Terbit: 21 August 2016 | Diperbarui: 9 June 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Masyarakat Indonesia termasuk dalam orang-orang yang cenderung menyukai makanan pedas. Sayangnya, bagi kaum wanita yang sedang menyusui, hobi untuk mengkonsumsi makanan pedas bisa jadi harus ditahan karena dikhawatirkan bisa berpengaruh pada rasa ASI yang nantinya dikonsumsi sang buah hati. Dalam realitanya, apa yang dimakan oleh ibu menyusui memang akan cenderung dirasakan pula oleh sang bayi melalui ASInya. Lantas, apakah ibu harus benar-benar berpuasa mengkonsumsi makanan pedas demi mendapatkan ASI yang tidak terlalu pedas bagi sang buah hati?

Ibu Menyusui Tidak Perlu Khawatir Mengkonsumsi Makanan Pedas

Pakar kesehatan menyebutkan jika makanan yang pedas layaknya sambal atau yang telah ditaburi bubuk cabai ternyata memang bisa mengubah rasa ASI dan bahkan bisa membuat bayi mengalami kolik atau bahkan diare. Namun, sebenarnya kita bisa mencoba mengganti bahan makanan pedas tersebut dengan saus pedas yang diyakini tidak akan memberikan dampak apapun bagi pencernaan bayi. Hanya saja, cobalah untuk mengkonsumsinya sedikit demi sedikit dan lihat dampaknya pada pencernaan bayi. Andai bayi ternyata tetap mengalami masalah pencernaan. Ada baiknya memang konsumsi makanan pedas dihentikan terlebih dahulu selama fase menyusui.

Tak hanya makanan pedas, ada orang tua yang khawatir jika konsumsi kopi yang kaya akan kafein bisa mempengaruhi ASI dan kesehatan bayi. Beruntung, pakar kesehatan menyebutkan jika kopi ternyata masih aman bagi kesehatan sang ibu dan bayinya. Hanya saja, ada baiknya konsumsi kopi dibatasi hanya hingga dua atau tiga cangkir saja setiap harinya.

Untuk menghindari munculnya alergi pada bayi, ada baiknya ibu menyusui membiasakan diri mengkonsumsi makanan layaknya telur dan kacang-kacangan sehingga bayi akan terbiasa dengan nutrisi kedua makanan tersebut. Jika kita menghindari kedua makanan ini, dikhawatirkan sang bayi bisa mengalami kondisi kesehatan kulit berupa eksim karena tidak terbiasa mengkonsumsi telur atau kacang-kacangan sebelumnya.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi