Terbit: 30 November 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Diet GAPS atau GAPS diet adalah pola makan yang menghilangkan beberapa makanan tertentu dalam asupan sehari-hari. Pola makan ini dipercaya dapat mengobati kondisi yang memengaruhi otak, seperti autisme dan disleksia. Apakah cara ini terbukti efektif? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Mengenal Diet GAPS, Pola Makan yang Dipercaya Bantu Atasi Autisme

Apa itu Diet GAPS?

GAPS adalah singkatan dari gut and psychology syndrome. Istilah ini dibuat oleh Dr. Natasha Campbell-McBride. Inti dari diet ini adalah menghindari makanan yang sulit dicerna dan merusak flora/lapisan usus, serta menggantinya dengan makanan kaya nutrisi yang membantu usus sembuh.

Menurut teori GAPS, usus yang bocor melepaskan bakteri dan racun berbahaya ke dalam aliran darah, yang kemudian berjalan ke otak dan mengganggu fungsi otak.

Teori tersebut mengatakan bahwa menghilangkan makanan yang merusak usus dapat membantu mengobati kondisi seperti autism spectrum disorder (ASD), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan disleksia.

Meskipun ada penelitian yang mengungkapkan terdapat kaitan antara otak dan usus, terutama untuk kondisi seperti kecemasan dan depresi, namun bukti ilmiah yang mendukung diet GAPS belum kuat. Meski begitu, beberapa orang ada yang merasakan manfaat saat melakukan pola diet ini.

Dr Campbell-McBride meyakini bahwa seorang anak mengembangkan autisme karena gizi buruk dan sindrom usus bocor. Dia mengklaim bahwa diet GAPS dapat ‘menyembuhkan’ atau memperbaiki gejala autisme.

Baca Juga: Diet Ketofastosis: Manfaat, Cara, Efek Samping

Kondisi yang Ditargetkan oleh GAPS Diet

Dr. Campbell-McBride awalnya merancang diet ini dengan tujuan untuk mengobati autisme yang terjadi pada anaknya. Beberapa orang juga menggunakannya sebagai terapi alternatif untuk berbagai kondisi psikologis dan perilaku, seperti:

  • Dispraksia.
  • Epilepsi.
  • Depresi.
  • Skizofrenia.
  • Gangguan bipolar.
  • Obsessive-compulsive disorder (OCD).
  • Gangguan makan.
  • Intoleransi dan alergi makanan.

Tujuan awal diciptakannya diet ini adalah untuk membantu anak-anak dengan gangguan perilaku dan suasana hati. Namun, cara ini sering digunakan untuk oleh orang dewasa untuk memperbaiki masalah pencernaan.

Baca Juga: Diet Gluten Free: Aturan, Manfaat, Efek Samping, dll

Menu Diet GAPS

Sebelum menjalankan menu GAPS diet, Anda harus menghindari konsumsi biji-bijian, gula, kedelai, susu pasteurisasi, sayuran bertepung, dan makanan olahan.

Berikut adalah tiga tahap dalam menjalankan diet ini, di antaranya:

1. Diet Pengenalan

Dr. Campbell-McBride merekomendasikan agar banyak orang mengikuti diet pendahuluan sebelum memulai diet ini secara lengkap.

Meskipun sangat ketat, fase ini bertujuan untuk menyembuhkan usus dan mengurangi masalah pencernaan dengan cepat. Metode ini bisa berlangsung dari beberapa minggu hingga 1 tahun.

Diet pengenalan memiliki enam tahap progresif. Setiap tahap memperkenalkan makanan baru tetapi makanan dalam setiap tahap bersifat individual untuk setiap orang.

Seseorang tidak boleh lanjut ke tahap berikutnya jika muncul gangguan pencernaan, seperti:

  • Diare.
  • Perut kembung.
  • Sembelit.
  • Sakit perut.

Tahap 1

Pada tahap 1, diet terdiri dari:

  • Kaldu daging buatan sendiri.
  • Daging atau ikan rebus.
  • Sayuran yang dimasak dengan baik.
  • Probiotik, seperti sayuran yang difermentasi, yogurt/kefir, dan whey fermentasi buatan sendiri.
  • Teh jahe atau chamomile dengan madu.
  • Purified water.

Tahap 2

Pada tahap 2, beberapa tambahan makanan adalah:

  • Kuning telur yang berasal dari telur organik.
  • Casserole dibuat dengan daging dan sayuran.
  • ikan fermentasi.
  • Ghee buatan sendiri.

Tahap 3

Pada tahap 3, tambahkan makanan berikut:

  • Alpukat.
  • Asinan kubis dan sayuran fermentasi.
  • GAPS pancake.
  • Telur orak-arik yang dibuat dengan ghee, goose fat, atau duck fat.
  • Suplemen probiotik.

Tahap 4

Pada tahap 4, tambahkan makanan berikut:

  • Daging panggang.
  • Cold-pressed olive oil.
  • Jus wortel segar.
  • GAPS milkshake.
  • Roti GAPS.

Tahap 5

Pada tahap 5, tambahkan makanan berikut:

  • Puree apel.
  • Sayuran mentah, seperti selada dan timun kupas.
  • Cold pressed juice.

Tahap 6

Pada tahap 6, tambahkan makanan berikut:

  • Apel yang sudah dikupas.
  • Buah mentah.
  • Tambahkan madu.
  • Makanan panggang yang dimaniskan dengan buah kering.

Setelah menyelesaikan diet pendahuluan, banyak orang beralih ke diet GAPS lengkap.

2. Diet GAPS Lengkap

Tahap ini berlangsung 18-24 bulan tetapi bersifat individual dan mungkin memerlukan lebih sedikit waktu untuk beberapa orang.

Makanan GAPS yang dapat diterima meliputi:

  • Telur.
  • Daging, ikan, dan kerang (hanya segar atau beku).
  • Sayur dan buah segar.
  • Bawang putih.
  • Lemak alami, seperti minyak zaitun, minyak kelapa, dan ghee.
  • Kacang dalam jumlah sedang.
  • Makanan panggang GAPS dibuat menggunakan tepung kacang.

Diet GAPS juga merekomendasikan agar seseorang:

  • Sering mengonsumsi makanan organik sesering mungkin.
  • Hindari semua makanan olahan dan kemasan.
  • Rutin mengonsumsi makanan fermentasi.
  • Menambahkan kaldu tulang setiap kali makan.
  • Hindari makan buah saat makan.
  • Menggabungkan semua makanan berprotein dengan sayuran, yang menurut teori akan menjaga tingkat keasaman tubuh tetap normal.

3. Fase Pengenalan Kembali

Tahap akhir dari diet GAPS adalah kembali ke tahap pengenalan makanan seperti di awal, namun dilakukan berjenjang selama beberapa bulan.

Diet dimulai dengan kentang dan biji-bijian yang difermentasi. Mulailah dengan porsi kecil dan secara bertahap tingkatkan jumlah makanan, selama tidak ada masalah pencernaan yang muncul. Lanjutkan proses ini dengan mengonsumsi sayuran bertepung, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Setelah menyelesaikan diet GAPS, banyak orang terus menghindari makanan olahan.

 

  1. Eske, Jamie. 2019. What is the GAPS diet? A complete overview. https://www.medicalnewstoday.com/articles/325046. (Diakses pada 30 November 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi