Terbit: 21 March 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Fungsi ginjal dalam tubuh adalah untuk menyaring garam, limbah dan kelebihan cairan dari darah yang akan dikeluarkan melalui urine. Normalnya, urine tidak mengandung zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh seperti protein. Kondisi urine anak yang mengandung protein ini disebut dengan proteinuria.

Proteinuria, Ketika Urine Anak Mengandung Protein Tinggi

Penyebab proteinuria pada anak

Proteinuria merupakan kondisi umum yang terjadi pada anak-anak. Jika ditemukan protein pada urine anak Anda, ada kemungkinan bagian ginjal yang disebut glomeruli tidak bekerja dengan baik. Hal ini bisa disebabkan oleh radang, bengkak, infeksi atau terkena bahan kimia.

Gejala proteinuria pada anak

Dilansir dari Live Strong, salah satu cara mudah untuk mendeteksi proteinuria pada anak adalah dengan melihat kondisi urinenya. Urine yang mengandung protein biasanya sedikit berbusa.

Proteinuria umumnya tidak menyebabkan rasa sakit, namun dapat membuat kaki, pergelangan kaki dan kelopak mata anak Anda menjadi bengkak. Pembengkakan ini disebut edema, yaitu akumulasi cairan dalam jaringan yang umumnya disebabkan oleh penggunaan obat tertentu, atau retensi garam.

Pengobatan proteinuria

Proteinuria sebenarnya bukanlah penyakit tertentu. Karena itu pengobatannya pun tergantung pada penyebab munculnya protein di dalam urine. Apabila proteinuria disebabkan oleh infeksi, kondisi ini umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah infeksi diobati.

Ada juga jenis proteinuria ortostatik, yaitu kondisi dimana proteinuria tidak dapat terdeteksi di pagi hari karena protein berlebih akan ada di urine pada waktu tubuh banyak beraktivitas. Kondisi ini pun tidak berbahaya dan tidak menggangu pertumbuhan anak.

Jika proteinuria menyebabkan edema yang cukup parah, maka sebaiknya Anda memeriksakan anak Anda ke spesialis ginjal untuk menentukan penyebab spesifiknya. Dikutip dari WebMD, gangguan fungsi ginjal jika dibiarkan dapat memicu kerusakan ginjal permanen.

Selain berkonsultasi dengan dokter, Anda dapat mengubah gaya hidup anak Anda dengan mengurangi konsumsi garam dalam makanan. Hindari makanan yang mengandung pengawet dan junk food yang banyak mengandung garam.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi