Terbit: 12 April 2018 | Diperbarui: 21 July 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Autism spectrum disorder atau yang sering dikenal dengan istilah sindrom autisme adalah gangguan neurologis yang menyebabkan anak memiliki kelainan cara berkomunikasi baik verbal maupun non verbal, serta gangguan perilaku. Banyak mitos yang beredar di masyarakat mengenai kondisi dan penyebab anak autis. Benarkah mitos-mitos tersebut?

5 Mitos Tentang Anak Autis yang Perlu Diketahui

Mitos tentang anak autis


1. Imunisasi menyebabkan anak autis

Mitos imunisasi dapat menyebabkan anak autis berkembang sejak tahun 1998 ketika sejumlah peneliti Inggris dalam sebuah makalah menyebutkan bahasa vaksin campak rubella (MMR) dapat menyebabkan anak autis. Saat itu, secara bersamaam terjadi peningkatan pesat dalam anak yang didiagnosis autisme.

Temuan tersebut membuat peneliti lain melakukan penelitian serupa untuk meneliti hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Pada tahun 2004, sebuah badan kesehatan yang menangani keselamatan imunisasi mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa bahwa tidak ada bukti kuat bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

2. Anak autis memiliki kecerdasan di atas rata-rata
Banyak masyarakat beranggapan bahwa anak autis pasti jenius. Faktanya, setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang berbeda, termasuk anak dengan autisme. Kecerdasan anak dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah stimulus yang tepat dari orang tua. Dengan stimulus dan latihan yang serius, setiap anak bisa menjadi cerdas, termasuk anak dengan autis.

3. Anak autis tidak bisa hidup mandiri

Anak autis dengan terapi dan latihan yang tepat akan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga bisa dikatakan bahwa anak autis mampu hidup mandiri. Pada beberapa kasus, anak autis juga bisa berkembang dengan baik dan bekerja seperti anak yang normal.

4. Anak autis tidak akan bisa bicara

Sindrom autis dapat terjadi dengan gejala berbeda pada masing-masing anak. Ada yang mengalami kesulitan bicara, dan ada pula yang bisa berbicara dengan kata-kata terbatas. Namun semua anak autis bisa berkomunikasi selama mendapat terapi yang tepat.

5. Autisme hanya terjadi pada anak laki-laki

Autisme lebih rentan terjadi pada anak laki-laki. Hal ini disebabkan karena kelainan pada kromosom X. Anak laki-laki memiliki kromosom XY, sedangkan perempuan memiliki kromosom XX. Jika kromosom X pada anak laki-laki kehilangan salah satu gen atau rangkaian DNA lainnya, ia berisiko mengalami autisme. Sedangkan jika kondisi tersebut terjadi pada anak perempuan, ia masih memiliki kromosom X kedua (XY).

Bagaimana Sobat Sehat, masih percaya dengan mitos seputar anak autis?


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi