkus kantong es dengan waslap atau kain lembut yang menyerap air. Anda juga bisa hanya mencelupkan kain atau waslap ke dalam baskom berisi air dingin.
  • Posisikan tubuh agak mengangkang, lalu letakkan bungkusan es pada area vagina.
  • Lakukan kompres dingin selama 15 hingga 20 menit setiap jam sesuai kebutuhan.

4. Manfaatkan witch hazel pads

Witch hazel pads mengandung bahan kimia yang disebut tanin. Tanin inilah yang dapat membantu mengurangi pembengkakan dan melawan bakteri. Pada gilirannya, rasa sakit setelah melahirkan akan berkurang. Risiko infeksi pun ikut menurun.

Selain itu, manfaat witch hazel pads lainnya adalah membantu menghentikan pendarahan ringan berkat sifatnya yang hemostatik.

5. Cukupi kebutuhan cairan

Pastikan asupan cairan sehari-hari setelah melahirkan terpenuhi. Hal ini dapat mengurangi risiko konstipasi atau sembelit yang dapat menyebabkan Anda mengejan saat buang air besar.

Jika kebutuhan cairan harian sudah terpenuhi, Anda bisa terhindar dari konstipasi. Pada akhirnya, keparahan vagina sakit setelah melahirkan akan berkurang.

6. Konsumsi lebih banyak serat

Selain memperhatikan asupan cairan, Anda juga bisa mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi. Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayur untuk mendapatkan asupan serat.

7. Gunakan pakaian yang nyaman

Selama masa pemulihan, apalagi jika Anda harus beristirahat di rumah sakit, pastikan untuk mengenakan pakaian yang nyaman.

Selain pakaian, bawa sendiri barang-barang pribadi, seperti bantal dan dan sikat gigi untuk dibawa ke rumah sakit.

8. Duduk dengan bantalan

Sakit vagina setelah melahirkan bisa Anda kurangi dengan duduk beralaskan bantalan khusus. Cara ini dapat membantu mengatasi ketidaknyamanan saat duduk.

Gunakan bantal yang memiliki lubang di tengahnya. Dengan begitu, tekanan pada bekas jahitan di vagina dapat berkurang sehingga sakit pada vagina pun ikut mereda.

Baca Juga10 Perubahan Vagina setelah Melahirkan dan Cara Mengatasi

9. Hindari penggunaan tampon

Selama masa nifas, pastikan untuk menghindari penggunaan tampon. Perlu Anda ketahui, penggunaan tampon akan memperbesar risiko iritasi serta dapat memperburuk keluhan nyeri.

Alih-alih menggunakan tampon, Anda bisa memilih pembalut yang memiliki bahan lembut.

10. Konsumsi pereda nyeri

Apabila nyeri tidak juga mereda setelah melakukan beberapa cara di atas, Anda bisa mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol.

Selain itu, melansir Parents, ibuprofen juga bisa menjadi pilihan untuk meredakan perdarahan setelah persalinan, mengurangi kram, dan membantu mengatasi nyeri pada perineum.

Namun, sebelum mengonsumsi obat-obatan tertentu, jangan lupa untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter.

Jika vagina sakit setelah melahirkan berlangsung cukup lama, bahkan setelah penggunaan obat pereda nyeri, jangan tunda untuk memeriksakan kondisi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

 

  1. Anonim. 2004. Pain After Childbirth Common, Often Untreated. https://www.webmd.com/parenting/baby/news/20041103/pain-after-childbirth-common-often-untreated. (Diakses pada 11 Mei 2022).
  2. Levine, Hallie. 2020. Vaginal Delivery Recovery. https://www.webmd.com/parenting/baby/recovery-vaginal-delivery. (Diakses pada 11 Mei 2022).
  3. Pevzner, Holly. 2019. Vagina After Birth: What to Expect and How to Soothe the Pain. https://www.parents.com/pregnancy/my-body/postpartum/8-ways-to-make-your-vag-feel-better-after-birth/. (Diakses pada 11 Mei 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi