Terbit: 2 April 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Asam urat atau uric acid adalah produk sisa yang dihasilkan melalui pemecahan (katabolisme) senyawa purin. Purin adalah senyawa yang mengandung nitrogen yang ditemukan dalam sel-sel tubuh, termasuk DNA kita. Pemeriksaan uric acid bisa disebut juga dengan pemeriksaan asam urat.

Uric Acid: Definisi, Nilai Normal, dan Nilai Tidak Normal

Pemeriksaan ini dapat diukur melalui indikator dalam darah atau urine. Dalam artikel ini Anda juga diajak untuk mengenal lebih lanjut apa itu uric acid, seperti apa prosedur pemeriksaan uric acid, berapa nilai normal uric acid, dan apa artinya jika uric acid tinggi dan rendah.

Apa Itu Uric Acid?

Uric acid adalah pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium dengan tujuan untuk mengetahui kadar uric acid pada tubuh seseorang.  Ada 2 macam pemeriksaan asam urat yaitu pemeriksaan melalui darah dan melalui urine.

Kadar asam urat darah yang tinggi dapat menyebabkan kristal asam urat pada sendi sehingga menyebabkan peradangan pada persendian. Selain melalui darah, pemeriksaan asam urat juga dapat dilakukan melalui urine.

Asam urat yang diproduksi oleh tubuh kita akan disaring oleh ginjal dan dibuang melalui urine. Sehingga kadar asam urat yang rendah dalam urine dapat mencerminkan kesehatan ginjal yang kurang baik. Selain itu, asam urat yang tinggi dalam urine juga berbahaya karena asam urat dapat membentuk kristal sehingga menyebabkan batu ginjal.

Hasil pemeriksaan uric acid test dinyatakan dengan satuan mg/dL atau mikromol/L. Hasil uric acid menggambarkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi uric acid  di dalam tubuh.

Berikut ini adalah beberapa fungsi uric acid test pada darah dan urine:

  1. Mengukur nilai uric acid (asam urat)
  2. Mendiagnosis penyakit asam urat (gout)
  3. Mendiagnosis keberadaan batu ginjal
  4. Memantau nilai asam urat pada penderita asam urat
  5. Memantau pasien pasca tindakan kemoterapi
  6. Mengukur kemampuan ginjal dalam menyeimbangkan produksi dan ekskresi uric acid

Prosedur Pemeriksaan Uric Acid

Berikut ini adalah prosedur pemeriksaan kadar uric acid:

1. Proses pengambilan sampel darah

Pasien yang akan menjalani uric acid test perlu melewati prosedur pengambilan sampel darah. Sampel darah diambil lewat pembuluh darah vena di lengan. Sebenarnya, pemeriksaan uric acid tidak membutuhkan persiapan tertentu.

Efek samping prosedur pengambilan darah adalah memar atau hematoma pada tempat suntikan, yang dapat menghilang dalam waktu kurang lebih 3 hari-5 hari.

2. Proses pengambilan sampel urine

Pemeriksaan asam urat urine dilakukan dengan menampung sampel urine selama 24 jam menggunakan kantong steril yang sudah disediakan dari laboratorium.

3. Pemeriksaan uric acid darah dan urine di laboratorium

Sampel darah dan urine yang sudah tersedia akan diberikan label keterangan. Prosedur selanjutnya di dalam pemeriksaan uric acid adalah pengukuran kadar asam urat pada  darah dan urine di laboratorium.

Pengukuran nilai uric acid bisa dilakukan dengan dua metode, yaitu metode stik dan metode enzimatik. Metode stik memerlukan strip dan alat Nesco Multicheck. Prinsip metode stik ini adalah penggunaan katalis bersama teknologi biosensor untuk mengukur konsentrasi uric acid.

Kelebihan metode stik pada tes uric acid adalah membutuhkan sampel darah yang lebih sedikit. Selain itu, waktu yang diperlukan untuk mendapatkan nilai uric acid relatif lebih cepat. Pada metode enzimatik, uric acid akan dipecah menjadi allantoin dan hidrogen peroksida.

Selanjutnya, hasil pecahan tersebut diberikan enzim perosidase dan zat lainnya sehingga membentuk zat berwarna merah. Intensitas warna merah pada zat yang baru terbentuk sebanding dengan konsentrasi asam urat.

Faktor yang Memengaruhi Akurasi Hasil Tes Asam Urat

Hasil pemeriksaan kadar uric acid pada darah dan urine memang tidak selalu akurat. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor yang memengaruhi tingkat akurasi hasil uric acid test.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang memengaruhi tingkat akurasi hasil uric acid test:

  • Tahap pra analitik
    1. Identitas pasien
    2. Persiapan pasien
    3. Cara pengambilan sampel
    4. Jenis sampel
    5. Alat dan bahan pemeriksaan
  • Tahap analitik
    1. Tingkat keterampilan analis laboratorium yang memeriksa uric acid
    2. Proses penanganan sampel
    3. Metode yang digunakan
  • Tahap pasca analitik
    1. Pembacaan hasil
    2. Pencatatan hasil
    3. Pelaporan hasil
    4. Interpretasi hasil dengan identitas pasien

Nilai Normal Uric Acid

Nilai normal uric acid tentunya harus diketahui. Nilai tersebut akan dijadikan sebagai acuan terhadap hasil uric acid test pada pasien. Konsentrasi asam urat di dalam darah memiliki nilai yang berbeda tergantung pada usia dan jenis kelamin pasien.

Menurut data yang didapatkan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), nilai normal uric acid pada beberapa kategori usia bisa dilihat di bawah ini:

  1. Anak-anak 1-10 tahun      : 1,9-5,4 mg/dL
  2. Anak usia 10-18 tahun      : 3,5-7,3 mg/dL
  3. Wanita dewasa                 : 2,9-7,5 mg/dL
  4. Pria dewasa                     : 3,6-8,4 mg/dL

Kisaran nilai normal uric acid tidak sama pada semua laboratorium. Akan tetapi, selisih perbedaan angka pada nilai normal tersebut hanya sedikit.

Apabila Uric Acid Tinggi

Kadar asam urat darah yang lebih tinggi dari nilai normal disebut juga dengan hiperurisemia. Hiperurisemia disebabkan oleh produksi asam urat yang berlebihan, penurunan ekskresi/pembuangan asam urat, atau gabungan dari keduanya. Nilai uric acid tinggi tidak boleh dianggap remeh karena merupakan indikasi beberapa masalah medis atau hal lain, yaitu:

1. Konsumsi makanan tinggi purin

Konsumsi makanan yang tinggi purin seperti jeroan, hati, otak, daging sapi, ikan teri, ikan sarden, kacang-kacangan, teh dan kopi dapat meningkatkan produksi asam urat sehingga kadar asam urat darah dapat meningkat.

2. Penyakit gout

Kadar asam urat yang tinggi dapat menyebabkan penyakit gout. Gout ditandai dengan peradangan sendi, terutama pada ibu jari kaki. Gejala gout yang paling sering adalah dengan nyeri hebat pada persendian, dengan intensitas nyeri yang lebih hebat pada pagi hari atau setelah beraktivitas.

3. Penyakit Ginjal

Beberapa penyakit ginjal seperti batu ginjal dan renal insufficiency mengakibatkan turunnya kemampuan ginjal untuk menyaring dan membuang asam urat, sehingga kadar asam urat darah tinggi. Peningkatan asam urat tersebut dapat membentuk kristal yang dapat mengakibatkan  peradangan pada persendian.

4. Kemoterapi

Pasien yang memiliki penyakit kanker dan menjalankan kemoterapi akan mengalami peningkatan produksi uric acid sehingga nilai uric acid tinggi.

Apabila Uric Acid Rendah

Tes uric acid pada serum darah dan urine juga bisa menunjukkan nilai yang lebih rendah dari nilai normal uric acid. . Nilai uric acid yang rendah menunjukkan adanya beberapa masalah medis, yaitu:

1. Kurang konsumsi makanan yang mengandung purine

Seperti yang telah dijelaskan di atas, asam urat terbentuk dengan cara memecah purine. Oleh karena itu, makanan yang mengandung tinggi purin akan menyebabkan meningkatnya kadar asam urat. Sebaliknya, kurangnya konsumsi makanan yang mengandung purin akan mengakibatkan kadar asam urat yang rendah.

2.  Wilson’s disease

Wilson’s disease adalah penyakit genetik, dimana tubuh tidak dapat membuang zat logam tembaga sehingga menyebabkan penumpukan zat tersebut dan kerusakan sel hati. Salah satu tanda dari penyakit ini adalah ditemukan kadar asam urat yang rendah pada pemeriksaan darah.

3. Efek samping obat-obatan

Beberapa obat-obatan yang pernah dilaporkan dapat menyebabkan rendahnya kadar asam urat adalah probenecid, salisilat, esterogen dan phenylbutazone.

 

 

Sumber:

    1. LabTestsOnline: Uric Acid. https://labtestsonline.org/tests/uric-acid [diakses pada 2 April 2019]
    2. CDC: Uric Acid (Laboratory Procedure Manual). https://wwwn.cdc.gov/nchs/data/nhanes/2011-2012/labmethods/biopro_g_met_uric-acid.pdf [diakses pada 2 April 2019]
    3. Unimus: Tinjauan Pustaka (Asam Urat). http://repository.unimus.ac.id/409/3/BAB%20II.pdf [diakses pada 2 April 2019]
    4. Unila: Tinjauan Pustaka (Hiperurisemia). http://digilib.unila.ac.id/6605/11/BAB%20II.pdf [diakses pada 14 Mei2019]

DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi